Bisakah Saya Jadi Pemimpin?

Tanggung jawab seorang pemimpin biasanya datang bersama hak-hak istimewa: kekuatan dan kekuasaan. Itulah sebabnya orang berlomba-lomba ingin memimpin. Gambaran tentang pemimpin tampak begitu elok: tinggal perintah sana-sini, tak perlu susah-payah bekerja karena ada bawahan yang mengerjakan. Di sinilah kita sering salah paham dengan perbedaan antara pemimpin dengan pimpinan.

Di sisi lain, ada juga orang yang menolak memimpin; mungkin karena takut atau karena merasa diri tidak layak atau kurang cocok dengan posisi kepemimpinan.

Apakah asumsi bahwa tidak semua orang bisa jadi pemimpin itu benar? Seperti apakah gambaran seorang pemimpin sejati menurut Alkitab?

Pemimpin itu Melayani

pemimpin - gkdi 1

“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” – Matius 20:26-27

Berbeda dari pandangan dunia, Yesus memberikan definisi jelas tentang kualifikasi seorang pemimpin: yang terbesar harus melayani. Pemimpin adalah pelayan. Ketika ibu Yakobus dan Yohanes (anak-anak Zebedeus) meminta agar kedua anaknya diizinkan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus kelak di surga, Yesus menegurnya di hadapan murid-murid lain. Teguran ini merupakan ajaran kepada mereka tentang apa artinya menjadi seorang pemimpin.

Di kesempatan lain, Yesus memberi contoh kepemimpinan lewat momen mengharukan ketika Dia membasuh kaki murid-murid-Nya.

“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu.” – Yohanes 13:13-14

Lewat peristiwa itu, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya bahwa seorang pemimpin harus siap turun tangan: mau bekerja keras dan tidak hanya duduk memerintah. Dengan kata lain, seorang pemimpin harus memiliki kerendahan hati.

Apakah Anda pemimpin yang siap turun tangan atau hanya mau dilayani saja? Apakah Anda menggunakan kuasa dan kekuatan Anda untuk memanipulasi bawahan atau anak-anak bimbingan rohani Anda untuk kepentingan pribadi?

Jika kita sadar bahwa sebagai pemimpin kita justru harus melayani, kita tidak akan bersikap egois dan sewenang-wenang terhadap orang lain.

Pemimpin Berani Jadi Teladan untuk Hal Benar

pemimpin - gkdi 2

Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu. – 1 Petrus 5:3

Petrus, yang telah dibasuh kakinya oleh Yesus, mengingatkan murid-murid yang terlibat dalam penggembalaan agar mereka tidak menonjolkan diri atau merasa superior dengan jabatan mereka. Sebaliknya, mereka harus menjadi teladan bagi orang-orang yang mereka bimbing, yaitu teladan dalam iman, kasih, keberanian, kerendahan hati, dan pengampunan. 

Tak hanya itu, seorang pemimpin harus berani melakukan apa yang benar, meskipun ia seorang diri. Ia kuat bertahan dalam berbagai keadaan. Ia tidak memimpin dengan tangan besi, tetapi dengan teladan dalam hidupnya.

Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu … – Titus 2:7-8a

Pemimpin Punya Integritas dan Dedikasi

pemimpin - gkdi 3

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. – 1 Petrus 5:2 

Salah satu ciri pemimpin sejati adalah memiliki integritas tinggi. Ia tidak bersikap curang atau manipulatif, menyuruh bawahannya berbuat benar, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan.

Pemimpin sejati juga tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi bekerja demi kepentingan mereka yang ia layani. Ia memimpin bukan untuk menumpuk kekayaan dan kekuasaan. Ia tidak diskriminatif dan pilih kasih—hanya peduli pada bawahan yang penurut atau lebih berharta ketimbang bawahan yang suka mempertanyakan kebijakannya atau lebih sederhana.

Memimpinlah dengan tulus dan penuh pengabdian. Jangan terpaksa, apalagi untuk mencari keuntungan, pujian, nama baik, atau kehormatan belaka.

Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. – 1 Tesalonika 2:8

Seorang pemimpin sejati tidak ragu untuk mengasihi, melakukan atau mengungkapkan hal yang benar, dan berbagi dengan orang lain.

Setiap Orang Bisa Menjadi Pemimpin Sejati

pemimpin - gkdi 4

Status pemimpin dan bukan-pemimpin bukanlah atribut mutlak bagi para pengikut Kristus. Kasih dan kuasa Tuhan sama bagi semua orang. Artinya, menjadi seorang Kristen tidak tergantung pada status atau jabatan.

Misalnya, saat masih berstatus pemimpin, Anda mau jadi teladan, menginspirasi, melayani, dan mengajar orang lain mengenal kebenaran. Namun, ketika sudah tidak menjadi pemimpin, Anda menolak memberi, datang ke pertemuan ibadah paling telat dan pulang paling cepat. Lebih parah lagi, alih-alih ambil bagian menolong orang lain mengenal Tuhan, Anda malah banyak mengkritik atau sibuk menggunjingkan kehidupan pribadinya.

Jika kita hanya bersemangat memberi dan mengajar saat menjadi pemimpin, berarti kita melakukannya demi jabatan atau status semata. Betapa dangkalnya keyakinan kita. Bukankah sebagai pemimpin atau mantan pemimpin, kita tetap harus menjadi inspirasi dan teladan dalam perbuatan baik, serta bersungguh-sungguh menjalani hidup sebagai seorang Kristen? (Titus 2:7-8)

Tetapi kami ingin, supaya kamu masing-masing menunjukkan kesungguhan yang sama untuk menjadikan pengharapanmu suatu milik yang pasti, sampai pada akhirnya. – Ibrani 6:11

Janganlah berkecil hati kalau saat ini Anda bukan pemimpin atau hanya mantan pemimpin. Tuhan tidak peduli dengan status Anda di dunia. Kedudukan dan jabatan takkan menyelamatkan jiwa. Justru, sebagai seorang Kristen, hendaklah kita menunjukkan kesungguhan yang sama seperti seorang pemimpin sejati: menjadi teladan, mau melayani, dan tulus memberi. Semangat!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:  Iman yang Menghasilkan Keajaiban

Video inspirasi: