Will You Marry Me?

“Will you marry me?”

Berapa banyak dari kita semua yang pernah mengalami momen itu dan masih merasakan indahnya kenangan tersebut? Masih ingatkah perasaan gugup, debaran hati yang berbunga-bunga, dan keharuan yang dialami saat momen kalimat ini diucapkan? Seseorang yang membuat kita merasa diterima apa adanya, dikasihi, didukung, dan sebagainya sehingga akhirnya kita berani membuat sebuah pilihan untuk hidup bersama orang tersebut untuk selamanya.

Lalu, saat ini mungkin pernikahan Anda berusia beberapa bulan, beberapa tahun, atau puluhan tahun. Apakah cara Anda memandang pasangan masih sama seperti saat dimana momen “will you marry me” tersebut berlangsung? Ataukah Anda sedang dalam keheranan bagaimana seseorang yang dahulu Anda lihat begitu tepat, sekarang hanya tampak sebagai seseorang yang begitu punya banyak kesalahan dan bahkan mungkin menyakiti hati Anda?

Jika saat ini posisi Anda seperti gambaran di atas, izinkan saya mengingatkan bahwa siapapun pasangan yang Anda nikahi dahulu dan sampai saat ini masih merupakan seorang pendosa. Tuhan sendiri telah memberi tahu kita dalam Firman-Nya di Roma 3:23, yaitu :

“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”

Jadi, Tuhan pun tidak pernah mengatakan bahwa pasangan hidup kita adalah orang tanpa cela. Tetapi, prakteknya yang sering terjadi adalah banyak orang memasuki pernikahan dengan harapan bahwa hidupnya akan lebih bahagia, dikasihi, dimengerti, dan sederet pemikiran yang sebenarnya mengarah kepada “aku” alias apa yang bisa saya dapatkan secara tak langsung. Padahal, perspektif yang seharusnya kita miliki ketika memasuki hidup pernikahan adalah bagaimana Anda bisa hidup dengan kelemahan-kelemahan orang tersebut sepanjang sisa hidup Anda dan apa yang dapat Anda lakukan untuk membantu pasangan Anda mengatasi kelemahan tersebut? Pemikiran seperti ini akan membantu Anda untuk bisa lebih realistis, lebih bisa menerima kesalahan yang dilakukan pasangan, sekaligus lebih tidak egois karena pemikiran ini mengarahkan Anda untuk memberi alih-alih menuntut agar apa yang Anda mau terpenuhi.

Tak ada pernikahan manapun yang langsung dapat mengubah seorang pendosa menjadi malaikat. Dosa itu tetap ada dan bagaimana seorang individu secara serius mengambil keputusan untuk mematikan keinginan-keinginan dagingnya bergantung dari seberapa besarnya tekad untuk hidup benar di mata Tuhan, daripada hanya keinginan untuk menjadi pasangan yang baik. Karena keinginan untuk menjadi pasangan yang baik bisa luntur saat salah satu pihak sedang tersakiti, tidak terpenuhi kebutuhannya, serta banyak lagi hal lainnya. Tetapi jika hidup benar di mata Tuhan sangat penting di dalam hati seseorang, maka terlepas dari apapun statusnya, ia akan mengambil langkah untuk dapat:

  • Mengasihi Tuhan dan Firman-Nya yang sekaligus merupakan panduan kehidupan.
  • Menumbuhkan respek terhadap sesama lewat perkataan, tindakan, dan sebagainya.
  • Mengenali dan menyalibkan dosa/keinginan-keinginan daging yang dapat memisahkan dia dari Tuhan.
  • Memperbaiki caranya merespon terhadap rasa sakit, kekecewaan, amarah, kesedihan yang dapat diakibatkan dari kesulitan hidup.
  • Mengejar kebijaksanaan Tuhan, bukan kesempurnaan.

Bayangkan bila masing-masing individu memiliki kesadaran dan melakukan hal-hal di atas, berapa banyak kesedihan, kepahitan, perpecahan, dan masalah dalam pernikahan yang dapat diminimalisasi? Saat ini, dimanakah kedudukan Anda? Apakah Anda adalah individu yang memandang bahwa hidup benar di mata Tuhan sangat penting? Hal-hal apa yang telah dilakukan untuk menambahkan keakraban hubungan Anda dengan Tuhan? Apakah cara Anda merespon terhadap rasa sakit, masalah, dan hal sejenisnya sudah lebih baik?

Mungkin juga sebaliknya, yaitu dimana saat ini Anda sedang menitikberatkan pada kesalahan-kesalahan yang dilakukan pasangan, berusaha “memperbaiki” pasangan alih-alih menolongnya dengan cara yang membangun, menuntut agar pasangan memenuhi apa yang Anda harapkan, atau bahkan sudah terlalu lelah untuk melakukan apapun untuk pernikahan Anda? Satu hal yang penting untuk diingat, bahwa ego hanya akan memperparah keadaan dan apa yang Anda anggap benar belum tentu berlaku bagi pasangan Anda. Jika hal-hal seperti ini yang Anda alami, segeralah cari bantuan untuk pernikahan Anda dan kembalilah pelajari serta bangun fondasi dari Firman Tuhan…karena semua petunjuk ada disana. Seperti yang dikatakan dalam Matius 24:35 :

“Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Desain Awal Tuhan tentang Pernikahan