Teladan Para Raja yang Takut akan Allah

Apa pun jabatan atau posisi kita, biasanya ada pihak lain yang memimpin kita. Dalam keluarga, sebagai anak, kita tunduk kepada orang tua. Sebagai pegawai, kita tunduk pada atasan. Sebagai anggota jemaat, kita tunduk pada ketua kelompok persekutuan atau pendeta. Dan, sebagai warga negara, kita tunduk pada hukum dan peraturan, juga pada kepala negara kita.

Raja, presiden, dan perdana menteri adalah orang-orang yang dipilih Tuhan untuk memimpin sebuah negara. Perjanjian Lama mencatat kisah raja-raja Yehuda. Ada raja yang takut akan Tuhan; ada pula raja yang melakukan hal-hal jahat di mata-Nya.

Apa kebaikan yang boleh kita terima dari sikap takut akan Allah? Apa yang terjadi jika kita melakukan yang sebaliknya?

Kisah raja-raja Yehuda berikut memberi kita wawasan tentang apa yang bisa Tuhan kerjakan melalui hidup orang yang berkenan kepada-Nya.

1. Raja Asa (1 Raja-Raja 15:9-24, 2 Tawarikh 14:2-15)

raja - gkdi 1

Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya. Ia menyingkirkan pelacuran bakti dari negeri itu dan menjauhkan segala berhala yang dibuat oleh nenek moyangnya. Bahkan ia memecat Maakha, neneknya, dari pangkat ibu suri, karena neneknya itu membuat patung Asyera yang keji. Asa merobohkan patung yang keji itu dan membakarnya di lembah Kidron. – 1 Raja-Raja 15:11-13

Tidak berkompromi dengan dosa penyembahan berhala—itulah yang Raja Asa lakukan sebagai bukti rasa takutnya kepada Tuhan. Ia mengerti bahwa hanya Allah yang harus disembah, bukan patung. Bahkan, hubungan keluarga tidak menghalangi Raja Asa untuk menindak tegas para penyembah berhala, termasuk neneknya sendiri.

Katanya kepada orang Yehuda: “Marilah kita memperkuat kota-kota ini dan mengelilinginya dengan tembok beserta menara-menaranya, pintu-pintunya dan palang-palangnya. Negeri ini masih dalam tangan kita, karena kita mencari TUHAN Allah kita dan Ia mencari kita serta mengaruniakan keamanan kepada kita di segala penjuru.” Maka mereka melaksanakan pembangunan itu dengan berhasil. – 2 Tawarikh 14:7

Tuhan menghargai hati Raja Asa yang selalu berusaha melakukan apa yang benar di mata-Nya. Tak hanya mengaruniakan keamanan serta keberhasilan pembangunan negeri Yehuda, Tuhan juga memberi kemenangan dalam setiap peperangan bangsa itu. Ketaatan Raja Asa menjadikan hidup rakyatnya kuat dan sejahtera.

2. Raja Yosafat (1 Raja-Raja 22:41-50)

raja - gkdi 2

Ia hidup mengikuti jejak Asa, ayahnya; ia tidak menyimpang dari padanya dan melakukan apa yang benar di mata TUHAN. Hanya bukit-bukit pengorbanan tidak dijauhkan. Orang masih mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit itu. – 1 Raja-raja 22:43

Raja Asa meninggalkan teladan positif untuk putranya, Yosafat. Selama dua puluh lima tahun menjadi raja, Yosafat memimpin negerinya dalam ketaatan kepada Allah. Inilah bukti betapa pentingnya peranan orang tua dalam memberikan teladan takut akan Tuhan kepada anak-anak mereka.

Dan TUHAN menyertai Yosafat, karena ia hidup mengikuti jejak yang dahulu dari Daud, bapa leluhurnya, dan tidak mencari Baal-baal, melainkan mencari Allah ayahnya. Ia hidup menurut perintah-perintah-Nya dan tidak berbuat seperti Israel. – 2 Tawarikh 17:3-4

Karena Raja Yosafat hidup dalam takut akan Tuhan, negaranya aman, kota-kotanya makmur, dan pasukan militernya kuat. Negeri-negeri lain tidak berani berperang melawan Yehuda.

Dengan mematuhi perintah Tuhan, bukan berarti semua keinginan kita pasti dikabulkan. Namun, Tuhan akan memampukan kita mengerjakan berbagai hal yang positif dan benar.

3. Raja Uzia/Azarya (2 Raja-Raja 15:1-7, 2 Tawarikh 26:1-23)

raja - gkdi 3

Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, tepat seperti yang dilakukan Amazia, ayahnya. Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari TUHAN, Allah membuat segala usahanya berhasil. – 2 Tawarikh 26:4-5

Uzia diangkat menjadi raja saat usianya baru enam belas tahun. Selama memerintah, di bawah bimbingan Zakharia, Uzia selalu mencari Tuhan. Segala usahanya diberkati dan Raja Uzia memerintah Yehuda cukup lama, yaitu sekitar setengah abad.

Sayang, setelah mendapatkan kekuasaan besar, Uzia menjadi sombong dan tidak menghormati Tuhan.

Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan. – 2 Tawarikh 26:16

Kesombongan selalu mendahului kehancuran. Ketika Uzia berpaling dari Tuhan dan dengan lancang membakar ukupan (semacam dupa di mezbah), yang merupakan tugas imam-imam keturunan Harun, ia terkena kusta. Hingga akhir hayatnya, Raja Uzia tidak pernah sembuh dari penyakit tersebut.

Kita boleh piawai dalam bidang tertentu, juga mendapat pujian atas hasil kerja kita, tetapi selalu ingat: semuanya karena Tuhan. Jagalah diri agar tetap rendah hati. Bersyukurlah atas penyertaan Tuhan, sehingga kita mampu mengerjakan hal-hal yang menghasilkan kebaikan bagi banyak orang. Dan jangan lupa, selalu mawas diri agar kita tidak mengalami kejatuhan seperti yang dialami Raja Uzia.

Raja-raja Yehuda telah membuktikan bagaimana takut akan Tuhan selalu membawa kebaikan bagi hidup mereka. Mari kita tunjukkan rasa takut kepada Allah dengan tidak berkompromi dengan dosa, hidup seturut perintah-Nya, dan tetap rendah hati saat Tuhan membuat kita kuat dan maju. Amin.

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok