Devotionals
Kenali Jebakan Toxic Productivity dan Cara Mengatasinya
Tuntutan untuk terus produktif justru bisa mengarah kepada toxic productivity. Apa itu toxic productivity, dan bagaimana menyiasatinya?
Rina adalah seorang pegawai swasta yang giat bekerja. Jika rekan-rekannya menghabiskan delapan jam sehari di kantor, ia bisa menghabiskan 9-10 jam. Lembur dengan kopi atau mi instan sering ia jalani. Jika tidak memiliki tugas untuk dikerjakan, Rina gelisah luar biasa. Di luar jam kerja, ia mengikuti banyak seminar untuk meningkatkan kemampuannya. Nasihat teman-temannya agar ia beristirahat selalu Rina abaikan.
Selama pandemi COVID-19, Rina bekerja di rumah, tetapi kebiasaan di atas tetap mengikutinya. Berjam-jam ia menatap layar komputer, bahkan makan dan minum pun dilakukan sembari kerja. Baru bangun tidur, Rina sudah memeriksa laporan dan mempersiapkan diri untuk meeting. Terkadang ia mengeluh tidak enak badan atau sakit, tetapi memaksakan diri bekerja. Istirahat itu buang-buang waktu, katanya. Ia takut tidak bisa mencapai hidup yang diimpikan.
Tanpa sadar, Rina telah terjebak dalam toxic productivity.
Mengapa Orang Terjebak Toxic Productivity?
Kisah di atas memang fiksi. Namun, Anda mungkin menemukan kesamaan dari pengalaman Rina dalam hidup Anda. Demi mencapai target dan impian, ditambah dengan ketatnya kompetisi, Anda bisa terdorong untuk menerapkan toxic productivity. Anda merasa bersalah ketika beristirahat atau tidak mengerjakan sesuatu.Toxic productivity adalah sebuah obsesi yang tidak sehat untuk terus produktif di setiap waktu, tak peduli caranya dan biayanya. Anda ingin mencapai atau menghasilkan lebih banyak daripada orang lain, meskipun harus mengorbankan kesehatan dan kualitas hidup anda. Lebih-lebih di masa pandemi, ketika jam kerja terasa lebih panjang, rapat tidak kenal waktu, dan panggilan kerja bisa sewaktu-waktu datang.
Lantas, mengapa pola pikir seperti ini bisa muncul?
1. Pengaruh Media Sosial dan Internet
Lewat media sosial, orang bisa dengan leluasa memamerkan prestasi mereka, utamanya dalam hal karier. Ditambah lagi, maraknya budaya show off akan pencapaian materi, seperti uang, mobil, rumah, dan liburan. Fenomena ini cepat menyebar dan memengaruhi banyak orang untuk mencapai hal serupa dalam hidup mereka.Sekilas, memang tidak salah untuk menunjukkan apa yang telah Anda capai kepada khalayak umum. Akan tetapi, hal ini dapat menciptakan motivasi yang keliru. Orang jadi bekerja begitu keras tanpa memperhatikan kebutuhan atau kesehatannya sendiri. Sementara, apa yang dipamerkan di media sosial sebenarnya semu. Belum tentu cara yang sama dapat membuahkan hasil yang sama bagi orang lain.
Begitu banyak akun media sosial dan tips di internet yang meninggikan produktivitas dan kerja keras. Mereka bisa menjadi motivasi yang baik untuk mengarahkan hidup Anda, tetapi berhati-hatilah agar tidak terjebak dalam budaya kerja yang ekstrem atau toksik.
2. Target atau Impian yang Terlalu Tinggi
Adalah wajar jika seseorang memiliki target dalam hidup. Misalnya, punya tabungan dalam jumlah sekian di usia tertentu, mencapai jabatan manager setelah sekian tahun bekerja, atau membangun usaha dalam beberapa tahun. Semua itu baik. Justru, hidup tanpa target itu berbahaya, karena Anda akan hidup tanpa tujuan.Di sisi lain, Anda perlu bijak dalam menentukan cara dan waktu untuk mencapai target Anda. Tidak perlu mengorbankan segalanya, apalagi sampai merusak diri sendiri demi mencapai semua impian Anda.
Ketika Anda bekerja sepuluh hingga sebelas jam sehari hanya untuk memastikan bos Anda melihat pencapaian Anda, di situlah produktivitas menjadi bumerang. Karena ingin jadi pengusaha di usia 30 tahun, lalu bekerja sedemikian keras hingga mengorbankan kesehatan, atau mengirit mati-matian demi modal usaha, di situlah toxic productivity merasuki.
3. Kekhawatiran akan Masa Depan
Kondisi dunia saat ini lebih tidak pasti dan selalu berubah setiap waktu. Job security semakin sulit ditebak. Sebuah studi untuk World Economic Forum tahun 2020 menemukan bahwa 54% dari 12.430 responden menyatakan mereka khawatir akan kestabilan pekerjaan mereka.
Masalahnya, ketakutan ini dapat berujung pada toxic productivity. Produktivitas seseorang terpacu bukan karena ingin memberi lebih, tetapi karena takut menganggur. Orang selalu dikejar keinginan untuk bekerja lebih banyak, terus menambah keahlian, supaya merasa aman di tempat kerja. Sayang, bukannya merasa lebih aman, mereka justru jadi terus-menerus khawatir.
Produktivitas yang Malah Tidak Produktif
Pola pikir toxic productivity adalah sebuah ilusi. Anda kelihatan seperti sedang memacu diri untuk berkembang dan menghasilkan lebih banyak. Kenyataannya, Anda mengorbankan begitu banyak hal penting dalam hidup untuk mengejar impian yang semu. Alih-alih mencapai target, Anda malah kelelahan, frustrasi, bahkan mengalami sindrom burnout, di mana motivasi bekerja menjadi nol sama sekali.Hilangnya batas antara pekerjaan dan hidup pribadi meningkatkan risiko sindrom burnout. Laporan agensi tenaga kerja, Indeed, Maret 2021, mencatat bahwa 52% dari 1500 pekerja Amerika Serikat menderita burnout karena hilangnya batas antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Selain itu, 27% responden menyatakan tidak mampu mengalihkan diri dari pekerjaan (unplug).
Bicara masalah kesehatan, bekerja tanpa istirahat yang cukup akan menurunkan kinerja tubuh, mulai dari daya ingat, konsentrasi, kemampuan memutuskan, bahkan bisa mengakibatkan kematian. Di Jepang, istilah karoshi muncul untuk orang yang meninggal karena terlalu lama bekerja. Anda tentu tidak menginginkan hal ini, bukan?
Waktu yang seharusnya Anda luangkan untuk berelasi dan berteman juga digunakan untuk bekerja. Akibatnya, Anda jadi merasa sendirian, kesepian, serta rentan terkena depresi. Padahal, relasi dan pertemanan yang erat sangat penting untuk meraih hidup yang bahagia.
Pendek kata, toxic productivity bukanlah jawaban untuk meningkatkan produktivitas kita. Jadi, bagaimana menjadi produktif dengan cara yang benar?
Kiat Capai Produktivitas yang Benar
Jalankan tiga cara berikut agar produktivitas Anda tidak beracun bagi diri Anda:1. Dedikasikan Pekerjaan untuk Tuhan
Mulailah dengan menyadari untuk siapa Anda sebenarnya bekerja. Seperti yang dikatakan Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”Mungkin selama ini Anda bekerja sekuat tenaga demi menyenangkan atasan atau diri sendiri. Sekarang, cobalah bayangkan bahwa Anda bekerja demi Tuhan dan kemuliaan-Nya.
Jika Anda bekerja demi Tuhan, relakah Anda memeras diri sendiri? Jika Anda mendedikasikan karier Anda untuk Tuhan, bisakah Anda mulai bekerja tanpa melakukan saat teduh?
Anda boleh saja bekerja keras, tetapi ingatlah bahwa hasilnya ada di tangan Tuhan. Seperti yang tertulis di Mazmur 127:2, “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah--sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur.”
2. Seimbangkan Kehidupan Pribadi dan Karier
Hidup yang benar adalah hidup yang seimbang. Anda memerlukan keseimbangan antara bekerja dan beristirahat agar Anda senantiasa sehat dan siap menghadapi tantangan.Belum yakin soal ini?
Kejadian 2:2-3 mencatat, “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.”
Allah yang mahakuasa sekali pun beristirahat setelah menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah ini adalah pertanda bahwa kita pun membutuhkan work-life balance? Anda butuh jeda dari pekerjaan, tidak hanya untuk menyenangkan diri Anda, tetapi juga untuk terhubung dengan Tuhan. Ingat bahwa Yesus, bahkan di tengah kesibukan-Nya, tetap menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Bapa-Nya (Matius 14:23, Markus 1:35).
Sukses yang sejati hanya dapat Anda peroleh dengan perencanaan waktu dan hidup yang seimbang.
3. Work Smarter, Not Harder
Bekerja dengan smart atau cerdas berarti Anda bekerja dengan strategi dan prioritas yang tepat, agar setiap hari menjadi hari yang betul-betul produktif.Banyaknya waktu yang tersita untuk menyelesaikan pekerjaan bukanlah patokan bahwa Anda produktif. Cara mengerjakan dan menyelesaikan tugaslah yang menentukan apakah Anda bekerja dengan produktif atau tidak. Terlebih, dengan tipisnya batas antara pekerjaan dan hidup sehari-hari selama masa WFH (work from home), pandai menyiasati waktu kerja menjadi sebuah kemampuan yang penting.
Berikut tips untuk work smart:
-
- Buat sistem dan strategi untuk mengerjakan hal-hal yang menjadi prioritas utama, serta kapan tenggat waktunya.
- Fokuslah dengan rencana tersebut. Jika ada permintaan tugas yang sekiranya akan menyita fokus Anda, tolaklah secara halus sampai pekerjaan utama terselesaikan. Jauhkan diri dari gangguan (chat, surel, notifikasi dari aplikasi ponsel) supaya pekerjaan Anda dapat lebih cepat selesai dalam waktu singkat.
- Jika perlu, delegasikan pekerjaan Anda kepada orang lain, kalau Anda punya otoritas untuk hal tersebut. Dengan begitu, Anda bisa fokus pada pekerjaan yang memang harus Anda tangani.
- Evaluasi apa yang sudah dikerjakan. Ukur hasilnya: Berapa lama waktu yang Anda perlukan? Apakah memerlukan lebih banyak tenaga kerja (manpower)? Apakah membutuhkan alat / perangkat lunak lain yang dapat meningkatkan produktivitas Anda? Dengan senantiasa melakukan evaluasi, Anda akan semakin efektif, produktif, serta efisien, baik dari segi waktu maupun tenaga.
Bekerja dengan cerdas juga bisa membuka banyak peluang bagi Anda. Sebagaimana tertuang pada Amsal 22:29, “Pernahkah engkau melihat orang yang cakap dalam pekerjaannya? Di hadapan raja-raja ia akan berdiri, bukan di hadapan orang-orang yang hina.”
Produktivitas yang Memuliakan Tuhan
Pekerjaan Anda, seperti halnya hidup Anda, datang dari Tuhan. Maka, sudah sepantasnya bahwa semua yang Anda lakukan memuliakan Tuhan. Jadi, produktif saja tidaklah sempurna—produktif dan memuliakan Tuhan, itulah kombinasi yang sejati.Jangan biarkan toxic productivity mengisap hidup Anda dan menjadi lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Tinggalkan standar atau pencapaian tak realistis yang tidak membantu Anda.
Jadilah produktif dalam bekerja agar Anda punya waktu untuk hal-hal lain, seperti keluarga, sosialisasi, diri sendiri, Tuhan, komunitas, lingkungan, dan lain-lain. Dengan demikian, Anda bukan hanya produktif, tetapi juga berdampak bagi dunia, karena hidup Anda menjadi inspirasi bagi banyak orang. Amin!
-
Referensi: www.aljazeera.com/economy/2020/10/19/bbmore-than-half-of-workers-worldwide-fear-theyll-lose-their-jo#:~:text=The%20poll%20of%2012%2C430%20people,cease%20in%20the%20next%20year www.indeed.com/lead/preventing-employee-burnout-report www.psychologytoday.com/us/blog/am-i-right/201204/real-happiness-isnt-feeling lucemiconsulting.co.uk/work-smarter-not-harder
Related Articles:
- Saat Bimbang Melanda Hidup Orang Percaya
- How to Train Your Mind: Melatih Pikiran agar Selalu Positif
- Ubah Cara Berpikir: Menguntungkan atau Merugikan?
- Kristen Sejati atau Kristen Ikut-ikutan?
- Bijak seperti Semut: Kelola Uang dengan Strategi Tepat
ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya