gkdi lagu

Pernikahan yang bahagia adalah idaman setiap pasangan. Saat pendeta bertanya di atas altar, “Apakah Anda berjanji hanya maut yang akan memisahkan?” kedua mempelai tidak minta diberi waktu untuk berpikir dahulu. Mereka akan menjawab “ya” dengan penuh keyakinan.   

Namun, setelah mengarungi bahtera rumah tangga selama beberapa waktu, jawaban itu mulai goyah. Hari-hari menjadi kelabu, tanpa canda-tawa, kemesraan, dan obrolan hangat antara suami-istri. Tiap malam terasa sepi, tidur saling memunggungi, tidak ada lagi belaian kasih sayang. Sulit bicara dari hati ke hati. Rasanya pasangan semakin menjauh dan tak tersentuh.

Dalam kesendirian, pertanyaan itu pun muncul: apakah berpisah adalah solusi terbaik? Mungkinkah merekatkan kembali hubungan yang retak, dan bagaimana caranya?

Harapan Itu Ada

Di masa pacaran, ketika sedang dimabuk cinta, dunia terasa indah. Pujaan hati tampak sempurna, kelemahannya nyaris tidak terlihat. Ia begitu ideal untuk dijadikan pasangan hidup. Kendala apa pun yang mengadang akan diterjang, tak peduli itu gunung atau lautan. 

Setelah menikah, banyak orang bertanya-tanya, ke mana perginya perasaan berbunga-bunga itu? Mengapa hidup terasa hambar, bahkan menyiksa? Seharian bersama anak di rumah, istri bisa tertawa. Namun, saat suami pulang, bukannya makin ceria, suasana rumah malah menjadi tegang. Bicara hanya seperlunya, itu pun seputar fakta keseharian. Keduanya lupa kapan terakhir kali membicarakan perasaan dengan pasangan. 

Status masih suami-istri, tinggal serumah, tetapi hati tak lagi saling menyapa. Mereka bertahan bukan karena cinta, melainkan karena pertimbangan lain. Mau cerai, malu dengan keluarga, takut berdosa kepada Tuhan, takut kehilangan hak asuh atas anak, dan lain-lain. Namun, membayangkan hari-hari semacam ini berlangsung bertahun-tahun ke depan membuat Anda ingin menyerah saja. Ibarat rumput yang tumbuh di atas batu, hidup segan, mati pun tak mau.

Kabar baiknya, masih ada harapan bagi pasangan yang bergumul dalam situasi seperti ini. 

Tanyakan Diri Sendiri Terlebih Dahulu

Banyak orang bertanya, apakah saya memilih pasangan yang tepat? Namun, tidak banyak yang bertanya, apakah saya sudah menjadi pasangan yang baik? Jika pernikahan Anda di ambang keretakan, lemparkan pertanyaan pamungkas ini kepada diri sendiri dahulu. Dari sekian banyak orang, suami / istri memilih Anda; tentu karena ia merasa Anda adalah calon pendamping hidup yang baik.

Humor mengatakan, ketika sepasang kekasih hendak menikah, yang wanita berharap sang pria akan berubah, sedangkan yang pria berharap sang wanita tidak akan berubah. Sayangnya, setelah menikah, baik pria maupun wanita akhirnya sama-sama kecewa dengan pengharapan mereka. 

Hidupkan Kembali Kebiasaan Baik

Para istri, ingatkah sikap-sikap manis Anda saat pacaran dahulu? Menjadi pendengar yang baik, penuh perhatian, memberikan dukungan saat dibutuhkan, hal-hal inilah yang membuat suami nyaman. Setelah menikah dan punya anak, apakah Anda masih melakukannya? Para suami, ingatkah sisi romantis Anda yang membuat pasangan jatuh cinta? Setelah berkeluarga, masihkah Anda bersikap lembut dan hormat?

Kembalilah kepada kebiasaan-kebiasaan baik yang terlupakan itu. Dengarkan dengan penuh perhatian saat pasangan bicara. Berikan masukan saat diminta. Pujilah hal baik yang dilakukan pasangan, alih-alih selalu mengkritik kekurangannya. Tunjukkan rasa kagum dan beri dukungan dengan kata-kata positif. Dan, jangan abaikan perawatan diri agar tetap terlihat menarik di mata pasangan.

Meski kondisi Anda kini berbeda karena adanya anak dan tanggung jawab ekstra, itu bukan alasan untuk mengabaikan pasangan. Setelah Tuhan, suami adalah prioritas istri, dan istri adalah prioritas suami, bukan anak, apalagi pekerjaan yang tidak ada habisnya. Berikan waktu dan perhatian Anda kepada pasangan. Katakan kepadanya bahwa Anda sedang berusaha menjadi istri / suami yang lebih baik baginya.

Dengan menerima kondisi pasangan dan mengakui kekurangannya, seorang istri akan mengurangi tuntutan terhadap suami, dan demikian sebaliknya. Tidak lagi mempertanyakan apakah ia sudah menjadi pasangan yang baik, tetapi justru membenahi diri sendiri dahulu. Berkat kerendahan hati Anda, niscaya Tuhan pun bekerja mengubahkan hati pasangan Anda. 

Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya. – 1 Petrus 3:1

Bekerja Sama dengan Pasangan

Ketika ketegangan mereda karena salah satu pihak melakukan perannya dengan baik, jalan menuju perbaikan hubungan akan terbuka. Langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang bisa menghidupkan kembali rasa cinta Anda berdua. 

Asmara yang bergejolak di masa pacaran memang tidak akan terulang lagi. Jangan berharap Anda akan terus berada di fase tersebut. Api cinta yang Anda butuhkan tidak perlu berkobar-kobar seperti si jago merah yang menghanguskan hutan. Ibarat api kecil dalam tungku, cinta yang terus menyala dan menghangatkan seisi rumah itu sudah cukup bagi Anda.

Api di tungku itu akan padam apabila dibiarkan. Namun, ia bisa senantiasa menyala, asalkan Anda rajin membersihkan tungkunya, menambahkan kayu, menuangkan minyak, dan menjaga nyala apinya. Api tidak akan otomatis menyala selamanya; Anda harus menambahkan kayu bakar dan sesekali menggeser letak tumpukannya agar kobaran itu tidak padam.

Demikian pula, Anda dan suami perlu melakukan hal-hal yang membangun dan menumbuhkan cinta. Komunikasi yang baik, kebersamaan yang disengaja / dijadwalkan, penyelesaian konflik dengan sikap vulnerable (kerentanan), inilah yang akan menyalakan api di tungku cinta Anda berdua. Buatlah kesepakatan baru dengan pasangan terkait hal-hal ini, dan usahakan saling menolong dalam melakukannya agar harapan Anda terwujud.

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. – Galatia 6:2

Pernikahan, Sarana Menuju Hidup yang Lebih Baik

Ketika diciptakan, Adam tidak meminta kepada Tuhan agar diberikan istri. Tuhanlah yang berinisiatif memberikan Hawa kepadanya. Menurut Tuhan, itu akan menjadikan Adam manusia yang lebih baik. Dengan kata lain, kondisi orang yang sudah menikah seharusnya lebih baik dibanding saat masih single.

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” – Kejadian 2:18

Dengan menjalaninya berdua, hidup seseorang menjadi lebih baik. Anda lebih bersukacita, lebih sabar, lebih dewasa, lebih tertib, dan tentunya lebih bersemangat menjalani hidup. Mengapa? Karena, Anda memiliki seseorang untuk dicintai, berbagi hidup, serta saling mengisi dan menguatkan. 

Tuhan merancangkan pernikahan untuk manusia agar hidupnya lebih baik. Jika setelah menikah hidup Anda menjadi lebih buruk, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam pernikahan Anda. Mulailah berbenah dari diri sendiri, lalu bekerjasamalah dengan pasangan untuk menghidupkan kembali api di tungku cinta Anda berdua. Selamat menikmati pernikahan yang Tuhan rancangkan. Amin. 

Gereja GKDI memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di 35 kota. Jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: