gkdi lagu

Orang beriman tentunya ingin memiliki karakter yang baik, tetapi hal ini tidak dapat diperoleh secara cepat dan mudah. Karakter terbentuk dari setiap hal yang terjadi dalam kehidupan kita, baik lewat masa-masa baik maupun sulit. Namun, ada kalanya kita merespon kondisi yang tak terduga dengan cara yang kurang tepat. Kita cenderung menyerah, sehingga tidak bertumbuh dalam karakter yang kita inginkan.

Bagaimana seharusnya kita merespon dan mengubah sudut pandang bahwa Tuhan memakai kesulitan untuk mendatangkan kebaikan serta membentuk kita?

Yusuf: Digembleng lewat Kesulitan Hidup

karakter - gkdi 1

Yusuf adalah anak kesayangan Yakub, putra yang begitu dinanti-nantikan, karena ibunya Rahel sebelumnya mandul (Kejadian 30). Yakub memberikan Yusuf jubah yang sangat indah, dan ini membuat saudara-saudaranya iri. Ditambah pula, ia mendapatkan mimpi besar sebanyak dua kali, yang membuat ia semakin dimusuhi oleh mereka (Kejadian 37:3-4).

Karena iri hati, saudara-saudaranya kemudian menjual Yusuf. Dalam sekejap, jalan hidupnya berubah total. Dari putra kesayangan yang hidup nyaman, Yusuf menjadi budak di negeri asing dan jauh dari keluarga. Ia difitnah oleh istri majikannya, lalu dipenjara. Setelah menolong juru minuman raja, yang kelak membantunya keluar dari penjara, Yusuf mengartikan mimpi Firaun dan akhirnya menjadi orang yang berkuasa di Mesir.

Dari karakter Yusuf, kita belajar bagaimana keputusan yang ia ambil menentukan pertumbuhan rohaninya.

1. Karakter 1: Menyadari Penyertaan Tuhan

karakter - gkdi 2

Jawab mereka kepadanya: ”Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya.” Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.” – Kejadian 40:8)

Yusuf menyahut Firaun: “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun.” – Kejadian 41:16

Yusuf pernah bekerja di posisi paling rendah sebagai hamba dan posisi yang sangat tinggi sebagai penguasa Mesir. Terlepas dari apa pun jabatannya, ia selalu konsisten dengan sikap imannya. Yusuf sadar akan penyertaan Tuhan dan selalu mengandalkan Dia. Ia tahu bahwa tanpa Tuhan, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.” – Kejadian 39:21

Tuhan menyertai Yusuf yang tidak pernah menyerah atau mengasihani diri sendiri. Ia tidak melihat masa-masa sulit sebagai akhir dari segalanya, tetapi memilih untuk menerima situasi. Inilah yang membuat Yusuf senantiasa memiliki inisiatif, bahkan mampu memberikan yang terbaik dalam setiap hal yang dipercayakan kepadanya.

Yusuf bisa saja berkompromi dan menyerah ketika menghadapi godaan, seperti ketika ia dirayu oleh istri Potifar. Ia bisa menyerah, protes, atau marah karena jalan hidupnya yang naik-turun seperti roller coaster: “Kenapa saya harus melalui semua ini? Kenapa saya diberi mimpi-mimpi besar yang tidak sesuai dengan kenyataan? Ini tidak adil!”

Mungkin Anda tidak bisa menerima situasi yang Anda hadapi saat ini. Anda merasa berhak mendapatkan hal yang lebih baik. Atau, Anda sedang tergoda untuk berkompromi dengan dosa. Bagaimana caranya melewati tantangan semacam ini?

Melihat Lebih Jauh dari Apa yang Terlihat

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. 

“Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.”

– Kejadian 45:5-7

Ketimbang berfokus pada kondisi-kondisi yang tidak ideal atau tidak menyenangkan, Yusuf belajar untuk memahami apa rencana Tuhan. Pada akhirnya, ia melihat bahwa Tuhan memakai dirinya untuk menjaga bangsa Israel dan orang-orang yang mengalami kesulitan.

Karakter Yusuf bertumbuh, karena alih-alih mengeluh dan menyalahkan Tuhan, ia melihat penyertaan Tuhan dalam setiap kesulitan yang menimpanya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita menggunakan situasi sulit untuk menumbuhkan karakter kita? Apakah di masa yang kurang baik pun, kita tetap percaya bahwa ada rencana Tuhan di balik semua itu?

2. Karakter 2: Tidak Egois dan Mau Peduli pada Orang Lain

karakter - gkdi 3

Terbiasa dimanja oleh ayahnya mungkin membentuk Yusuf menjadi orang yang kurang peka. Saat mengenakan jubah indah pemberian beliau, Yusuf tidak memikirkan bagaimana perasaan saudara-saudaranya, yang tidak mendapat kasih sebesar yang ayah mereka berikan kepadanya. Saat menceritakan mimpi-mimpi besarnya, Yusuf juga tidak berpikir bahwa itu akan menyakiti hati mereka.

Namun, kehidupan di penjara akhirnya mengubah karakter Yusuf. Ia menjadi orang yang lebih peduli pada orang lain di sekitarnya.

Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: “Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?” Jawab mereka kepadanya: “Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya.” Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.” –  Kejadian 40:7-8

Selama masa tahanannya, Yusuf belajar menunjukan kepedulian kepada orang lain, serta mengungkapkan niat yang tulus untuk membantu mereka. Padahal, ia bisa saja bersikap cuek, terlarut dalam kesulitannya sendiri, atau puas dengan posisinya sebagai tahanan yang disukai kepala penjara.

Alih-alih, Yusuf melihat bahwa ia bukan satu-satunya orang yang mengalami kesulitan berat dan kekecewaan. Karenanya, ia bisa memahami kebutuhan orang lain yang sedang menjalani hal serupa. Masa-masa sulit menumbuhkan empati, kasih, dan kepedulian di dalam diri Yusuf.

Apakah masa-masa sulit membentuk kita menjadi orang yang cuek dan egois? Apakah kita hanya berkutat dengan diri sendiri saja, atau memilih untuk memperhatikan sesama dan menawarkan bantuan?

Masa sulit bisa menjadi periode yang penuh keputusasaan, atau justru membuat kita bertumbuh seperti Yusuf. Mari belajar untuk selalu melibatkan Tuhan, berusaha memberikan yang terbaik, dan mengembangkan empati kepada orang-orang di sekitar kita. Jika kondisi Anda saat ini tidak ideal, jangan putus asa! Tuhan berjalan bersama Anda, sama seperti yang telah Dia lakukan bersama Yusuf. Amin.

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

Contoh: Setiabudi, Jakarta Selatan

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: