Saya dibesarkan dalam keluarga penyuka sepak bola. Pada Piala Dunia 1994, ayah saya sukses menularkan kecintaannya pada sepak bola kepada saya. Bersama Ayah, saya menonton semua pertandingan Piala Dunia, juga membeli buku-buku tentang sepak bola, kaus jersey tim, serta video sejarah sepak bola. Kenangan itu membentuk saya menjadi seorang penggila sepak bola hingga sekarang.

Ketika saya belajar Alkitab dan mulai mengenal hati Tuhan, timbul pertanyaan menggelitik:

“Bagaimanakah diri saya di mata Tuhan dalam perspektif sepakbola? Apakah saya Cristiano Ronaldo-nya Tuhan? Atau Lionel Messi-Nya? Atau, jangan-jangan saya hanya pemain tarkam (antarkampung) dari segi kekristenan?”

Untuk memeriksa seberapa dalam hubungan saya dengan Tuhan lewat perspektif sepak bola, saya membuat beberapa klasifikasi:

1. Kristen Penonton

kristen - gkdi 1

Penonton sepak bola biasanya berkunjung dari stadion ke stadion untuk mengikuti pertandingan tim favorit mereka. Mereka mengamati di pinggir lapangan, alias tidak terlibat permainan sesungguhnya. Kerjanya hanya bernyanyi dan tepuk tangan. Mengukur kebahagiaan penonton sepak bola itu mudah: mereka senang kalau timnya mencetak gol dan sedih jika gawangnya kebobolan.

Serupa karakter itu, Kristen Penonton (seperti saya dulu) adalah mereka yang berpindah-pindah gereja cuma untuk bernyanyi, tepuk tangan, dengar khotbah, lalu pulang. Kristen Penonton hanya duduk di kursi jemaat dan ogah terlibat pelayanan. Seringnya, mereka cari gereja dekat rumah, dan kalau bisa, yang punya jadwal ibadah agak sore supaya bisa tidur lebih panjang.

Persis penonton sepak bola yang indikator kebahagiaannya tergantung gol, saya pun dulu mengukur kebaikan Tuhan cuma dari berkat-Nya. Kalau lagi dapat berkat berlimpah, saya langsung semangat mencari Tuhan. Ketika rezeki menipis, saya bersungut-sungut kepada Tuhan.

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah.” — Filipi 2:14-15

2. Kristen Komentator

kristen - gkdi 2

Komentator sepak bola adalah orang yang bertugas memprediksi dan mengulas isi pertandingan, serta mencermati aksi masing-masing tim. Biasanya mereka paham betul sejarah, taktik, dan formasi sepak bola. Namun, seorang komentator belum tentu jago bermain sepak bola. Tugasnya hanyalah memberi komentar berdasarkan teori, bukan praktik bermain bola.

Saya pribadi sempat berada di posisi Kristen Komentator. Saat itu, saya merasa sudah menguasai isi Alkitab. Tahu sejarah dan perkembangan gereja. Namun, hidup saya penuh dosa percabulan dan perzinahan. Dengan kata lain, saya jago berteori saja. Bahkan, untuk menutupi kecemaran ini, saya menjadi orang yang gemar mengkritik gereja di sana-sini karena merasa paling pandai dan berjasa. Saya tidak melihat ke dalam diri, tidak menjalankan perintah Tuhan untuk menjaga kekudusan dan melakukan penginjilan.

Di situlah, saya menjadi Kristen Komentator: jago ngomong soal firman, tapi tidak menjadi pelaku firman.

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” – Matius 6:1-5

3. Kristen Amatir

kristen - gkdi 3

Pemain sepak bola amatir (seperti saya sekarang) menjadikan sepak bola bukan sebagai profesi, melainkan hobi atau olahraga semata. Mereka tidak punya pola latihan rutin, apalagi disiplin pola makan dan tidur. Tidak juga terikat kontrak, serta punya pekerjaan lain sebagai mata pencarian. Intinya, sepak bola bukanlah hal utama yang harus diperjuangkan habis-habisan dalam hidup, karena hanya sebagai medium kesenangan belaka.

Berdasarkan analogi tersebut, maka Kristen Amatir adalah mereka yang sudah terlibat pelayanan, tetapi tidak menjadikan Tuhan sebagai prioritas utamanya. Pelayanan dijadikan peluang pertemanan atau networking, pencurahan hobi atau kesenangan, baik yang sifatnya materi maupun nonmateri.

Kristen Amatir menganggap kekudusan bukanlah hal yang harus diperjuangkan, seperti halnya pesepak bola amatir tidak menganggap penting kemenangan.

Berapa banyak dari kita yang melayani di satu gereja hanya karena sejak lahir terbiasa dibawa ke sana? Atau, karena teman-teman seiman yang asyik berkumpul di situ? Karena kita suka dengan musik gereja itu yang keren? Atau, jangan- hanya karena gereja kita dekat rumah? Dulu saya hanya mau melakukan pelayanan musik di gereja karena merasa Tuhan cuma memberi saya talenta musik saja. Saya menyeleksi pelayanan sesuai kegemaran.

Tak dapat dipungkiri, keahlian utama kita dapat memberi manfaat besar bagi sebuah pelayanan, tetapi cobalah tidak membatasi diri. Atau sebaliknya, berkecil hati karena belum mahir dalam suatu keahlian yang dibutuhkan. Akibatnya, kita lupa pelayanan yang diamanatkan Tuhan Yesus Kristus sendiri:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” – Matius 28:19

Suka tidak suka, kita harus keluar untuk menginjil. Bukan malah memilah-milah pelayanan mana yang menyenangkan buat kita.

4. Kristen Profesional

kristen - gkdi 4

Pemain sepak bola profesional mencurahkan segenap hati dan tenaga untuk menjadi atlet yang berkomitmen dan berdisiplin tinggi terhadap bidangnya. Sebagai contoh, Christiano Ronaldo berlatih rutin lima jam setiap hari, ditambah push-up dan sit-up 3000 kali untuk membentuk otot-ototnya.

Tidak hanya membangun fisik prima, pemain profesional pun dituntut memberikan yang terbaik dalam setiap pertandingan, yaitu kemenangan. Mereka tidak boleh tergantung mood. Walaupun sedang punya masalah pribadi, mereka tetap fokus bermain untuk tim, bukannya diatur suasana hati. Pemain profesional juga dituntut berprestasi, berdasarkan jumlah gol, kemenangan, dan piala yang ia peroleh selama berkarir.

Kristen Profesional adalah mereka yang hidup matinya hanya untuk memuliakan serta memperbesar kerajaan Allah. Tindakan mereka mengacu pada amanat agung Tuhan yaitu, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Mereka selalu siap sedia menginjil, membaptis, dan mengajar, di mana pun, kapan pun.

Tidak hanya jago dan berani menuturkan firman, mereka juga jawara dalam menjaga kekudusan. Tidak bersungut-sungut dalam keadaan sulit. Disiplin melakukan saat teduh sebagai nutrisi iman. Seorang Kristen Profesional takkan mengukur kebaikan Tuhan cuma dari berkat yang diterima. Dia sadar bahwa menjadi murid Yesus sudah merupakan hadiah terindah yang tidak dapat dibayar dengan apapun.

Kristen Profesional jago mengasihi musuh dan punya prinsip untuk menang melawan dosa setiap hari. Bahwa, “Hidupku harus sempurna, karena Bapaku sempurna.” (Matius 5:48).

Prestasi Kristen Profesional juga dilihat dari buahnya

Pertama, buah-buah roh, misalnya perubahan hidup. Kedua, buah-buah manusia, yaitu berapa orang yang dia injili dan jadikan murid Yesus. Buah-buah ini merupakan bukti nyata bahwa firman Allah hidup di dalam kita.

“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” – Galatia 5:22-25

Apabila saat ini kita belum berbuah, barangkali kita masih menjadi Kristen Amatir. Jangankan berbuah, hidup kita bahkan tidak berubah, lagi-lagi jatuh dalam dosa yang sama. Masih malas ke gereja, gemar berkomentar tanpa solusi, suka bersungut-sungut, melayani Tuhan dengan motivasi yang salah, dan lain-lain.

Ini membuat orang lain tidak melihat karakter Yesus dalam hidup kita. Akibatnya, setiap firman yang keluar dari mulut kita menjadi sia-sia, karena firman itu tidak hidup dalam diri kita.

Nah, di manakah posisi kita sekarang? Seorang Kristen Penonton, Komentator, atau Amatir?

Kalau belum, mari kita disiplin dan bekerja keras melatih otot-otot rohani kita supaya bisa menjadi seorang Kristen Profesional!

Artikel ini diedit dari juara pertama (Yeremia Yordan Bijaksana) dalam GKDI Writers Day 2018.

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official: WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Panduan Doa Kristen Menurut Perikop ‘Doa Bapa Kami’

Video inspirasi: