What You Value is What You’ll Have [Love of God] – Part 2

Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Markus 12:30).

Mengapa Ia menempatkan perintah ini sebagai yang utama di atas hal-hal lainnya? Walaupun kita dapat menemukan berbagai alasan, kenyataannya adalah jika seseorang menempatkan nilai ini sebagai prinsip yang terpenting dalam hidupnya, maka ia akan siap untuk melakukan penyesuaian (adjustment) apapun yang akan diminta oleh Tuhan. Ketika keadaan menjadi sulit dalam pernikahan dan sebuah perubahan dibutuhkan dari diri kita, maka reaksi pertama kita pastilah tidak akan bersedia. Kita akan merasa tidak adil jika kita yang harus berubah atau terlalu menyakitkan untuk kita berubah. Di saat-saat seperti ini akan sangat mudah jika pilihan yang diambil adalah menuruti ego diri sendiri.

Tetapi, jika ada kesadaran bahwa pada akhirnya yang berhadapan dengan kita adalah Tuhan, maka kita akan tunduk pada realita ini dan pada panggilan yang lebih tinggi (higher calling), yaitu untuk kita bertumbuh semakin sempurna. Sehingga pada akhirnya, hubungan (relationship) yang akan menang.

Contoh kasus dalam hal ini adalah sepasang suami-istri yang menjadi pasien Dr. Cloud:

Ketika pasangan ini berada dihadapan Dr. Cloud, mereka sudah siap bercerai. Pengharapan mereka terhadap satu sama lain sudah pupus. Tak ada yang tersisa.

Dr. Cloud bertanya, “Apakah kalian masih memiliki harapan pada pernikahan ini?”

“Tidak, kami tidak punya,” keduanya mengakui.

Lalu, Dr. Cloud berkata, “Bagus! Berarti ada sesuatu yang bisa kita kerjakan di sini.”

“Apa maksud Anda?” mereka bertanya kebingungan.

Yang tidak mereka sadari adalah Dr. Cloud mengetahui bahwa keduanya adalah orang yang mengasihi Tuhan. Walaupun keduanya sudah siap meninggalkan satu sama lain, keduanya takkan pernah siap untuk mengabaikan Tuhan. Dr. Cloud percaya bahwa iman mereka kepada Tuhanlah yang akan menyelamatkan pernikahan tersebut.

“Pemikiran saya adalah bahwa kalian sudah sangat kecewa satu sama lain. Pada kenyataannya, memang sudah tak ada cukup cinta yang tersisa yang mampu menyatukan kalian. Dan, saya lega kalian mengakuinya. Tetapi, saya juga mengetahui hal lain tentang kalian. Kasih kalian pada Tuhan cukup untuk membuat perubahan yang Ia ingin kalian lakukan. Jika dalam hal ini kalian bersedia, maka ini akan cukup untuk menyelamatkan pernikahan kalian. Apakah kalian bersedia berkomitmen untuk melakukan perubahan apapun yang Tuhan inginkan dalam proses ini?” Keduanya menyanggupi, walaupun ditengah keputusasaan.

Dalam proses tersebut, pasangan ini belajar sesuatu. Bagi sang istri, saat ia siap menghakimi suaminya dan ia teringat bahwa itu bukanlah hal yang sesuai kehendak Tuhan…akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tunduk pada kehendak Tuhan. Demikian pula sang suami, saat ia siap menyerang sang istri dengan sarkasme ketika sedang marah…ia teringat bahwa seseorang yang lebih tinggi memintanya untuk menguasai diri. Akhirnya, ia pun menggigit lidahnya agar kata-kata tersebut tak terucap.

Di saat lainnya, ketika sang suami merasa tak sabar mendengarkan komplain sang istri karena ia benci konflik…ia pun teringat bahwa Tuhan ingin ia menjadi orang yang lebih lembut. Sehingga akhirnya ia putuskan untuk mendengarkan sang istri serta tidak bereaksi secara defensif. Padahal sebelumnya, ia akan menghindari sang istri lalu beralih kepada hobinya.

Selain itu, sang istri juga menyadari bahwa ia punya ketakutan serta kepahitan dalam hatinya yang selama ini dilampiaskan kepada suaminya. Ia belajar untuk take ownership atas hal-hal yang ia rasakan dan belajar untuk tidak menyalahkan suaminya. Lalu, mengambil tanggung jawab untuk membereskan hal-hal tersebut. Akhirnya, ia pun menjadi pribadi yang lebih sehat.

Sekitar setahun berlalu, pasangan ini kembali dan tampak seperti pasangan yang berbeda. Mereka melakukan character work dengan sangat baik!

Sang istri sangat ceria seperti gadis remaja, “Kami sangat bahagia! Inilah mengapa pada mulanya saya menikahi dia. Saya tak menyangka bahwa kami bisa tiba di titik ini.”

“Saya tak percaya apa yang selama ini saya lewatkan!,” suaminya melanjutkan. “Saya begitu menikmati kebersamaan dengannya. Tak ada hal-hal lain – termasuk pekerjaan – yang bisa membuat saya lebih senang mencurahkan semua energi yang saya miliki selain bersamanya.”

Akhirnya, cinta sejati lahir dari pasangan ini yang setahun sebelumnya mereka sangka takkan pernah mereka rasakan. Inilah buah dari “mengasihi Tuhan”. Kasih kepada Tuhan menguatkan kita untuk melakukan perubahan. Ia memberi tahu kita bagaimana untuk berubah melalui FirmanNya.

Kasihilah Tuhan, pertama-tama dengan hati, pikiran, jiwa, serta segala kekuatan Anda.

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

“…dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena setia kepada-Ku, ia akan memperolehnya.” (Matius 10:39b)