Cerita cinta barangkali menjadi salah satu kenangan terbaik masa muda. Saya pribadi masih ingat cerita cinta monyet semasa SMP dengan salah seorang senior saya. Ia tampan, pintar, ramah, suka menolong, dan berhati lembut. Setiap melihatnya, muncul gejolak dalam hati saya. Namun, bertahun-tahun kemudian, perasaan saya terhadap kakak senior itu menjadi biasa saja.

Sering kali, cerita cinta kita berakhir hanya pada sebatas kekaguman dan perasaan sementara yang tak mampu bertahan lama. Jika demikian, kriteria seperti apa yang perlu kita gunakan untuk mendapatkan cinta sejati?

Jodoh yang Seimbang (Kejadian 24:1-61)

cerita - gkdi 1

Ishak adalah anak perjanjian antara Allah dan Abraham yang lahir ketika ia berusia 100 tahun. Memasuki usia senja, tentulah Abraham mengharapkan pendamping hidup terbaik bagi Ishak.

Di sinilah, Abraham dihadapkan pada sebuah dilema: apakah ia akan menikahkan Ishak dengan orang Kanaan? Pada zaman itu, pernikahan seseorang tidak hanya memengaruhi keluarganya, tapi juga seluruh suku dan keturunannya kelak. Ia tahu cara hidup orang Kanaan tidak sesuai dengan firman Tuhan. Namun, dengan sanak saudara yang tinggal ratusan kilometer jauhnya dari kediaman mereka, bagaimana ia bisa mencarikan jodoh untuk putranya?

Sebagai solusi, Abraham mengambil sumpah dari hambanya, Eliezer (berdasarkan interpretasi Kejadian 15:2), untuk mengambil seorang istri bagi Ishak dari kaum keluarganya yang percaya kepada Allah. Berdasarkan kisah pencarian Eliezer, kita dapat memetik tiga prinsip dalam memilih pasangan hidup:

Prinsip 1: Pilihlah yang Seiman

cerita - gkdi 2

Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? – 2 Korintus 6:14

Orang-orang muda biasanya punya kriteria pasangan hidup yang mereka idamkan. Entah itu tampan, cantik, tinggi, langsing, penuh pengertian, punya pekerjaan bagus, rumah, mobil, dan lain-lain. Namun, sering kali kita melupakan hal yang paling penting dalam membangun sebuah hubungan: kesamaan visi dan misi.

Memilih pasangan yang seiman adalah langkah awal membangun keluarga yang diberkati Tuhan. Coba renungkan, apakah cerita cinta Anda, baik yang telah berlalu maupun yang sedang dijalani, sudah didasarkan pada prinsip ini? Tentunya Anda tidak mau salah pilih, sehingga harus menghabiskan sisa hidup Anda dengan orang yang tidak taat atau tidak percaya kepada Allah. Pikirkan: siapkah saya menerima resikonya?

Prinsip 2: Ambil Langkah dan Doakan dengan Detail

cerita - gkdi 3

Perjalanan panjang ditempuh Eliezer dengan membawa sepuluh ekor unta dan berbagai benda berharga dari Abraham. Ketika ia beristirahat dan merenungkan misinya, Eliezer berdoa:

“TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum–dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” – Kejadian 24:12-14

Seorang teman memberitahu saya bahwa ia ingin punya pacar. Namun, ia malu untuk berkenalan dan membangun hubungan dengan lawan jenis. Ia tidak siap dikenal dan mengenal lebih dalam calon pasangannya. Ia lebih suka menutup diri karena merasa nyaman dengan kondisi tersebut. Alhasil hingga sekarang ia masih berada di titik yang sama.

Sampai kapan Anda akan berada di zona nyaman? Bermimpi tapi tidak bekerja mewujudkannya? Terapkanlah ora et labora, bekerja dan berdoa. Jika ingin punya pasangan hidup, Anda butuh usaha. Bangunlah rasa percaya diri dan keluarlah dari zona nyaman Anda dengan berkenalan serta bergaul dengan banyak teman. Jangan lupa, berdoalah bagi calon pasangan Anda dengan sungguh-sungguh.

Prinsip 3: Persiapkan Diri untuk Janji Tuhan

cerita - gkdi 4

Singkat cerita, Ishak dan Ribka akhirnya dipersatukan oleh Tuhan. Allah bekerja, menjawab doa Eliezer yang sesuai pengharapan Abraham. Bahkan sebelum Eliezer selesai berdoa, datanglah Ribka, seorang gadis yang cantik, bijak, rajin, dan takut akan Tuhan, yang ayahnya ternyata masih berkerabat dekat dengan Abraham (Kejadian 24:15).

Eliezer pun menemui orang tua Ribka untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Usai mendengarkan cerita Eliezer, ayah dan saudara laki-laki Ribka meyakini bahwa Allah-lah yang menuntun segala sesuatunya (Kejadian 24:51).

Lalu mereka memanggil Ribka dan berkata kepadanya: “Maukah engkau pergi beserta orang ini?” Jawabnya: “Mau.” – Kejadian 24:58  

Ribka percaya pada penyertaan Allah tanpa kata “tapi.” Terlebih, ia mempersiapkan diri agar layak menerima janji Tuhan dalam hidupnya. Kalau doa Anda tentang pasangan hidup belum dijawab, bisa jadi itu karena Anda belum fokus mempersiapkan diri dan masih hidup dalam kekhawatiran. Percayalah, waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik. Fokuslah mempersiapkan diri, memperbaiki karakter Anda, dan teruslah berkarya untuk kemuliaan nama Tuhan.

Akan menjadi apa cerita cinta Anda kelak, semuanya ada di tangan Anda sendiri. Pilihlah pasangan yang seiman, kerjakan bagian Anda, dan bertekunlah dalam doa. Waktu Tuhan selalu yang terbaik, jadi persiapkanlah juga diri Anda sebaik-baiknya. Amin.

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Ingin Jadi Pemimpin Keluarga yang Rohani? Lakukan 3 Hal Ini!

Video inspirasi: