Di tengah kesibukan sehari-hari, rasa damai sering menjadi suatu kemewahan langka, seperti yang saya alami pada suatu pagi. Selepas saat teduh dan berdoa, saya merampungkan pekerjaan rumah, mandi, lalu berangkat kerja. Berhubung hari itu ada empat janji temu di empat lokasi berbeda, saya baru pulang pukul sepuluh malam. Akibatnya, kendati masih ada beberapa hal yang perlu dikerjakan, saya memilih diam karena terlalu lelah.

Mungkin Anda juga pernah mengalami kondisi serupa. Hal ini kemudian membuat Anda bertanya-tanya: bagaimana cara menemukan damai di tengah hidup yang berkecepatan tinggi?

1. Atur Waktu dengan “3D”

Bagi masyarakat perkotaan, masalah waktu sering menjadi momok yang menyebalkan. Begitu banyak orang yang sibuk, dikejar-kejar tenggat (deadline), dengan segudang tugas untuk diselesaikan.

Supaya bisa tetap merasakan damai dalam segala situasi, cobalah berlatih mengatur waktu dengan metode “3D”:

  • Jadilah DISIPLIN

damai - gkdi 1

Terkadang, bukan kekurangan waktu yang membuat Anda selalu terburu-buru, melainkan kurangnya kedisiplinan.

Contohnya, saya tidak disiplin dengan jam tidur. Saya sering tidur terlalu larut, padahal tahu harus bangun pagi. Tidur kelewat malam membuat saya susah bangun esok paginya, dan akibatnya, saya jadi terburu-buru sepanjang hari. Satu jadwal yang mundur mengakibatkan semua jadwal lain ikut mundur.

Anda mungkin tidak disiplin dalam hal-hal lain. Misalnya, selalu datang terlambat kalau bertemu orang, baru belajar di malam sebelum ujian, atau menunda pengerjaan tugas di saat-saat terakhir.

Disiplinlah dengan waktu Anda. Jika Anda sudah tetapkan jam tertentu untuk melakukan sesuatu, lakukanlah. Jangan ditunda, supaya Anda tidak selalu merasa terburu-buru.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. – Efesus 5:15-16

  • Buang DISTRACTION

damai - gkdi 2

Sedikit banyak, distraction atau pengalihan perhatian akan memperlambat kerja Anda. Salah satu yang paling mengganggu adalah media sosial. “Cek IG sepuluh menit saja tidak apa-apalah …” Gangguan semacam inilah yang berbahaya. Gara-gara keasyikan, tanpa sadar, sepuluh menit Anda sudah bergulir menjadi setengah jam.

Contoh lain, bayangkan Anda hendak bepergian ke luar kota dengan mobil. Baru jalan 15 menit, Anda mampir ke warung makan, lalu belanja di supermarket, dan seterusnya. Alhasil Anda tiba di tujuan lebih lambat daripada yang seharusnya karena teralihkan oleh banyak hal.

Distraction apa yang sering memperlambat kerja Anda? Media sosial? Suasana rumah yang berisik? Pikiran bercabang-cabang? Apa pun itu, jika dibiarkan begitu saja, Anda akan terus dikendalikan oleh waktu. Ketika sadar betapa banyak waktu yang telah berlalu, Anda menjadi panik. Hal-hal yang seharusnya bisa dikerjakan tanpa tergesa-gesa jadi terasa mendesak, dan itu akan mencuri damai di hati Anda.

Setelah mengenali distraction, Anda perlu mencari solusinya. Misalnya, mematikan akses internet di laptop selama beberapa jam atau meletakkan ponsel di ruangan lain sementara Anda mengerjakan tugas. Selama ada niat untuk menyiasati gangguan, Anda pasti bisa menemukan jalan keluarnya.

Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. – 2 Tesalonika 3:11

  • DELEGASIKAN Pekerjaan

damai - gkdi 3

Beban pekerjaan yang berkurang berperan besar dalam memberikan rasa damai. Dengan ketenangan itu, Anda dapat melakukan hal-hal yang lebih penting secara optimal.

Jika hal yang harus Anda kerjakan sangat banyak dan tidak sanggup Anda kerjakan semua, delegasikan sebagian kepada orang lain. Mintalah bantuan atau kerja sama rekan, saudara, pasangan, atau teman Anda, sesuai konteks situasinya. Anda juga bisa menggunakan teknologi yang memadai untuk mempermudah pekerjaan Anda.

Waspadai gambaran menjebak tentang kompetensi kerja. Jangan berpikir bahwa dengan meminta tolong berarti Anda payah. Atau, bahwa melakukan multitasking menunjukkan bahwa Anda lebih hebat daripada orang lain. Bijaklah melihat situasi dan sadari kapan Anda harus berbagi tugas.

2. Sisihkan Waktu Kosong (Make A Space)

damai - gkdi 4

Ketika segala sesuatu berjalan begitu cepat, sesekali Anda perlu berhenti sejenak. Kalau ponsel paling canggih sedunia pun butuh di-charge, tentunya Anda juga butuh rehat. Setelah itu, pikiran dan tubuh Anda akan kembali segar.

Make a space tidak sama dengan find a space. Menyisihkan waktu tidak sama dengan menyisakan waktu. Jika Anda menyisakan waktu, bisa jadi tidak ada waktu yang tersisa. Saat Anda menyisihkan waktu, berarti Anda memang menyiapkan jeda untuk berhenti sejenak.

Lantas, apa yang bisa Anda lakukan selama waktu yang sengaja dikosongkan itu?

  • Saat Teduh dan Doa

damai - gkdi 5

Setiap hari, pastikan ada waktu untuk saat teduh dan doa. Datanglah dengan diam ke hadapan Tuhan dan nikmatilah waktu bersama Pribadi yang paling mencintai Anda. Lupakan sejenak pekerjaan atau masalah Anda. Biarkan jiwa Anda bercakap-cakap dengan pencipta-Nya.

Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. – Mazmur 42:1 

Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi. – Mazmur 130:6 

Make a space for God. Ketenangan di dalam Tuhan akan memberikan damai sejati dan kekuatan untuk menjalani hari-hari Anda.

  • Me-Time dan Liburan

damai - gkdi 6

Ambillah waktu untuk melakukan hal-hal yang Anda suka (me-time), serta atur jadwal untuk berlibur. Kedua hal ini penting untuk mengisi kembali “baterai” Anda. Sibuk bukanlah alasan untuk tidak mengambil jeda. Semakin sibuk Anda, sebenarnya Anda butuh lebih banyak waktu untuk berhenti sebentar.

Sebagai contoh, me-time saya biasanya jatuh pada hari Minggu. Di hari itu, saya izinkan diri saya membaca buku atau pergi berolahraga. Selain itu, saya juga mengatur jadwal untuk berlibur ke pantai. Bagi saya, tak ada yang lebih menyenangkan dan menyegarkan daripada bermain-main di air, karena seluruh masalah saya seakan-akan ikut luntur di dalamnya.

Pergi liburan juga membuat kita belajar banyak hal. Saya suka mengamati hal-hal baru, dan ini membantu memperluas wawasan saya. Sekembalinya dari liburan, ide-ide baru akan bermunculan. Tak hanya mampu menemukan solusi untuk hal-hal yang tadinya terasa buntu, saya juga mendapatkan pola pikir dan semangat baru.

Liburan itu seumpama menekan tombol “restart” atau “reboot” dalam hidup kita. So, give yourself a break for a better you. 

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? – Pengkhotbah 2:24-25

3. Damai Adalah Pilihan (Peace Is a State of Mind)

damai - gkdi 7

Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. –  Matius 8:24 

Ketika badai melanda perahu-Nya, Yesus malah tidur nyenyak. Ini menunjukkan bahwa damai adalah sebuah keputusan yang harus diperjuangkan. Damai adalah sebuah pilihan, yang dapat diusahakan dan diciptakan kehadirannya sekalipun dalam kondisi yang tak mendukung.

Bagaimana caranya kita bisa memiliki rasa damai seperti yang Yesus miliki?

Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali. – Matius 8:25-26

.

Percayakah Anda bahwa apa pun yang Anda alami berada dalam kendali Tuhan? Jika ya, hal itu akan memberikan Anda kedamaian dalam segala situasi. Namun, untuk sampai ke level ini, Anda harus punya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Yesus begitu tenang dalam segala situasi, karena Dia tahu Bapa selalu menyertai-Nya. Bahkan, menjelang kematian-Nya pun, Yesus tidak panik. Dia menyerahkan seluruh hidup-Nya ke dalam kehendak Bapa.

Anda mungkin sudah menerapkan poin pertama dan kedua, atau melakukan berbagai cara, tetapi rasa damai itu tak kunjung datang. Kenyataannya, orang bisa saja pergi liburan, tetapi pikirannya masih terfokus ke pekerjaan. Tubuh dan jiwanya ada di tempat yang berbeda. Damai adalah pilihan. Putuskan untuk tetap damai dalam keadaan apa pun karena Tuhan-lah yang memegang kendali atas hidup Anda.

Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni. – 2 Timotius 2:22

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. – Yohanes 14:27

Suka atau tidak suka, kehidupan berkecepatan tinggi harus kita jalani, dan ini sering membuat kita kehilangan damai. Dengan mengatur waktu, menyisihkan jeda, dan memilih untuk tetap tenang dalam segala situasi, kita dapat hidup dalam damai. Selamat mencoba, dan semoga damai sejahtera menyertai Anda semua!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Persahabatan Sejati yang Tuhan Sukai

Video inspirasi: