Apakah Anda adalah orang yang selalu meluangkan waktu untuk berdoa?Mungkin bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali sehari. Minimal saat bangun pagi, sebelum makan, dan menjelang tidur. Jadi, mustahil Anda tidak tahu bagaimana caranya berdoa, bukan?

Hingga suatu saat, Anda mulai bertanya-tanya: 

“Setelah sekian lama berdoa, kenapa saya tidak merasakan kedekatan dengan Tuhan?” 

“Mengapa doa tidak membuat hubungan saya dengan Tuhan bertumbuh?” 

“Saya rajin beribadah dan melayani, tapi kenapa doa-doa saya sepertinya tidak didengar?”

“Apakah cara saya berdoa sudah sesuai dengan kehendak Tuhan?”

Jawabannya mungkin bisa Anda temukan dalam perumpamaan di Lukas 18:9-14:

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.” – Lukas 18:9-10

Mari kita kenali lebih dalam dua individu yang dijadikan contoh oleh Yesus tentang sikap doa.

Doa Orang Farisi

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. – Lukas 18:11

Karakter orang Farisi percaya bahwa dengan menjalankan semua ketentuan agama, ia lebih baik dan lebih benar daripada orang lain. Mengapa? Kaum Farisi terkenal dengan ketaatan mereka terhadap peraturan dan hukum Musa dalam Perjanjian Lama. Mereka hafal isi Kitab Suci dan memiliki reputasi yang baik di mata masyarakat zaman itu. Hidup mereka tampaknya tidak bercela.

Dengan kata lain, orang Farisi ini merasa dirinya dibenarkan karena usahanya sendiri, bukan karena kemurahan dan kasih karunia Allah. 

Perhatikan bagaimana di dalam doanya, ia:

  • tidak mengaku dosa
  • tidak memuji Tuhan
  • menjelek-jelekkan orang lain dan mengagungkan kehebatan diri sendiri
  • menganggap diri lebih layak di hadapan Tuhan dibandingkan orang lain, berhak diberi perhatian lebih oleh Allah
  • merasa tidak butuh pertolongan dan belas kasihan Tuhan
  • tidak bersyukur atas kebaikan Tuhan

Mungkinkah kita, baik sadar maupun tidak, sering berdoa seperti orang Farisi ini? Apakah kita, seperti yang Yesus katakan di ayat 9, termasuk ‘orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain?’ 

Sembari menuliskan ini, saya teringat sebuah peristiwa saat masih menjadi Kristen muda. Kala itu, saya dan seorang saudari sedang mencari pekerjaan. Selama beberapa hari, kami berkeliling membawa map berisi data diri, serta mengirimkan surat lamaran sebanyak-banyaknya. Kemudian, pada suatu hari, saudari ini mendapat panggilan dan diterima bekerja, sedangkan saya tidak.

Alhasil, saya pun berdoa dan bertanya kepada Tuhan: mengapa saya belum mendapatkan pekerjaan? Bukankah saya pandai bicara, pintar meyakinkan orang, dan berpenampilan bagus? Seharusnya sayalah yang lebih pantas mendapatkan pekerjaan daripada saudari tersebut.

Kini, saya menyadari betapa saya tidak jauh berbeda dari orang Farisi itu. Saya iri hati. Saya sombong, menganggap diri lebih baik dan tinggi daripada orang lain. Saya bahkan tidak cukup rendah hati untuk meminta pertolongan Tuhan dalam doa saya!

Bisa jadi, saat membaca perumpamaan di atas, kita tidak langsung mengidentikkan diri dengan si orang Farisi. Mana mungkin kita seperti dia? Namun, coba renungkan lagi. Benarkah kita sama sekali tidak pernah berdoa seperti orang Farisi ini—membenarkan diri, mencela sesama, dan melupakan hal yang paling penting, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan?

Doa Pemungut Cukai

Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. – Lukas 18:13 

Mengapa pemungut cukai ini begitu menyesali diri? Pemungut cukai adalah petugas penarik pajak bagi pemerintah Romawi yang pada masa itu menduduki wilayah Yahudi. Tak jarang, mereka meminta lebih dari rakyat untuk dikantungi sendiri, dan dengan cara-cara yang tidak adil. Oleh karenanya, para pemungut cukai dibenci dan dianggap pengkhianat bangsa.

Lihatlah bagaimana di dalam doanya pemungut cukai ini:

  • datang dengan hati yang hancur
  • merasa tidak layak di hadapan Tuhan 
  • sadar dirinya adalah seorang pendosa dan menyesali kesalahannya
  • dengan rendah hati meminta belas kasihan Tuhan
  • jujur kepada Tuhan

Lalu, mengapa Yesus menekankan sikap tubuh pemungut cukai saat berdoa? Berdiri jauh-jauh dan tidak menengadah ke langit merupakan ekspresi penyesalan. Sebuah sikap tobat. Suatu kesadaran bahwa ia tidak layak menghadap hadirat Allah. Namun, karena itulah, doanya berkenan kepada Tuhan.

“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” – Lukas 18:14 

Kerendahan hati, kejujuran, serta kemauan bertobat si pemungut cukai sesungguhnya merupakan wujud salah satu Ucapan Bahagia yang Yesus sampaikan dalam khotbah di bukit: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:3).”

Tuhan Melihat Hati

Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. – Mazmur 51:17 

Ketika kita berdoa, Tuhan tidak peduli seberapa bagus kata-kata kita, atau seberapa banyak yang telah kita perbuat untuk-Nya. Yang Dia lihat adalah kerendahan hati kita. Dia melihat jiwa dan hati kita apa adanya, sehancur apa pun itu. Dia memandang kerinduan kita akan belas kasih dan pengampunan-Nya, karena tanpa itu, kita takkan pernah layak bagi Allah

Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: “Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,” dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. – 1 Timotius 1:15

Dalam mengasihi, Tuhan tidak membeda-bedakan status duniawi kita. Buktinya, salah seorang Farisi yang paling ganas, yang merasa diri benar dan melakukan hal yang benar, juga diselamatkan oleh kasih karunia-Nya (Kisah Para Rasul 9:1-19). Di kemudian hari, penganiaya umat Kristen itu menjelma menjadi Rasul Paulus. Ia menulis banyak kitab Perjanjian Baru, serta mengabarkan bahwa keselamatan dan pengampunan di dalam Yesus Kristus adalah untuk semua orang.

Mari, kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dalam doa-doa kita. Datanglah dengan duka dan sesal akibat dosa dan pelanggaran kita. Datanglah dengan kerinduan untuk mendapatkan ampunan dan belas kasih-Nya, agar kita dapat dibenarkan di dalam Tuhan. Amin.

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: