Berkurangnya aktivitas ekonomi dan proses produksi secara drastis akibat lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) selama pandemi COVID-19 ternyata berdampak positif bagi bumi. Para peneliti mengatakan, tingkat polusi kini menurun dan udara semakin bersih. Ini membuktikan bagaimana aktivitas manusia telah begitu merusak alam. 

Lantas, apakah wabah harus melanda dahulu agar bumi punya waktu menyembuhkan diri? Apa yang bisa kita lakukan sebagai pengikut Kristus untuk memelihara bumi?

Lindungi Bumi: Mulai dari Diri Sendiri

Ketika Tuhan menciptakan bumi dan segala isinya, semua itu baik adanya. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik (Kejadian 1:31a).” Setelah itu, Dia menugaskan manusia untuk mengelola bumi (Kejadian 1:26-28). Namun, akibat keserakahan manusia, lingkungan alam yang dipercayakan oleh Tuhan kian rusak, dan dampak destruktifnya berlanjut hingga hari ini.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia setiap 5 Juni merupakan salah satu upaya peringatan untuk menjaga kelestarian alam—terutama di tengah maraknya pembakaran hutan dan pembuangan limbah besar-besaran. Berbagai acara yang mendorong gaya hidup ramah lingkungan diadakan, seperti aksi menanam pohon, lokakarya daur ulang, pengolahan limbah rumah tangga, dan lomba bersepeda. Tujuannya, untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pentingnya melindungi bumi.

Upaya menjaga bumi dalam skala besar dilakukan oleh pemerintah, antara lain dengan dengan membuat aturan pengolahan limbah industri. Pihak berwenang juga memberi sanksi tegas kepada para pembakar hutan dan penebang liar, serta mendukung riset bahan bakar ramah lingkungan. Dengan kebijakan yang tepat, diharapkan proses produksi dan aktivitas ekonomi nasional bisa terus berjalan, sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sebagai umat Kristen, kita pun harus mendukung upaya melindungi bumi dari segala bentuk kerusakan. Hal ini kita lakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberikan dunia milik-Nya untuk kita tinggali.  

Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. – Mazmur 24:1

Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia. – Mazmur 115:16

Tidak perlu beralih profesi menjadi aktivis atau pegiat lingkungan hidup agar bisa berkontribusi menjaga alam. Semua orang bisa menyelamatkan bumi melalui kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan di rumah masing-masing. Skalanya memang kecil, tetapi jika dilakukan bersama-sama, efeknya tentu akan menjadi besar.

Memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, mari kita perhatikan sejumlah kebiasaan kita di rumah. Apakah kita sudah menyelamatkan atau justru tanpa sadar tengah merusak bumi yang kita cintai ini?

1. Minimkan Sampah dengan 3R

Reduce (Kurangi)

Dalam seminggu, berapa kali Anda pergi belanja dan berapa jumlah orang yang berbelanja di seluruh dunia? Saya pernah menghitung, sekurangnya ada 20 kantung plastik yang saya dapatkan dalam sekali belanja. Belum lagi saat membeli daging, plastiknya harus dirangkap dua agar tidak mengotori belanjaan yang lain. Bahkan, penduduk DKI Jakarta saja bisa menghasilkan 1000 ton sampah plastik setiap hari!

Plastik merupakan wadah dan pembungkus sekali pakai yang digemari di Indonesia. Benda ini kita pakai sebentar, tetapi butuh puluhan bahkan ratusan tahun untuk terurai. Tumpukan sampah kini mengendap di dasar lautan dan mencemari air. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membahayakan kesehatan kita sendiri melalui konsumsi makanan laut. 

Kita, khususnya kaum ibu, berperan penting mengurangi sampah plastik dengan membawa tas / kantung sendiri saat berbelanja ke pasar atau supermarket. Memang, membawa tas atau boks akan sedikit merepotkan. Namun, kalau itu bisa menyelamatkan bumi, kenapa tidak? Jadilah pelopor yang bisa menginspirasi orang lain untuk mengurangi sampah plastik. 

Menyiapkan sejumlah boks atau kontainer di bagasi mobil juga merupakan antisipasi yang bagus. Jika sewaktu-waktu Anda ingin singgah dan membeli sesuatu di tengah perjalanan, Anda tinggal gunakan wadah tersebut. Selain minim sampah, kendaraan Anda juga terhindar dari bau kurang sedap karena belanjaan tersimpan dalam wadah yang tertutup rapat.

Reuse (Gunakan Kembali) 

Daripada membuang pakaian dan barang bekas ke tong sampah, lebih baik Anda berikan kepada orang yang membutuhkan. Ajaklah anggota komunitas untuk menyumbangkan barang bekas layak pakai ke panti asuhan secara berkala. Bisa jadi, barang yang bagi Anda tidak berguna menjadi berkat yang luar biasa bagi orang lain. 

Saat bepergian, bawalah botol minuman permanen yang bisa diisi berulang kali ketimbang membeli minuman dalam kemasan. Pakailah saputangan sebagai ganti tisu. Gunakan sedotan baja alih-alih sedotan plastik. Dengan melakukan hal-hal ini, kita turut ambil bagian dalam menyelamatkan bumi dari kerusakan.

Recycle (Daur Ulang) 

Barang-barang bekas di rumah bisa didaur ulang menjadi sejumlah benda yang bermanfaat. Dengan sedikit kreativitas dan panduan yang banyak tersebar di internet, Anda bisa menyulap botol kemasan air minum menjadi pot tanaman; stik es krim menjadi tatakan ponsel; kaleng bekas menjadi tempat alat tulis, dan lain-lain. Selain meminimalisir sampah, Anda juga menghemat anggaran karena menggunakan benda hasil daur ulang. 

Jika Anda kurang tertarik dengan kerajinan tangan atau tidak punya waktu, Anda bisa mengumpulkan barang bekas dan mendonasikannya ke badan-badan daur ulang di kota Anda.

2. Hijaukan Lingkungan dengan Tanaman

Coba lihat pekarangan rumah, kamar kos, atau balkon apartemen Anda: apakah ada tanaman hijau? Kalaupun halaman rumah tidak luas, mungkin Anda masih bisa menanam sebatang pohon. Jika tidak ada lahan kosong, peliharalah tanaman di dalam pot atau berkebunlah secara hidroponik (menggunakan medium air). Sekecil apa pun lingkungan tempat tinggal Anda, niscaya akan lebih asri dan segar dengan keberadaan tanaman hijau.

Jika tanaman hias menambah keindahan rumah dan menyegarkan mata, tanaman pangan seperti cabai, jahe, kunyit, atau sayuran bisa menjadi penyedia bahan masakan. Tak hanya menjadikan Anda hemat, hasil kebun sendiri tentunya lebih sehat dan bersih.

Bayangkan jika setiap rumah memiliki minimal sebatang pohon, pastilah udara semakin sejuk, dan ini akan mengurangi pemanasan global. 

3. Biasakan Hemat Energi

Anda tentu tak asing dengan slogan “hemat energi, hemat biaya.” Sayangnya, banyak orang belum memiliki kebiasaan hemat energi. Meski kita mampu membayar tagihan listrik atau air, hemat energi seharusnya tetap dilakukan, mengingat terbatasnya sumber daya bumi. Suatu saat, bukan tidak mungkin kita akan mengalami krisis energi. 

Bangunlah kebiasaan baik ini mulai dari rumah. Belilah peralatan elektronik yang hemat energi. Matikan lampu, AC, televisi, kipas angin, gadget, pengisi daya, dan aliran air saat tidak digunakan. Ajarkan anak-anak kita untuk menghemat energi sejak dini. Meski terlihat sepele, kebiasaan-kebiasaan kecil ini dapat menjaga bumi dari eksploitasi sumber daya energi yang berlebihan.

Bumi adalah satu-satunya tempat tinggal kita, jadi tidak ada alasan untuk tidak menjaga bumi dengan sebaik-baiknya. Jangan tunggu pandemi, baru kita menahan diri untuk tidak merusak alam. Peliharalah bumi dengan sejumlah kebiasaan baik yang dimulai dari rumah kita masing-masing, yaitu meminimalisir sampah (3R), menanam pohon, serta menghemat energi. Selamat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Referensi:
www.jawapos.com/jabodetabek/22/07/2019/volume-sampah-plastik-di-jakarta-1-000-ton-setiap-hari/
www.liputan6.com/global/read/4214052/kadar-polusi-udara-dunia-menurun-selama-pandemi-corona-covid-19
tirto.id/mengenal-jenis-sampah-yang-perlu-waktu-lama-untuk-hancur-ejFk

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: