Written by Boundaries of Marriage by Henry Cloud and John Townsend 4:36 pm Devotionals, Marriage, Relationship • One Comment

What You Value is What You’ll Have [Love of Your Spouse] – Part 3

mengasihi-pasangan

Sudah sangat sering kita mendengar tentang kata “cinta” dan kita masing-masing punya pengertian berbeda tentang hal yang satu ini. Bisa saja bagi seseorang ini berarti sebuah romansa, tetapi mungkin bagi yang lainnya adalah rasa aman. Intinya, ini adalah hal yang biasanya membuat kita tertarik pada seseorang, hal-hal yang kita sukai dari orang tersebut dan itu melengkapi keberadaan kita sehingga bisa timbul keinginan untuk merayakan keindahan pribadi orang tersebut selama sisa hidup yang kita miliki. Inilah akhirnya dimana kita memutuskan untuk menjadikan orang tersebut pasangan hidup kita.

Tetapi, bagaimana saat kita tak bisa melihat “apa yang kita suka” dari pasangan kita? Apa yang terjadi ketika “apa yang kita cintai” lenyap?

Yesus berkata, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” (Matius 22:39). Menurut Tuhan, saat kita melakukan hal ini, barulah kita sungguh-sungguh mengasihi seseorang. Lantas apakah artinya mengasihi sesama “seperti dirimu sendiri” dalam hubungan pernikahan?

Ini dapat diartikan menjadi tiga hal:

  1. Anda teridentifikasi begitu dalam dengan pasangan Anda, sehingga Anda dapat merasakan efek dari hal-hal yang Anda lakukan terhadap pasangan Anda.
  2. Yang pertama Anda pikirkan dan dahulukan adalah bagaimana membuat kehidupan pasangan Anda lebih baik.
  3. Anda inginkan yang terbaik untuk pasangan, sekalipun ia tak dapat melihat hal tersebut.

 

Pertama, saat Anda teridentifikasi secara dalam dengan pasangan, Anda akan mengalami yang namanya empati. Sebaliknya, keegoisan akan menghancurkan pernikahan.

Contoh kasus dalam hal ini adalah Scott dan Maria:

Scott sangat marah kepada Maria – istrinya – dalam salah satu sesi dengan Dr. Cloud. Ketika ia merasa terancam, ia menjadi sangat agresif kepada Maria. Di saat seperti itulah Maria akan membalas dengan menyalahkan sesuatu tentang Scott. Tetapi, dibalik sikap menyalahkan Maria, Dr. Cloud melihat sesuatu yang tidak ia tunjukkan.

Dr. Cloud menghentikan Scott di tengah omelannya dan beralih kepada Maria. “Apa yang kamu rasakan?” Dr. Cloud bertanya.

“Aku benci saat ia seperti itu!,” Maria berkata.

“Tidak, apa yang kamu rasakan?” Dr. Cloud menekankan.

Akhirnya, ia runtuh dan menangis. Lalu, Maria memberitahu betapa sebenarnya ia sangat takut ketika Scott menjadi marah dan agresif. Dia tersedu-sedu, gemetar ketakutan.

Dr. Cloud beralih kepada Scott dan melihat yang tak pernah dilihat sebelumnya. Scott melembut. Matanya berkaca-kaca. Ia merasakan “kerusakan” yang ia timbulkan di dalam diri istrinya. Ia mengidentifikasi dirinya dengan Maria.

“Apakah kamu suka jika itu yang kamu rasakan?” Dr. Cloud bertanya pada Scott.

Scott melihat istrinya dengan malu dan empati. “Aku tak pernah menyadarinya. Maafkan aku.”

Pertama kalinya dalam hidup pernikahan mereka, Scott melihat melalui mata Maria. Merasakan apa yang dirasakan istrinya. Ketika ia mulai fokus kepada hal ini, ia pun merubah kelakuannya. Mengasihi sesama “seperti mengasihi diri sendiri” berarti menempatkan diri kita di posisi orang tersebut dan coba melihat seperti apa rasanya jika menjadi dia.

Kedua, mengasihi pasangan seperti diri sendiri berarti Anda terpikir untuk membuat hidup pasangan Anda menjadi lebih baik. Misalkan, Anda terpikir bagaimana keadaan istri Anda setelah seharian mengurus rumah tangga serta anak-anak. Apa yang kira-kira istri Anda butuhkan? Bagaimana dengan sebuah bantuan? Apakah itu akan terasa menyenangkan?

Atau bagaimana perasaan Anda jika tidak mendapatkan kesempatan untuk membangun diri serta talenta yang Anda miliki? Anda tentu akan merasa stagnan dan datar. Pastilah Anda merindukan sebuah kesempatan untuk bertumbuh. Anda akan menginginkan agar pasangan Anda memberikan ruang dan juga sumber-sumber yang dapat membantu Anda bertumbuh.

Ketiga, ini mungkin yang tersulit. Mengasihi pasangan seperti diri sendiri berarti Anda menginginkan yang terbaik bagi pasangan sekalipun ia tak dapat melihatnya. Hal ini dapat berbentuk sebuah konfrontasi yang sulit, tindakan penyembuhan, dan sebagainya. Contohnya bisa dalam hal saat Anda ingin mencoba agar pasangan lebih dekat kepada Tuhan atau membuat pasangan Anda menjalani pengobatan/rehabilitasi jika ia terlibat kecanduan. Cinta bentuk ketiga ini mungkin akan menempatkan Anda di posisi sulit. Tetapi, Anda tahu itu akan membawa kebaikan dalam hidup pasangan Anda.

Jadi, yang juga dibutuhkan disini selain empati adalah komitmen. Anda berkomitmen akan tetap tinggal dan tetap berada disisi pasangan sekalipun keadaan menjadi sulit. Mengapa komitmen sangat penting dalam pernikahan? Karena tanpa komitmen, saat pernikahan menjadi sulit…orang cenderung akan tergoda untuk pergi daripada melewati kesulitan tersebut. Ingat, segala kesulitan yang terjadi dalam pernikahan merupakan tanda bahwa ada area-area yang perlu bertumbuh. Jangan menghindar! Walaupun tampaknya itu adalah jalan termudah. Pada banyak kasus pernikahan, tampak pasangan tersebut tetap bersama namun secara emosional mereka sudah terputus. Mereka meninggalkan hubungan dengan mencabut hati mereka dari hubungan tersebut.

Analogi yang tepat untuk komitmen ini seperti seorang pasien dan dokter. Sang pasien harus bersedia dioperasi hingga selesai oleh sang dokter agar bisa sembuh. Bayangkan jika sang pasien berusaha lari di tengah operasi! Pastilah ia takkan selamat.

Dalam hidup pernikahan, Tuhan juga seringkali melakukan operasi dengan tujuan untuk menyelamatkan pernikahan tersebut, tetapi berapa banyak pasien Tuhan yang lari ditengah-tengah operasi sedang berlangsung?

Kasih yang sungguh-sungguh terhadap pasangan membuat satu sama lain bertumbuh menjadi versi yang lebih baik. Kasih seperti ini juga yang akan menjadi pelindung yang kuat dari tipuan iblis. 1 Korintus 13:4-7 mengatakan, “Kasih itu sabarkasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri.  Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan,  tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

(Visited 10 times, 1 visits today)

Last modified: Aug 23

Close