Matahari siang itu begitu menyengat. Dua unit kipas angin berputar kencang, menyejukkan udara rumah yang sesak dengan kehadiran teman-teman adik saya. Ketika kami sajikan es buah, mereka menyambut dengan penuh sukacita. Potongan buah segar bertuang sirup manis dalam rendaman air dingin dan es batu itu sungguh melegakan dahaga kami.

Sebentar kemudian, saya menyadari bahwa salah seorang teman adik tidak mengambil gelas es buah. Tidak juga menyentuh nasi kotak yang tersaji di hadapannya. Ternyata, ia sedang menjalankan puasa menurut kewajiban agamanya. Namun, itu tidak menghalanginya untuk menghadiri acara syukuran wisuda adik saya. Bahkan, ia berbaur dengan ceria di antara para tamu lain yang tengah bersantap dengan nikmat.

Saat itulah, saya merasa ditegur: Mampukah saya bersikap setulus dan seteguh itu ketika sedang berpuasa?

Puasa: Upah Surgawi vs Upah Dunia

puasa - gkdi 1

Kendati teman adik saya itu berasal dari latar belakang keyakinan yang berbeda, saya melihat sikapnya sebagai contoh aplikasi ajaran Yesus tentang berpuasa.

“Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” – Matius 6:16

Ya, teman adik saya tidak memberi kesan dirinya sedang menjalankan puasa dan berharap agar dihormati, juga tidak berusaha mendapatkan simpati dari tamu-tamu lain.

Saat berpuasa, bisakah kita tetap bersukacita dan tersenyum, menampilkan wajah yang berseri dan jauh dari muram? Apakah kita tetap mau menghadiri acara jamuan untuk mendukung seorang teman?

Dalam Matius 6:18 dikatakan bahwa orang lain tidak perlu tahu kalau kita sedang berpuasa. Cukuplah hanya Bapa di surga yang tahu—dan dari Dialah, kita akan mendapatkan upah. Tentunya, upah dari Tuhan jauh lebih berharga daripada upah yang diberikan dunia.

Kalau kita sengaja menunjukkan perbedaan agar orang lain tahu kita sedang puasa, saat itulah kita sudah menerima upah, yaitu hormat atau pujian dari sesama. Hanya sebatas itu.

Puasa: Mengendalikan Diri vs Mengendalikan Situasi

puasa - gkdi 2

Hormatilah orang yang berpuasa—slogan ini sering kita temukan dan kita maklumi bersama. Menghormati orang yang sedang berpuasa tentu baik adanya. Namun, akan baik pula jika kita mau melihat dari sisi lain: Hormatilah orang yang tidak berpuasa, dengan tidak melarang mereka makan dan minum.

Bukankah puasa adalah salah satu cara untuk mengendalikan diri? Kalau semua situasi dirancang sedemikian rupa untuk mendukung puasa kita, lantas di manakah letak pengendalian diri tersebut?

Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. – Matius 4:2

Ketika Yesus berpuasa di padang gurun, Dia tidak melarang iblis untuk datang dan mencobai-Nya (Matius 4:1-11). Yang Yesus lakukan adalah menguatkan hati-Nya agar tidak jatuh ke dalam godaan. Rasa lapar yang besar tidak menjadi alasan Yesus untuk menyerah terhadap iblis, yang menyarankan Dia mengubah batu menjadi roti.

Jika kita yang berpuasa tidak terganggu dengan orang-orang yang bebas makan dan minum, artinya kita sudah berhasil menguasai diri dan hawa nafsu itu sendiri.

Jangan Lupa Tujuan Puasa

puasa - gkdi 3

Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! 

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu. 

– Yesaya 58:6-8

Berpuasa sembari berharap dihargai orang sama saja dengan berusaha mengendalikan orang lain. Mendapat pujian adalah tujuan puasa orang yang munafik. Dan, ini bisa terjadi kalau kita lupa akan tujuan kita berpuasa. Kita lupa Tuhan menghendaki agar puasa kita menjadi sarana kasih bagi sesama—alih-alih memaksa mereka memaklumi dan menghormati kita.

Banyak tokoh Alkitab yang melakukan puasa, misalnya Musa (Keluaran 34:28), Ester (Ester 4:16), Elia (1 Raja-raja 19:8), dan Daniel (Daniel 10:3) di Perjanjian Lama.  Dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus memulai misi pelayanan-Nya dengan berpuasa 40 hari 40 malam (Matius 4:2). Para rasul berpuasa dan berdoa sebelum mengirim Barnabas dan Paulus melaksanakan tugas pelayanan mereka (Kisah Para Rasul 13:2-3).

Alkitab tidak menjelaskan secara spesifik kapan orang Kristen harus berpuasa. Namun, bisa kita simpulkan bahwa tujuan puasa antara lain untuk:

  • mendekatkan diri dan bergantung kepada Tuhan (2 Tawarikh 20:3-4, Yoel 2:12),
  • mengetuk pintu surga untuk jawaban doa (Daniel 9:3, 2 Samuel 12:22, Ezra 8:23),
  • bertumbuh secara spiritual dan menyelaraskan diri dengan kehendak Allah (Kisah Para Rasul 13:3-4),
  • merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menunjukkan pertobatan (Ezra 8:21, 1 Samuel 7:6, Nehemia 9:1-2),
  • mengusir kekuatan jahat (Matius 17:19-21),
  • membangun rasa syukur, dan
  • menjaga kesehatan fisik.

Tips Menjaga Kemurnian Puasa

1. Punya Tujuan Jelas

puasa - gkdi 4

Tujuan yang jelas akan membuat kita kuat menghadapi godaan. Sertai doa-doa kita dengan puasa ketika memohonkan pasangan hidup, meminta kehadiran buah hati, mendapatkan pekerjaan, menajamkan karakter, memurnikan hati, dan lain-lain.

2. Buat Senyaman Mungkin

puasa - gkdi 5

Saat berpuasa, biasanya bau napas menjadi kurang sedap. Agar tetap nyaman, kita boleh menyikat gigi sewaktu-waktu, misalnya saat jam istirahat. Berkumurlah dengan cairan penyegar dan oleskan pelembab di bibir agar kita tetap percaya diri dalam beraktivitas.

3. Syukuri Godaan 

puasa - gkdi 6

Ketika ada teman atau atasan yang mengajak makan siang saat kita sedang puasa, aroma makanan akan terasa lebih memikat. Jangan salahkan orang yang mengundang kita makan, tetapi bersyukurlah karena godaan itu membuat kita semakin kuat dan bergantung kepada Tuhan.

4. Ingat Upah Surgawi

puasa - gkdi 7

Meski sudah dibarengi puasa, doa kita tidak selalu mendapat jawaban “ya” dari Tuhan. Namun, akan ada upah bagi mereka yang berpuasa dengan hati tulus dan motivasi yang benar. Sukacita, pertumbuhan karakter, kedewasaan iman, bahkan keselamatan jiwa tengah menanti kita.

Semoga dengan menerapkan tips-tips di atas, serta mengingat tujuan puasa, upah surgawi, dan pengendalian diri, Anda dimampukan untuk berpuasa dengan hati yang murni. Selamat berpuasa, dan semakin bertumbuh dalam iman!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Morning Blessings: Curahan Berkat dari Ibu yang Damai

Video inspirasi: