What You Value is What You’ll Have [Faithfulness] – Part 5

Dalam kata kesetiaan (faithfulness) terkandung makna sebagai berikut : percaya satu sama lain, memiliki keyakinan terhadap satu sama lain, ada jaminan tentang karakter satu sama lain sehingga dapat diandalkan, bisa merasa pasti akan kesetiaan satu sama lain, bisa jujur satu sama lain (apa adanya), permanen untuk satu sama lain, dan dapat menjadi tempat peristirahatan bagi satu sama lain.

Pengertian kita tentang kesetiaan pada umumnya terlalu dangkal hanya sebatas fisik. Padahal dalam hidup pernikahan, banyak sekali terjadi dimana pasangan tetap setia secara fisik namun tidak lagi setia secara emosional. Mereka setia terhadap tubuh, tetapi tidak lagi setia dalam hal hati. Pasangan-pasangan ini tak lagi dapat percaya dan yakin satu sama lain. Hanya ada sedikit kepercayaan, sedikit kepastian, serta sedikit keamanan.

Padahal kesetiaan mencakup seluruh area, tidak hanya tentang fisik. Menjadi pasangan yang setia berarti Anda dapat dipercaya bahwa hal-hal akan ditepati/dilakukan. Ini bisa saja berarti setia secara fisik (seksual), tapi bisa juga berarti melakukan tugas keseharian secara setia. Bisa juga berarti Anda pulang tepat waktu dari tempat kerja, bisa juga berupa kepastian bahwa anak-anak akan dijemput dari sekolah, kebutuhan rumah akan dibeli, bisa juga berarti bebas berbagi pemikiran serta perasaan tanpa takut dihukum. Intinya, Anda mendapat kepastian serta rasa aman bahwa apa yang harus dilakukan akan dilakukan.

Hal-hal yang Memisahkan Pasangan

Kesetiaan, tentu saja berarti Anda tidak akan terpisah satu sama lain. Penyelewengan secara fisik berarti memberikan diri Anda secara fisik kepada orang lain diluar ikatan pernikahan. Tapi, Anda bisa terlibat penyelewengan secara emosional. Hal ini berarti menarik hati dan bagian dari diri Anda secara sengaja dari hubungan pernikahan. Contohnya, Anda lebih memberikan energi serta waktu Anda kepada hobi/pekerjaan daripada kepada hubungan pernikahan Anda.

“Objek” dari ketidaksetiaan bisa berbentuk banyak hal…bisa berupa orang ataupun hal-hal lainnya. Tapi inti yang perlu digarisbawahi adalah bahwa hal tersebut memisahkan (berada diantara) Anda dan pasangan.

Biasanya hal-hal ini mulai muncul saat sebuah hubungan menghadapi krisis yang butuh pertumbuhan (character work) dan pihak yang terkait tidak memiliki cukup keberanian untuk menghadapinya. Akhirnya, mereka menghindar ke arah lain.

Tidak Ada Alasan

Kebanyakan suami akan membuat alasan seperti ini, “Kalau saja dia tidak bersikap seperti itu, tentu saya tidak akan berbuat seperti ini.” Atau biasanya alasan para istri adalah, “Kalau saja suami saya bisa mengerti kebutuhan saya…”

Alasan-alasan seperti itu tidak ada satupun yang mendekati kebenaran. Tindakan untuk tidak setia sebenarnya merupakan keputusan satu orang, bukan dua belah pihak. Seperti yang 2 Timotius 2:13 katakan, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setiakarena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” Tuhan tidak akan menjadi tak setia, walaupun kita tidak mengasihi Dia secara benar. Dia akan tetap setia terlepas dari apapun yang kita lakukan. Keputusan seperti inilah yang dibutuhkan dalam sebuah pernikahan. Jangan jadikan kegagalan pasangan untuk mengasihi Anda sebagai alasan atas ketidaksetiaan Anda.

Sebaliknya, buatlah komitmen bersama bahwa Anda berdua tak akan membiarkan apapun menjadi penghalang, bahwa satu sama lain akan dapat diandalkan, bahwa Anda berdua akan setia secara fisik juga emosional.

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official