Written by Boundaries of Marriage by Henry Cloud and John Townsend 5:02 am Devotionals, Marriage, Relationship

What You Value is What You’ll Have [Honesty] – Part 4

pernikahan-kejujuran

Ketidakjujuran merusak hubungan. Tindakan kebohongan yang dilakukan adalah jauh lebih merusak daripada hal yang menjadi topik kebohongannya. Begitu penipuan (deception) tersebut masuk ke dalam sebuah hubungan, maka disanalah titik awal sebuah hubungan akan berakhir cepat atau lambat. Deception merupakan tembok yang sulit ditembus karena dengan adanya hal ini berarti “menyangkal” masalah yang sebenarnya. Inilah salah satu dosa yang tak termaafkan dalam hubungan pernikahan, karena membuat pengampunan (forgiveness) tidak dapat hadir. Dengan “menyangkal” masalah yang sebenarnya, berarti masalah utama tersebut takkan pernah bisa naik ke permukaan serta mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pengampunan.

Namun, kejujuran harus berjalan bersama nilai-nilai lainnya. Kejujuran tanpa kasih dan komitmen akan merusak hubungan yang tadinya mungkin sudah melemah. Demikian juga kejujuran tanpa pengampunan mungkin akan berakhir menyakitkan. Kejujuran tanpa komitmen tentang kekudusan tidak akan bisa memberikan pengharapan yang benar terhadap pihak yang melakukan kesalahan.

Berikut ini adalah beberapa area dimana pasangan menikah akan sulit untuk mempraktekkan kejujuran total:

  • Perasaan (feelings)
  • Kekecewaan (dissappointments)
  • Keinginan, hal-hal yang disukai dan tidak (desires, likes, and dislikes)
  • Kesakitan (hurts)
  • Kemarahan dan kebencian (anger and hatred)
  • Seks
  • Dosa (sins)
  • Kegagalan (failure)
  • Kebutuhan dan kerentanan (needs and vulnerabilities)

Keintiman yang Lebih Dalam

Berikut adalah contoh kasus Dennis dan Christy :

Dennis dan Christy sudah menikah selama lima tahun. Bagi Dennis, hubungan pernikahan mereka sangat ok. Tapi, realitanya justru jauh dari ok. Christy merasa sendirian, tidak terpenuhi, dan secara emosional merasa terputus. Ia merasa perlahan tapi pasti hubungan pernikahannya sekarat. Tapi, ia tak pernah mengutarakan hal ini kepada Dennis.

Dennis adalah Mr. Nice Guy…ia adalah pria yang sangat baik dan juga suami yang bertanggungjawab. Jadi, Christy juga memiliki pemikiran bahwa yang ia rasakan mungkin salah karena ia tidak cukup bersyukur. Namun, jauh di dalam hatinya…ia menginginkan sesuatu yang lebih hidup dalam hubungan pernikahannya.

Tiap kali Christy mencoba memberitahu apa yang ia rasakan, Dennis akan secara halus melakukan diskon terhadap apa yang Christy rasakan lalu mencoba mengisi ketidakpuasan Christy dengan bersikap lebih baik lagi kepadanya. Tapi, tindakan seperti ini justru membuat Christy semakin marah. Akhirnya, suasana hati Christy menjadi semakin datar saat ia berada disekitar Dennis.

Sampai suatu ketika, Christy tidak tahan lagi. “Aku benci pernikahan kita!” dia berteriak. Dennis terkejut…shock! Dia tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Dia mulai berargumen tentang betapa bagusnya pernikahan mereka, tetapi itu justru membuat Christy semakin marah. Akhirnya, mereka sadar bahwa pernikahan mereka perlu dibantu.

Dalam sesi konseling, Christy sangat jujur tentang apa yang dirasakannya terhadap Dennis. Ia merasa begitu baiknya Dennis hingga seakan-akan Dennis seperti orang yang tidak punya perasaan. Ia sangat jujur tentang kebutuhannya dan segala kegetiran dalam hatinya. Sebaliknya, Dennis mencoba cara lamanya untuk menenangkan Christy dengan bersikap baik. Tapi bukan ini yang Christy inginkan…ia ingin bisa mengenal Dennis lebih dalam, apa yang Dennis suka dan tidak suka, perasaannya, jiwanya. Akhirnya, ia komplain dengan sangat keras.

Di titik itu, Dennis meledak. Ia mengekspresikan kemarahannya terhadap Christy serta keputusasaan seakan-akan ia tak pernah cukup baik bagi istrinya. Bagaimana ia merasa bahwa Christy tak pernah cukup tertarik kepadanya dalam level yang lebih dalam…bagaimana ia merasa tak cukup diinginkan oleh istrinya. Itu membuat Dennis putus asa.

Di tengah proses itu, Christy balik terkejut. Bukannya bersikap defensif, ia malah memeluk Dennis. Ia sangat lega akhirnya benar-benar ada pribadi yang nyata dibalik Mr. Nice Guy. Kejujuran yang mereka lemparkan di sesi itu membentuk koneksi yang nyata diantara mereka. Sebuah koneksi yang sebenarnya mereka rindukan.

Keintiman bisa hadir karena “mengenal” seseorang dalam level yang jauh lebih dalam. Jika ada tembok yang menghalangi kejujuran untuk masuk, maka proses pengenalan tersebut akan terabaikan. Deception yang akan menyelinap masuk. Seperti yang Paulus katakan dalam Efesus 4:25, “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.” Begitu banyak pasangan menikah mencoba “melindungi” pernikahan mereka dengan dusta dan di saat yang sama hal itu membuat mereka semakin jauh dari hubungan nyata yang sesungguhnya.

Untuk Sebuah Alasan

Ada sebuah penyebab umum yang biasanya membuat kejujuran tak bisa hadir dalam hubungan pernikahan. Sebuah alasan “defensif” yang bertujuan untuk melindungi diri dari rasa sakit. Ini sebenarnya bukanlah alasan jahat. Namun, jenis ketakutan ini yang justru bisa menjadi celah bagi deception untuk masuk. Untuk seseorang bisa jujur sepenuhnya kepada pasangan, maka ia terlebih dulu harus menghadapi ketakutan-ketakutannya.

Berikut ini adalah beberapa ketakutan yang umumnya dirasakan oleh pasangan menikah:

  • Ketakutan akan kedekatan yang nyata dan untuk dikenal lebih dalam
  • Ketakutan akan diabaikan dan kehilangan cinta apabila mereka dikenal lebih jauh
  • Ketakutan akan dikontrol dan diperlakukan seperti sebuah barang/properti
  • Ketakutan untuk dilihat “buruk” atau tak cukup baik bila bagian-bagian diri mereka diketahui
  • Ketakutan akan keinginan, kebutuhan, dan perasaan mereka sendiri

Lalu, apa yang seharusnya dilakukan oleh pasangan menikah agar kejujuran bisa hadir dalam hubungan pernikahan?

  1. Punya cukup kasih karunia (grace) agar kejujuran bisa diutarakan. Berjanji bahwa Anda tak akan menghukum pasangan saat ia jujur. Hal ini bukan berarti tak ada konsekuensi, tapi penghukuman ataupun mempermalukan seharusnya tidak menjadi bagian dalam konsekuensi. Pilihlah cara yang lebih sehat.
  2. Beri pasangan kesempatan bebas untuk bertanya dan melakukan validasi. Jangan merasa terserang saat pasangan sedang mencoba mengerti dan ia masih belum mendapat kejelasan. Jangan mengucapkan hal-hal defensif seperti, “Jadi kamu tidak percaya?”.
  3. Jagalah satu sama lain saat kita melihat bahwa pasangan sepertinya tidak jujur. Ikatlah diri Anda dan pasangan dalam kebenaran.
  4. Jadilah partner bagi pasangan Anda dalam proses penyembuhan dari ketakutan-ketakutan yang ia rasakan di dalam hatinya. Jika isu pasangan Anda adalah takut ditinggalkan, maka tunjukkan pada dia bahwa Anda takkan meninggalkan dia seperti yang mungkin pernah dilakukan oleh orang-orang dalam hidup pasangan Anda sebelumnya.
  5. Ambil tanggung jawab atas ketakutan-ketakutan yang Anda sendiri rasakan dan buatlah komitmen untuk menyelesaikannya. Jadilah seseorang dalam kebenaran dan carilah orang lain selain pasangan Anda yang dapat dipercaya dan punya fondasi yang kuat. Orang inilah yang akan berperan menunjukkan kebenaran kepada Anda ketika ketakutan meliputi Anda.
  6. Gunakan kebijaksanaan. Walau idealnya kejujuran total harus hadir, tapi ada keadaan-keadaan tertentu dalam dinamika pernikahan yang mungkin belum siap untuk kejujuran secara total. Mungkin perlu pemilihan waktu yang tepat karena beberapa pribadi lebih rapuh dan butuh pertolongan dari pihak lain saat dihadapkan pada kebenaran. Gunakan kebijaksanaan untuk bisa melihat serta membedakan apakah hubungan pernikahan Anda dalam keadaan siap atau tidak untuk menerima semua kejujuran. Kroscek sumber daya yang Anda miliki seperti konseling, waktu, ataupun orang-orang yang mungkin dibutuhkan agar kejujuran bisa dihadirkan dalam pernikahan Anda.

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

“Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.” (1 Yohanes 1:7)

(Visited 39 times, 1 visits today)

Last modified: Aug 23

Close