gkdi laguDi dunia yang menuntut banyak ekspektasi dari manusia, sebuah penerimaan terasa begitu berharga dan menyejukkan hati.

Saya pernah dikritik karena menempatkan ekspektasi yang begitu tinggi pada seseorang, sehingga ia merasa tidak diterima apa adanya. Padahal, menurut saya, ekspektasi saya itu tidak berlebihan dan tak terlalu sulit. “Jika saya bisa melakukannya, mengapa dia tidak bisa?” begitu pikir saya.

Saat itu saya belum menyadari perlunya keseimbangan antara ekspektasi dan penerimaan terhadap orang lain. Mengapa ini penting, dan apa yang kita bisa lakukan untuk mencapainya?

Bagaimana Rasanya Diterima?

penerimaan - gkdi 1

Saya tak tahu persis bagaimana rasanya tidak diterima, sampai saya menonton film berjudul “I Not Stupid.” Film ini mengisahkan seorang ibu yang punya ekspektasi begitu tinggi terhadap anaknya, sehingga anak itu tertekan.

Sang anak memang tak begitu pandai dalam pelajaran matematika. Meskipun ia telah berusaha semaksimal mungkin, nilai ulangan matematikanya tetap di bawah standar. Ini membuatnya sering dipukuli dan dimarahi ibunya, sehingga ia amat stres.

Ketika sang ibu diopname rumah sakit, anak ini datang sambil menangis dan meminta maaf karena belum bisa mendapatkan nilai bagus sesuai harapan ibunya. Melihat hal ini, beliau pun menangis, memeluknya, serta berkata, “Tidak apa-apa. Mama tahu kamu sudah melakukan yang terbaik.”

Pada saat itulah saya menyadari betapa sebuah penerimaan sanggup melegakan hati, bahkan menghilangkan semua beban di pundak seseorang.

Mengapa Penerimaan Itu Penting?

penerimaan - gkdi 2

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, pahami mengapa kita terkadang susah memberikan penerimaan kepada orang lain:

  • Acuannya Adalah Diri Sendiri

Kita merasa mampu mencapai ekspektasi yang kita berikan kepada orang lain dengan mudah. Jadi, sudah seharusnya orang lain pun bisa melakukannya. Kita lupa bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan di area yang berbeda-beda. Ini membuat kita tidak mau berkompromi terhadap kekurangan orang lain.

  • Asumsi bahwa Penerimaan = Pasrah

Tanpa sadar kita mungkin berasumsi bahwa menerima orang lain apa adanya sama artinya dengan pasrah. Seakan-akan kita mendukung orang tersebut untuk tidak bertumbuh. Padahal, penerimaan perlu diberikan agar seseorang termotivasi untuk mencapai ekspektasi-ekspektasi yang diberikan kepadanya tanpa merasakan beban atau tekanan berlebihan.

Penerimaan itu penting karena membuat kita merasa dihargai seutuhnya, dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Dengan menerima seseorang bukan berarti kita tidak boleh punya harapan terhadap dirinya. Yang harus kita lakukan adalah menyeimbangkan keduanya, agar kedua belah pihak sama-sama bisa bertumbuh.

High Acceptance, High Expectation, Baikkah?

penerimaan - gkdi 3

Ekspektasi yang tinggi harus diikuti dengan penerimaan yang tinggi. Jika kita hanya mengharap tanpa menerima, alih-alih termotivasi, orang lain malah akan jadi stres. Mereka merasa tidak dimengerti dan hanya dituntut melakukan lebih dan lebih.

Hal ini tentunya dapat merusak hubungan. Orang akan menjauh, tertutup, atau hanya menunjukkan sisi baiknya saja di depan Anda, demi menghindari tekanan dari Anda.

Lebih sering kita menuntut banyak, tetapi tidak paham pentingnya memberikan penerimaan. Pekerja dituntut mengerjakan banyak hal tetapi jarang menerima penghargaan dari atasan. Suami atau istri lebih banyak menuntut pasangan untuk lebih ini dan itu, tetapi jarang memuji hal baik atau kemajuan yang mereka lakukan. Tak heran, banyak konflik bermula dari ekspektasi yang berlebihan seperti ini.

Belajar Menerima seperti Yesus

penerimaan - gkdi 4

Jika Anda termasuk orang yang susah menerima orang lain, mari belajar dari Yesus. Yesus adalah ahli dalam menyeimbangkan penerimaan dan ekspektasi. Dia bukan Tuhan yang hanya mau menerima tanpa mengharapkan kita untuk berjuang menjadi lebih baik. Dia juga bukan Tuhan yang selalu memberikan beban berat kepada umat-Nya, tanpa menerima kita dengan segala kekurangan kita.

Yesus adalah Allah yang punya penerimaan tinggi (high acceptance) sekaligus ekspektasi yang tinggi (high expectation). Dia menerima kita apa adanya, dan di saat yang sama, ingin kita bertumbuh dari kelemahan-kelemahan kita.

Tuhan menerima bangsa Israel dengan segala kelemahan mereka, tetapi juga memberikan perintah yang harus mereka patuhi. Tuhan menerima Musa yang tidak pandai bicara, tetapi memberinya misi membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Yesus menerima Petrus yang telah menyangkalnya tiga kali, dan tetap meminta ia menggembalakan domba-domba-Nya. Yesus tidak hanya menerima si perempuan yang berzina, tetapi juga memintanya bertobat.

Penerimaan Yesus:

Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” – Yohanes 8:7 

Ekspektasi Yesus:

Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” – Yohanes 8:10-11 

Yesus tahu bahwa kita manusia tidaklah sempurna. Kendati menerima kita apa adanya, Dia tetap memberikan tanggung jawab kepada kita untuk bertumbuh. Mari kita meneladani keseimbangan Yesus dalam hal penerimaan terhadap sesama kita.

3 Cara Berikan Penerimaan yang Tinggi 

Berikut hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membuat orang lain merasa diterima:

1. Pahami Latar Belakang Mereka (Put Yourself in Their Shoes)

penerimaan - gkdi 5

Orang yang perfeksionis biasanya sulit bertoleransi dengan orang yang pekerjaannya berantakan. Orang yang terbiasa disiplin cenderung susah menerima orang yang tidak disiplin. Pribadi yang mampu bekerja cepat biasanya tidak sabar dengan orang yang ritme kerjanya lebih lambat.

Sebelum Anda menuntut seseorang, posisikan diri Anda sebagai dirinya. Pahami latar belakangnya, bagaimana ia dididik dan dibesarkan. Apa yang ia alami sehingga menjadi dirinya yang sekarang. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah menerima orang lain.

Sebaik-baiknya diri kita, kita tetaplah tidak sempurna. Anda dan saya punya banyak cacat-cela dan dosa. Jika Tuhan, yang sempurna dan tanpa dosa, bisa menerima kita yang tidak sempurna, sudah seharusnya kita menerima orang lain yang juga tidak sempurna.

2. Hargai dan Dukung, Sekecil Apa pun Kemajuannya

penerimaaan - gkdi 6

Lakukan hal ini dengan cara memberikan kata-kata pujian seperti, “Hebat!” atau “Good job!”

Bahkan, ketika orang itu gagal meski sudah berusaha, atau meraih kemajuan yang tidak sesuai harapan, kita perlu mengapresiasi apa yang telah ia lakukan. Ucapkan kalimat seperti, “Tenang, aku ada di sini untuk mendukung kamu,” sehingga orang tersebut tidak merasa berjuang sendirian.

Dalam perumpamaan tentang talenta, sang tuan tidak memarahi hambanya yang mengusahakan dua talenta dengan berkata, “Mengapa hasilnya cuma dua talenta? Kenapa tidak lima atau sepuluh?” Ia mengerti bahwa hamba tersebut telah melakukan bagiannya dengan baik.

Itulah sebabnya, dalam Matius 25:23, sang tuan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

3. Gunakan Kata-Kata yang Baik dan Lemah Lembut

penerimaan - gkdi 7

Terkadang, maksud hati ingin menerima orang lain. Apa daya, pilihan kata yang salah atau intonasi yang tinggi malah diartikan sebagai penolakan kita atas kekurangan atau diri mereka.

Ucapan yang lemah lembut dapat membuat orang lain merasa nyaman dan diterima. Jika Anda suka mendengar orang mengucapkan kata-kata yang baik dan santun kepada Anda, kenapa tidak lakukan hal yang sama? Jika itu membuat Anda merasa lebih baik dan termotivasi untuk bertumbuh, orang lain pun akan merasakan hal serupa.

Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah. – Amsal 15:1 

Memberikan ekspektasi tanpa penerimaan bukanlah hal yang bijaksana. Dengan menerima orang lain, kita juga menerima diri kita sebagai manusia yang mampu berbuat dosa. Mari belajar menerima orang lain, seperti Yesus yang sempurna dan menerima kita apa adanya, tetapi juga mengharapkan kita untuk bertumbuh. Semangat!

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

Contoh: Setiabudi, Jakarta Selatan

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: