Jangan Terjebak, Sikapi Utang dengan Bijak

gkdi lagu

Utang piutang adalah persoalan klasik kehidupan manusia. Banyak masalah berawal dari utang. Nama baik, persahabatan, bahkan persaudaraan yang awalnya rukun pun bisa rusak gara-gara hal ini. Bahkan, Alkitab banyak mencatat perumpamaan dan peringatan perihal orang yang berutang.

Ketika pengeluaran lebih besar daripada pemasukan, utang menjadi salah satu jalan pintas yang sering dipilih orang. Pengeluaran kian meningkat, sementara penghasilan belum juga bertambah, sehingga godaan untuk berutang pun muncul. Apalagi, di masa sekarang, utang merupakan sesuatu yang lazim, bahkan dipermudah oleh pihak pemberi pinjaman.

Akan tetapi, benarkah utang bisa menjadi solusi dalam mengatasi kesulitan ekonomi? Bagaimana cara menyikapi perihal utang dengan bijak?

Utang, Jalan Menjadi Budak?

Dari zaman dahulu sampai sekarang, mata manusia mudah dikaburkan oleh kemewahan, yang membuat kita sulit membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Lebih-lebih di masa modern, ketika media sosial, iklan, kemudahan belanja online, serta banyaknya variasi kredit berpengaruh besar terhadap perilaku konsumtif masyarakat. Hanya dengan sekali “klik,” keinginan seseorang langsung terpenuhi, tak peduli daftar utangnya terus bertambah.

Sekilas, berutang tampaknya menjadi solusi mudah dan cepat untuk mencapai ambisi material. Sayangnya, utang berpotensi menciptakan masalah berkepanjangan. Seseorang yang awalnya hidup berkecukupan tergoda menggunakan kartu kredit karena berbagai tawaran diskon. Gara-gara ketagihan belanja tanpa perhitungan yang benar, akhirnya ia terbelit utang, lalu dikejar-kejar penagih utang. Nama baiknya tercoreng, hidupnya pun jauh dari ketenangan dan damai sejahtera. 

Oleh karena itu, sebelum berutang, pikirkan matang-matang untung dan ruginya. Perhitungkan kemampuan finansial Anda. Jangan tergiur dengan hal-hal yang manis di depan, tetapi berujung pahit di belakang. Kalau sudah terlanjur berutang, mau tak mau Anda harus melunasinya seturut segala ketentuan yang dibuat oleh pihak pemberi piutang. Tak salah jika kitab Amsal menggambarkan orang yang berutang sebagai budak dari orang yang mengutangi.  

Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi. – Amsal 22:7

Jika berutang diibaratkan “menghambakan diri,” betapa kita harus berhati-hati dalam memutuskan hal ini. Jangan sampai kita menjadi hamba dalam arti sebenarnya, terikat dari satu utang ke utang berikut. Hidup jadi melarat karena penghasilan habis untuk membayar utang. 

Utang, Bikin Hidup Jadi Rumit?

Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. – Roma 13:8

Dalam versi Firman Allah Yang Hidup (FYH), kalimat pertama ditulis sebagai: Lunasilah segala utang saudara… Dengan kata lain, Tuhan tidak suka umat-Nya dibebani oleh urusan utang piutang. Sebisa mungkin, lunasilah segera utang Anda. 

Di sisi lain, Alkitab dengan jelas memperingatkan kita agar mencukupkan diri dengan apa yang ada.

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” – Ibrani 13:5

Prinsip ini sangat penting, karena merasa cukup dengan apa yang kita punya akan menghindarkan kita dari banyak masalah. Kita tidak akan mudah tergoda untuk membeli atau memiliki barang-barang yang sebenarnya bukan kebutuhan vital.

Ketika Anda mengalami kesulitan keuangan, coba renungkan: jangan-jangan, ini terjadi bukan karena ketidakmampuan Anda menghasilkan uang, melainkan akibat besarnya tagihan yang harus dilunasi setiap bulan. 

Alih-alih berpikir untuk menutupinya dengan utang lain, lebih baik periksa arus keuangan Anda. Barangkali ada pos-pos yang bisa dikurangi atau ditiadakan. Jika cicilan utang terasa berat, jangan ragu meminta restrukturisasi dalam hal pelunasan, jika memungkinkan, agar keuangan Anda menjadi lebih sehat.

Terkadang manusia itulah yang menciptakan masalahnya sendiri. Hidup sudah berkecukupan, tetapi ingin lebih kaya, harus punya ini dan itu demi gengsi, agar terlihat hebat, dan lain-lain. Tak ayal, kita pun terbelit utang dan hidup dalam kesulitan. Sebagaimana dikatakan dalam Pengkotbah 7:29 menurut terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK):

Hanya inilah yang kudapat: Allah membuat kita sederhana dan biasa. Tetapi kita sendirilah yang membuat diri kita rumit dan berbelit-belit.

Berutang Boleh, Asal …

Hidup bebas utang pastilah menyenangkan. Meski begitu, dalam hal-hal tertentu, ada kalanya utang menjadi satu-satunya jalan keluar. Tentunya ini bisa dilakukan dengan tetap memperhitungkan segala manfaat dan risiko yang ada.

1. Produktif, Bukan Konsumtif

Alangkah baiknya jika kita mampu memulai usaha dengan modal sendiri. Namun, kalau harus menunggu dana terkumpul, kapan kita baru bisa memulai usaha? Memang, ide usaha tanpa modal sedang gencar digaungkan belakangan ini. Namun, tidak semua jenis usaha bisa diawali dengan cara demikian. Modal tetaplah menjadi sumber daya utama para wirausahawan dalam memulai bisnis. 

Sebagai contoh, Anda membeli mobil dengan metode cicilan untuk digunakan sebagai aset bisnis (misalnya, mengantarkan barang). Tentunya ini tidak sama dengan membeli mobil semata-mata untuk membuktikan kemampuan Anda menjalani gaya hidup tertentu. 

Jadi, dengan perhitungan risiko yang matang dan strategi finansial yang benar, barulah langkah meminjam uang boleh dilakukan. 

2. Manfaat Jelas, Nilai Meningkat

Membeli atau menyewa tempat tinggal adalah kebutuhan primer yang tak terelakkan. Pembelian rumah secara tunai biasanya lebih murah ketimbang melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Namun, meskipun bunganya rendah atau bebas biaya administrasi, tetap saja total kredit yang kita bayarkan jauh lebih besar ketimbang pembayaran kontan. 

Masalahnya, tidak semua orang bisa mengumpulkan ratusan juta rupiah dalam waktu singkat. Di saat seperti ini, kredit kepemilikan rumah dapat menjadi solusi. Alih-alih mengeluarkan uang setiap tahun untuk mengontrak, Anda memilih mencicil rumah sesuai kemampuan. Ke depannya, Anda dapat hidup tenang, tak perlu terus berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Dalam hal ini, anggap saja Anda sedang menabung, meski bukan dalam bentuk uang. Nilai jual rumah biasanya cenderung meningkat, dan jika dibarengi sejumlah perhitungan cermat, dapat menjadi investasi yang baik, meski Anda harus mengencangkan ikat pinggang di awal. 

Ketika kondisi finansial Anda menurun, meningkatkan penghasilan menjadi solusi ideal. Namun, jangan lupa memeriksa arus keuangan Anda: pos-pos apa yang bisa dikurangi, ditiadakan, atau diretrukturisasi? Jika harus berutang, pertimbangkan segala risikonya, serta pastikan bahwa dana yang dipinjam dapat digunakan secara produktif dan memiliki manfaat jelas di kemudian hari. 

Tuhan memberkati! 

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

[wpforms id=”11767″]

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: