Menjadi Teman Diskusi: Cara Terbaik Mendidik Remaja Anda

Gereja gkdi lagu

Pernahkan Anda berpikir memiliki teman diskusi, tetapi tak lain adalah anak remaja Anda sendiri? Dulu ketika anak saya masih kecil, saya kerap mendengar nasehat, bahwa ketika anak dewasa, orang tua harus menjadi teman bagi anak mereka. Itu adalah salah satu cara parenting yang baik. Namun, tahukah Anda apa alasannya? 

Mengapa Perlu Menjadi Teman Diskusi Anak?

1. Sadar bahwa Anak Anda Tidak Lagi Anak-Anak

Diskusi-gereja-gkdi 1

Ketika anak masih kecil, orang tua cenderung mengontrol anak, seperti kapan anak makan, istirahat, belajar, dan bermain. Orang tua memimpin, sedangkan anak mengikuti instruksi yang diberikan. Bahkan, orang tua juga memutuskan banyak hal tentang diri anak, seperti gaya berpakaian, model rambut, dan hal lainnya. 

Anak-anak juga tidak boleh pergi sendirian. Mungkin juga, teman bermain, orang tua yang pilihkan. Jika orang tua yang terlalu protektif, mungkin anak mereka juga dilarang bermain dengan anak-anak lain. 

Namun, ketika anak beranjak remaja, orang tua harus menyadari bahwa anak mereka sudah bukan anak-anak lagi. Terima atau tidak, suka ataupun tidak suka, Anda harus mengubah cara Anda memperlakukan anak. Anda harus mulai pelan-pelan mengurangi kendalinya atas hidup anak. Dan mulai mengarahkan mereka untuk bisa mengatur hidupnya sendiri dan membuat keputusan sendiri, seperti layaknya orang dewasa. 

Hubungan yang tadinya lebih bersifat satu arah dari orang tua kepada anak saja, kini pun bergeser menjadi dua arah. Seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan, seorang akan bisa mulai menjadi teman, bahkan teman diskusi bagi orang tua. Ketika seorang anak beranjak dewasa, mulai perlakukan dia sebagai orang dewasa juga.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 1 Korintus 13:11 

2. Anak-Anak Beranjak Dewasa, Orang Tua pun harus Bertumbuh

Diskusi-gereja-gkdi 2

Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!  1 Korintus 14:20

Anak-anak beranjak dewasa. Orang tua pun harus menyesuaikan diri dengan cara mendidik dan edukasi yang paling pas dengan mereka. Orang tua tidak bisa mendidik dengan cara satu arah apalagi dengan gaya otoriter.

Jika Anda dapat memposisikan diri sebagai teman, tidak susah untuk masuk ke dunia mereka. Hasilnya, Anda dapat menjalin hubungan yang baik dengan anak. Bahkan, anak Anda dapat dengan leluasa terbuka, nyaman, secure, dan mungkin Anda akan menjadi tempat curhat pertama mereka yang mereka cari ketika mereka ada masalah

Bagaimana Cara Orang Tua menjadi Teman Diskusi Anak?

1. Menjadi Pendengar yang Baik

Diskusi-gereja-gkdi 3

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;  Yakobus 1:19

Sebagai orang tua, acapkali kita merasa lebih superior daripada anak. Merasa lebih banyak tahu, lebih banyak pengalaman, dan lebih mengenal dunia. Akibatnya, tanpa sadar orang tua, alih-alih menjadi pendengar yang baik, malah menjadi penasehat. Anak belum bicara apa-apa, orang tua sudah “ngoceh”, memberi solusi, penilaian, menarik kesimpulan, bahkan menghakimi anak. 

Bayangkan, jika kita memiliki teman yang seperti ini. Apakah Anda akan merasa nyaman dengan teman yang seperti ini? Tentunya, kita akan merasa tidak nyaman. Nah, begitu juga dengan anak Anda. Jika Anda bersikap demikian, tentu anak Anda pun tidak akan merasa nyaman

Jika ini yang Anda lakukan, mungkin secara perlahan anak remaja Anda akan menjauh atau menjaga jarak dari Anda. Atau bisa jadi, dia menjadi orang yang people pleaser atau bermuka dua. Mereka hanya bersikap baik atau jaga image di hadapan Anda, hanya supaya tidak dimarahi atau dinasehati Anda. Mungkin kelihatannya anak tidak membantah dan menurut, tapi jauh di lubuk hatinya anak banyak kecewa dengan sikap orang tua yang tidak memberi telinga untuk mereka.

Jika ingin menjadi teman diskusi anak, orang tua tidak boleh egois. Dengarkan anak Anda, cerita-cerita mereka, entah itu baik atau buruk, penting maupun kurang penting. Jangan hanya tertarik untuk memberi nasehat, menegur, mengkoreksi, dan memberi ekspektasi saja.

Saat Anda telah menjadi teman baik anak Anda, Anda pun akan menuai hasilnya. Anda mungkin menjadi orang yang paling update tentang kehidupan anak Anda. Anda akan tahu apa yang dia rasakan, kemana mereka pergi, apa masalah yang sedang mereka hadapi, dan lain-lain. 

2. Sediakan Waktu

Diskusi-gereja-gkdi 4

Waktu cepat berlalu. Dalam sekejap mata, tiba-tiba anak-anak kita telah dewasa. Dan jika kita tidak memberikan waktu, kita bisa kehilangan momen-momen bersama, ketika mereka masih kanak-kanak.

Untuk itu jangan sia-siakan waktu. Jangan hanya sibuk dengan pekerjaan, karier, atau bisnis Anda. Tidak ada hubungan yang terbentuk tanpa Anda menginvestasikan waktu Anda di dalamnya. Kalau Anda ingin menjadi teman diskusi anak, sisihkan waktu khusus bersama anak. 

Dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.  Efesus 5:16 

Waktu yang Anda berikan tidak akan pernah sia-sia. Meskipun mungkin saat ini hubungan Anda dan anak masih belum baik, tetap berikan waktu untuk mereka. Bukan tidak mungkin, waktu inilah juga yang akan menjadi perekat hubungan antara Anda sebagai orang tua dengan anak. Percayalah, waktu yang Anda berikan akan menjadi kenangan yang indah bagi mereka ketika mereka dewasa kelak. 

Quality Time bersama Anak

Namun, dalam perjalanan untuk menjadi teman diskusi anak, ada proses yang Anda perlu lakukan. Kita tahu, sebuah hubungan yang baik tidak terbentuk dalam semalam atau semudah membalikkan telapak tangan. Jadi, hal-hal apa saja yang dapat Anda lakukan ketika sedang quality time bersama anak? 

  • Dengarkan cerita anak tentang apapun, seperti teman sekolahnya, kegiatan di sekolah, cita-citanya, impian, dan harapan anak. 
  • Tanyakan anak pertanyaan yang tepat. Jangan cuma bertanya hal-hal yang jawabannya hanya, “ya” dan “tidak” atau jawabannya singkat. Daripada bertanya, “Tadi makan apa?”, lebih baik tanyakan, “Tadi jam makan siang, kamu ngapain aja?” Dengan begitu, Anda akan mendapat jawaban yang lebih banyak. 
  • Gunakan waktu tersebut untuk mengajarkan anak pola pikir yang benar. Latih cara berpikir mereka, bukan hanya menetapkan aturan. Misalnya, anak mau pergi bersama teman-teman. Ajak anak berpikir, “Kegiatannya apa saja? Apakah tidak bahaya pergi sampai jam segitu? Ini masih pandemik lho.” Bukan hanya, “Tidak boleh pergi! Pandemi gini, tidak boleh kumpul-kumpul.”
  • Ajak anak berdoa bersama. Misalnya, ketika anak sedang bergumul memilih jurusan untuk mata kuliahnya kelak, Anda dapat mengajaknya doa bersama. 
  • Makan malam berdua. Sembari makan malam, ceritakan rahasia yang tak pernah diceritakan kepada siapapun, seperti kebodohan-kebodohan pada zaman remaja. Anda tidak perlu jaga image, sehingga anak pun merasa bahwa Anda, orang tua, juga bukan sosok yang sempurna tanpa cacat cela.  Hal ini penting supaya anak pun juga terpicu untuk lebih jujur, terbuka, real, dan secure sehingga ia pun tidak sungkan berbagi rahasia kecilnya kepada Anda. Anda juga tidak perlu ragu untuk membocorkan rahasia kecil ketika Anda remaja dulu
  • Lakukan hal-hal seru bersama (fun time). Misalnya, olahraga bersama, karaoke, nonton, travelling, dan lain-lain.

3. Jangan Sakiti Hati Anak, Tetapi Didiklah Mereka

Diskusi-gereja-gkdi 5

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. Efesus 6:4

Menjadi teman diskusi bagi anak remaja bukan berarti Anda menjadi orang tua yang kompromi. Kompromi dalam konteks ini maksudnya adalah membiarkan anak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip firman Tuhan dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. 

Apapun keinginan anak, firman Tuhan haruslah menjadi standar yang tidak dapat ditawar. Namun, cara kita menyampaikan kebenaran itu juga harus penuh kasih, agar anak tidak sakit hati atau merasa dibebani dengan begitu banyak aturan. Aturan pertamanya adalah, jangan sakiti hati anak. Dengan begitu, kita bisa mendidik anak di dalam ajaran Tuhan. 

Jangankan anak remaja Anda. Jika Anda sudah terlanjur disakiti oleh seseorang yang niatnya menolong dan membantu Anda, kira-kira, apakah ajaran yang disampaikan akan mengena di hati Anda? Kemungkinan besar, Anda akan menolak atau sudah mem-block duluan sebelum orang tersebut berbicara. 

Demikian juga anak remaja Anda. Jangan lekas-lekas menetapkan aturan mana yang boleh dan tidak boleh secara mutlak. Tetapi ajarkan dan didik mereka cara pikir atau sudut pandang yang sesuai dengan firman Tuhan. Dan pada akhirnya, biarkan mereka sendiri punya hikmat untuk menentukan, mana yang baik dan yang benar, apa yang diperbolehkan atau tidak. 

Saat anak Anda beranjak remaja atau dewasa, Anda tidak bisa lagi menggunakan cara mendidik seperti pada saat mereka masih kecil. Cara terbaik untuk mendidik mereka adalah dengan menjadi teman dan teman diskusi mereka. 

Dengan menjadi teman diskusi, anak tidak lagi merasa orang tua membosankan, menyebalkan, kaku dan tak asyik. Jika sudah menjadi teman, tentu mereka tidak akan sungkan berbagi cerita dengan Anda.  Begitu pula dengan Anda. Tidak susah untuk mendidik atau mengajarkan mereka hal-hal yang penting dalam hidup. Mari kita menjadi orang tua, sekaligus teman dan sahabat yang baik bagi anak remaja kita! Amin. 

Aku diajari ayahku, katanya kepadaku: “Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup. Amsal 4:4

 

– 

Related Articles:

 

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok