Tema bulan November terambil dari 1 Korintus 16: 15. Di dalamnya tertulis, “They have devoted themselves to the service of the Lord’s people.”

Alkitab terjemahan NIV sudah disesuaikan agar cocok dan dan mudah dimengerti oleh semua denominasi. Namun, terjemahan yang lebih sesuai terdapat dalam KJV dan MEV.

You know the house of Stephanas, that it is the first fruits of Achaia, and that they have devoted themselves to the ministry of the saints. – 1 Corinthians 16:15 MEV

Disebutkan bahwa surat Paulus ini ditujukan untuk ministri orang-orang kudus. Pertanyaannya, siapakah orang kudus itu? Apakah rasul, para martir, atau orang suci? 

Di dalam 2 Korintus 1:1, Roma 1:7, Efesus 1:1, Filipi 1:1, dan Kolose 1:2, Paulus menyebutkan jemaat sebagai orang-orang kudus. Namun, apakah benar orang-orang di Korintus adalah orang kudus?

Jika kita melihat profil dari jemaat di Korintus, mereka adalah jemaat yang terpecah belah (karena adanya favoritisme), banyak perselisihan, punya karakter yang buruk (merasa berhikmat, sombong), melakukan percabulan, hingga memiliki keyakinan yang dangkal, dll.

Jadi, apakah mereka orang kudus, pendosa, atau pembuat masalah?

Orang kudus adalah bukanlah orang yang sempurna. Mereka adalah orang yang mau mengikut Tuhan, yang masih dapat berdosa.

Jadi, pelayanan kepada orang kudus adalah:

1. Pelayanan kepada Orang Lemah

2. Pelayanan kepada Orang Berdosa

Jika jemaat di Korintus disebutkan sebagai orang-orang kudus, terlepas dari segala pergumulan mereka, dapatkah kita mengharapkan kondisi yang sempurna dalam gereja kita saat ini?

“A church is a hospital for sinners, not a museum for saints” – Abigail Van Buren

Lalu, bagaimana kita memandang dan memperlakukan orang-orang yang berdosa?

Dengan cara menggosipkan mereka? Memandang mereka rendah? Memperlakukannya secara berbeda? Atau tidak lagi memberikan kesempatan untuk mereka bertobat?

Setiap jemaat Tuhan adalah orang-orang kudus. Meskipun mereka berdosa, tetapi mereka masih punya kesempatan untuk bertobat dan diselamatkan. Inilah cara pandang yang harus kita miliki terhadap jemaat Tuhan. Tidak saling menghakimi, melainkan berjuang bersama untuk semakin mirip dengan Tuhan.