Alkisah, ada dua petani yang mengolah ladang mereka masing-masing. Keduanya sama-sama berdoa meminta hujan yang sudah lama tidak turun ke desa mereka. Bedanya, petani pertama hanya meminta hujan, tapi tidak berbuat apa-apa. Sedangkan petani kedua tidak hanya meminta hujan, tetapi juga bekerja keras mengusahakan ladangnya. Ia tetap menanam, mengolah, dan mengairi ladangnya seperti biasa. 

Jika Anda memiliki kemampuan menurunkan hujan, kepada petani manakah Anda akan berkenan memberikan hujan? Petani pertama yang hanya meminta? Atau petani kedua yang meminta dan tetap mengusahakan ladangnya? Saya pribadi tentu akan menurunkan hujan kepada petani kedua, yang berdoa dan juga mengusahakan ladangnya. 

Sebagai seorang single / lajang, mendoakan kehadiran pacar atau pasangan hidup adalah hal yang wajar. Namun, pertanyaannya, apakah Anda juga “mengusahakan ladang” Anda sembari berdoa dan menunggu hadirnya “hujan” dalam kehidupan Anda? Apa dan bagaimana cara melakukannya?

Mengapa Mengusahakan Ladang?

Apa yang dimaksud dengan “mengusahakan ladang” dalam konteks ini? 

Saya sering mendengar orang berkata, ”Sabar, yaaa …” kepada orang-orang yang masih menanti datangnya pasangan hidup. Atau, “Sudah, nikmati saja masa-masa single yang takkan pernah terulang lagi.” Apa yang mereka ungkapkan tidak salah. Masalahnya, apakah hubungan yang kita impikan itu adalah sesuatu yang mudah, yang dapat kita nikmati tanpa persiapan apa-apa?

Kenyataannya, dunia pacaran tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Setelah pacaran, tentunya Anda berharap untuk memasuki fase hidup berikutnya, yaitu pernikahan. Namun, pernahkah Anda renungkan apakah Anda memang sudah siap menjalani hubungan yang Anda inginkan so badly ini? Pertanyaan ini mungkin jarang diajukan, tetapi perlu Anda pikirkan baik-baik. 

Jangan sampai Anda bersikeras meminta pasangan hidup, tetapi ketika Tuhan memberikannya, Anda tidak siap. Akibatnya, masa dan hubungan yang seharusnya indah itu malah jadi bumerang bagi diri Anda sendiri. 

Mulailah menggarap area-area yang selama ini terlantar di ladang kehidupan Anda. Latih diri Anda agar siap menapaki hubungan yang Anda idam-idamkan selama ini. Berikut empat area pertama yang perlu Anda usahakan sebelum memasuki masa pacaran:

Area 1: Hubungan dengan Tuhan

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. – 1 Yohanes 4:7

Saya pernah mendengar ungkapan bahwa hubungan kita dengan orang yang spesial haruslah merupakan cinta segitiga. Loh, kok begitu? Model cinta segitiga di sini maksudnya Anda dan pasangan berada di sudut bawah (kanan dan kiri), yang mengarah ke atas, ke satu titik puncak, yaitu Tuhan. 

Bagaimana Anda akan membangun hubungan yang sehat jika Anda sendiri tidak punya hubungan yang benar dengan Tuhan? Sebuah hubungan yang sehat harus punya fondasi. Ibarat membangun rumah, jika fondasinya tidak kuat, bangunannya akan gampang roboh. Begitu pula halnya dengan hubungan Anda dengan pasangan nantinya. 

Berdasarkan hal-hal apa Anda akan membangun hubungan kalian? Tidak ada dasar yang lebih baik selain Tuhan itu sendiri, karena Allah adalah kasih. Dan, kita harus mendekat kepada sumber kasih itu sendiri supaya kita bisa mengasihi orang-orang di sekitar kita. 

Carilah Tuhan dan ambillah waktu untuk lebih dekat dengan Tuhan saat Anda masih single. Jadikan Tuhan sebagai prioritas utama. Sehingga ketika Anda bertemu dengan orang yang spesial itu, Anda dapat membawa semua sukacita dan kepenuhan di dalam Tuhan itu ke dalam hubungan kalian. What a wonderful relationship you will have!

Area 2: Komunikasi

Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang. – Kolose 4:6

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. – Efesus 4:29

Berdasarkan sebuah riset, komunikasi yang buruk adalah penyebab utama terjadinya perceraian. Ketika masih lajang, Anda bisa berpikir, “Ah, komunikasi, kan, bukan hal yang sulit.” Saya pun dulu berpikir serupa. Kenyataannya, saya sering mengalami konflik dengan orang lain akibat miscommunication, alias kesalahpahaman dalam komunikasi. 

Seberapa baikkah kemampuan Anda dalam mengkomunikasikan keinginan atau maksud Anda? Cobalah cek dari cara Anda berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Apakah Anda punya hubungan yang baik dengan orang tua, kakak, atau adik Anda? Apakah Anda sering salah paham atau berdebat karena perbedaan pendapat dengan orang-orang terdekat? Jika ya, mungkin artinya Anda perlu belajar berkomunikasi dengan lebih baik lagi.

Pepatah “Men are from Mars dan women are from Venus” dari buku berjudul serupa menggambarkan perbedaan kontras antara pria dan wanita. Mereka punya cara berpikir dan olah mental yang berbeda, yang kemungkinan besar akan memengaruhi cara mereka berkomunikasi. 

Oleh karena itu, usahakanlah ladang Anda di bidang komunikasi. Tanyakan kepada orang-orang terdekat, bagaimana cara berkomunikasi Anda selama ini. Apakah mereka nyaman berbicara dengan Anda? Berdasarkan umpan balik mereka, Anda bisa mengevaluasi diri dan berlatih agar dapat berkomunikasi dengan lebih baik lagi. 

Area 3: Kepekaan

Saya pernah mendengar cuplikan lirik lagu yang berbunyi, “Hey, listen to what we’re not saying.” Dengarkan apa yang tidak kita katakan. Dalam sebuah hubungan, pasti ada ekspektasi. Dan terkadang, tidak semua ekspektasi itu selalu dapat diungkapkan dengan kata-kata. 

Jujur, saya pun bukan termasuk dalam kategori orang yang peka. Karenanya, saya sering katakan kepada orang-orang terdekat, “Saya bukan dukun, jadi tolong kasih tahu apa yang kamu inginkan, rasakan, atau hal-hal yang perlu saya lakukan.” Betul, setiap orang perlu belajar mengkomunikasikan perasaannya, tapi pasti ada saatnya kita harus peka terhadap kebutuhan sesama. 

Misalnya, ketika pasangan Anda sedih, mungkin dia tidak serta-merta berkata, “Tolong beri saya dukungan.” Akan tetapi, jika Anda cukup peka, Anda dapat menangkap pesan tersebut. Tidak mungkin pula pasangan Anda berkata, “Saya berulang tahun hari ini. Tolong ucapkan selamat ulang tahun.” 

Kepekaan kita akan sangat berpengaruh dalam membangun hubungan yang lebih manis, serta menghindarkan kita dari berbagai masalah yang tidak perlu. 

… dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. – Filipi 2:3-4

Dalam jangka panjang, mengusahakan ladang di area kepekaan ini akan sangat berguna. Jika kelak Anda dikaruniai anak, ada saatnya mereka belum bisa bicara atau mengerti apa yang Anda katakan. Kepekaan melihat kebutuhan anak dan pasangan melampaui apa yang mampu mereka katakan akan berpengaruh besar dalam dinamika rumah tangga Anda. 

Area 4: Mendengarkan

Apakah Anda benar-benar mendengar apa yang orang lain katakan kepada Anda? Yang dimaksud di sini bukanlah mendengarkan fakta (hearing), di mana Anda sibuk menyiapkan jawaban atau sahutan untuk lawan bicara. Bukan pula dengan malas-malasan atau ala kadarnya. Atau, hanya mau mendengar kalau topiknya menarik bagi Anda. Benar-benar mendengarkan (listening) berarti berusaha untuk mengerti, sebagai wujud kasih Anda kepada orang tersebut. 

Saya termasuk orang yang susah mendengarkan. Saya mudah bosan kalo mendengarkan curhat yang panjang. Jika sedang berbincang di telepon, saya bisa sembari mengecek akun medsos di ponsel. Ada kalanya saya tidak fokus kepada cerita lawan bicara dan buru-buru menyodorkan solusi. Akhirnya, saya malah menciptakan masalah baru, karena terkadang orang tidak butuh solusi, tetapi hanya ingin didengarkan.

Jika hari ini Anda masih belum mampu mendengarkan orang lain dengan baik, mulailah berlatih. Ini adalah ladang yang penting dan bermanfaat untuk Anda garap. Dengan mendengarkan, Anda dapat menyerap informasi lebih banyak. Anda dapat mengasihi dengan cara yang tepat, memberikan kado yang pas, atau memesan menu makanan yang sesuai selera pasangan. 

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. – Yakobus 1:19

Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya. – Amsal 18:13

Mari kita lihat empat area lain yang perlu Anda usahakan sebelum memasuki masa pacaran di halaman selanjutnya. 

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: