Masa muda adalah merupakan fase ketika para remaja belajar hidup mandiri dan mencari jati diri. Kamu mulai melepaskan diri dari lindungan orang tua atau wali yang lebih dewasa. Mungkin kamu kuliah di kota lain, atau sudah diminta bekerja membantu ekonomi keluarga.

Dalam kurun ini, anak-anak muda mengerjakan dan mengeksplor banyak hal sepuas-puasnya, sebelum menentukan apa yang kelak ingin dicapai dalam hidup. Ada kalanya, kamu menolak campur tangan orang lain. Bukan karena sombong, tetapi karena kamu ingin menjajaki potensi dirimu sepenuhnya agar kelak kamu siap memasuki fase dewasa.

Mungkin karena itulah, masa muda sering dikonotasikan dengan emosi labil, pikiran sempit, dan kecenderungan mudah terpengaruh. Namun, benarkah anak muda tidak bisa menjadi inspirasi bagi orang lain atau tidak bijaksana dalam perbuatannya?

4 Kualitas Yusuf yang Luar Biasa

Yusuf - gkdi 1

Di usianya yang ketujuh belas, ketika dunia Yusuf sedang indah-indahnya—menjadi anak kesayangan, mengenakan jubah indah pemberian ayahnya (Kejadian 37:3)—ia tentu tidak menduga jalan hidupnya akan dipenuhi intrik dan ujian berat.

Karena iri pada kasih sayang ayah mereka terhadap dirinya, saudara-saudaranya membuang Yusuf ke sumur, lalu menjualnya kepada para saudagar Midian. Yusuf pun dibawa ke Mesir (Kejadian 27:36) dan dipekerjakan di rumah Potifar, kepala pengawal Firaun. Di negeri asing yang jauh itu, Yusuf sebatang kara dan tak mengenal seorang pun di sana.

Di Alkitab, tak tercatat apakah Yusuf menangis, merenungi nasib, ketakutan, putus asa, atau menyerah ketika terjebak di sumur dan dijual sebagai budak. Kita hanya tahu bahwa: Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu (Kejadian 39:2).

Inilah 4 kualitas luar biasa yang ditunjukkan Yusuf sebagai anak muda yang beriman:

1. Punya Integritas di Dalam Tuhan

Yusuf - gkdi 2

Ketika bekerja di rumah Potifar, Yusuf tidak mengasihani diri  atau meratapi hidupnya. Tidak malas-malasan, apalagi menyimpan dendam kesumat. Justru, Yusuf menunjukkan kerajinan, kesetiaan, pengabdian, kejujuran, dan integritas yang tinggi di dalam Tuhan.

Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apapun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. – Kejadian 39:6

Bagaimana sikapmu dalam pekerjaan atau studi? Apakah kamu sering datang terlambat ke kantor atau kampus? Tidak menyelesaikan tugas tepat waktu dan bermalas-malasan? Bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, bukan dengan pengabdian dan ketulusan? Tidak jujur atau curang dalam pengerjaannya?

Meskipun kamu masih muda, milikilah integritas dalam bekerja dan belajar. Dengan demikian, kamu menampilkan pribadi Tuhan yang kamu sembah.

Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. – Filipi 1:20

2. Membenci Dosa

Yusuf - gkdi 3

Yusuf menunjukkan penyangkalan dan penguasaan diri yang matang, ketulusan mengabdi, dan rasa takut akan Tuhan ketika istri Potifar membujuknya tidur bersama (Kejadian 39:8-9). Ia mempertaruhkan segalanya untuk menghindari dosa terhadap majikannya dan terhadap Tuhan. Apapun keadaannya dan godaannya, Yusuf tidak ragu untuk hidup suci dan menjaga kekudusan.

Kalau kamu takut kepada Allah, kamu akan memiliki penyangkalan dan penguasaan diri yang baik. Ini akan membuatmu membenci dan menghindari dosa, sekecil apa pun itu.

Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. – Roma 6:13

3. Peduli kepada Sesama

Yusuf - gkdi 4

Kendati dipenjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Yusuf tetap beriman dan berpengharapan kepada Tuhan. Sekalipun rencana dan janji-janji Tuhan tampaknya terasa jauh, Yusuf tidak patah arang.

Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. – Kejadian 39:22

Sepintas, hidup Yusuf berjalan di luar rencananya. Ia dibenci saudara-saudaranya, menjadi budak di negeri orang, difitnah, dan dipenjara—mungkinkah Tuhan bekerja dalam hidupnya yang tampak berantakan itu?

Namun, iman Yusuf tidak goyah. Sebaliknya, ia menunjukkan kepedulian kepada pelayan-pelayan Firaun yang ditahan bersama-sama dengannya di penjara.

Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?” – Kejadian 40:6-7

Saat mengalami kesulitan hidup, masihkah kamu percaya bahwa Tuhan tetap bekerja dalam setiap keadaaan dan masalah? Apakah kamu hanya memikirkan diri sendiri? Ataukah kamu tetap mengasihi dan memperhatikan orang lain?

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. – Kolose 3:17

4. Mengampuni Sepenuh Hati

Yusuf - gkdi 5

Setelah menafsirkan mimpi Firaun dan kedua pegawai istana, Yusuf dibebaskan dari penjara. Di usia tiga puluh tahun, nasibnya berubah. Dari narapidana, ia menjadi orang nomor dua di Mesir (Kejadian 41:46).

Sembilan tahun kemudian, Yusuf kembali bertemu dengan saudara-saudaranya. Berarti dua dekade lebih telah berlalu sejak mereka menjualnya sebagai budak.

Sebagai orang yang berkuasa (Kejadian 42:6), Yusuf bisa membalas dendam dan membuat perhitungan. Ini adalah kesempatan emasnya! Namun, Yusuf memilih mengampuni dan menyambut mereka dengan tangan terbuka. Bahkan, ia menghibur kesepuluh saudaranya yang merasa bersalah terhadapnya.

Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: “Marilah dekat-dekat.” Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: “Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir. Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. – Kejadian 45:4-5

“Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. – Kejadian 50:18-20

Di usia muda, Yusuf membuktikan bahwa ia memiliki integritas dalam bekerja, rasa takut akan Tuhan, kepedulian terhadap sesama, serta hati yang mengampuni. Terlebih, kepada orang-orang yang membuat hidupnya menderita. Lewat Yusuf, Tuhan menunjukkan bahwa Dia sanggup mengubah dukacita menjadi sukacita. Mengubah hidup yang tampaknya hancur menjadi hidup penuh kelimpahan.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. – 1 Timotius 4:12

Kisah Yusuf membungkam semua persepsi negatif tentang anak muda. Mari kita teladani kualitas-kualitas pribadinya. Jangan jadikan usia muda sebagai excuse atau kendala untuk memuliakan Tuhan. Kita juga bisa seperti Yusuf!

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: 3 Nasihat Bijak dari Zaman Sekolah

Video inspirasi: