Kiat Jalani Tantangan Orang Tua Tunggal

Menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, pada Desember 2018 lalu, hingga kini ada lima belas juta perempuan Indonesia menjadi kepala rumah tangga.

Mungkin Anda yang membaca tulisan ini pun adalah seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal. Anda bingung dan khawatir bagaimana menerapkan pola asuh yang baik dan benar untuk anak-anak. Anda tidak tahu bagaimana cara menjalani kehidupan sebagai single parent.

Jangan khawatir. Tips-tips yang bersumber dari firman Tuhan ini dapat membantu Anda menjalani tantangan sebagai orang tua tunggal.

Tuhan Adalah Suami Anda

orang tua - gkdi 1

Sebab yang menjadi suamimu ialah Dia yang menjadikan engkau, TUHAN semesta alam nama-Nya; yang menjadi Penebusmu ialah Yang Mahakudus, Allah Israel, Ia disebut Allah seluruh bumi. – Yesaya 54:5

Menjadi orang tua bukanlah hal mudah. Terlebih, menjadi orang tua tunggal dengan anak yang masih kecil. Anda harus memikul semua beban sendirian: mencari nafkah, memenuhi kebutuhan anak, dan mendidik mereka. Ini adalah pekerjaan nonstop yang tak kenal siang-malam.

Belum lagi, Anda menghadapi pandangan negatif orang-orang di sekitar tentang seseorang yang hidup tanpa pasangan. Ketika Anda dikepung banyak pertanyaan yang menyelidik, bahkan menghakimi situasi Anda, sangat mudah untuk berkecil hati dan merasa diri kurang berharga.

Namun, di atas semua itu, ingatlah: Anda tidak sendirian. Sekalipun Anda menjadi orang tua tunggal karena kondisi tak terelakkan, entah akibat perceraian atau kematian, Anda tidak sendirian karena Anda adalah mempelai Kristus! Tuhanlah suami Anda. Anda harus bersukacita karena suami Anda adalah Sosok pencipta alam semesta, yang begitu mengasihi Anda hingga rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa Anda!

Jadilah Kuat

orang tua - gkdi 2

“Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!” Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan berkata: “Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan.” – Daniel 10:19

Tidak ada orang yang ingin menikah lalu berpisah, dan menyaksikan anak-anaknya tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Namun, bagian terberatnya bukanlah kehilangan pasangan hidup, melainkan melihat anak-anak merindukan kehadiran figur ayah dalam hidup mereka. Sama beratnya juga, sederet pertanyaan yang belum mereka pahami tentang kehidupan rumah tangga Anda. Bagaimana mungkin hati Anda tidak remuk?

Dengan beban seperti itu, Anda menjadi rapuh. Anda terus menangisi keadaan, menyalahkan dan mengasihani diri sendiri, menyesali nasib, atau sulit menerima kenyataan.

Melihat Anda yang demikian, anak Anda akan ikut cengeng dan terpuruk. Mereka turut menyalahkan nasib, bahkan Tuhan, karena membiarkan orang tuanya berpisah dan membuat ibunya menderita. Tentunya, Anda tidak ingin anak Anda mengalami hal tersebut, bukan?

Anda ingin anak-anak Anda tumbuh kuat, semangat, dan bangga akan hidupnya. Dan, jika ingin anak-anak kuat, Anda harus menjadi kuat terlebih dahulu.

Jadilah kuat, hai, engkau orang tua tunggal yang dikasihi Allah! Sejahteralah engkau; jadilah kuat, ya, jadilah kuat!

Didik Anak agar Takut akan Tuhan

Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu. – Amsal 29:17 

Ketika Anda menciptakan ketakutan dalam diri anak supaya ia mendengar dan mematuhi Anda, berapa lama kepatuhan itu akan bertahan?

Begitu anak menginjakkan kaki di luar rumah, tak ada lagi yang perlu ia takuti. Anak merasa bebas, sehingga mungkin tidak mau mematuhi peraturan, bahkan norma-norma yang ada.

Dengan anak yang hidupnya kacau dan berantakan, akan sulit bagi Anda untuk berbahagia, apalagi tenteram. Malahan, rasa sakit dan kecewa Anda dapat berkali lipat lebih hebat ketimbang sewaktu berpisah dengan pasangan.

Sangatlah penting mendidik anak-anak kita agar takut akan Tuhan—bukan dengan menanamkan ketakutan. Untuk itu, Anda butuh inisiatif yang benar dan kondisi lingkungan yang tepat. Bergabunglah dengan komunitas gereja yang aktif, yang menyediakan bimbingan untuk anak-anak. Ikutlah kelas-kelas atau berbagai seminar parenting yang dapat membantu Anda menjadi orang tua yang lebih baik.

Tak hanya itu, sebelum mendidik anak agar takut akan Allah, Anda sendiri harus menjadi teladan. Jangan hanya menyuruh anak pergi ke gereja, berdoa, dan membaca firman, tetapi Anda sendiri tidak melakukannya; bisa dipastikan, usaha Anda bakal sia-sia.

Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. – 2 Tesalonika 3:9 

Ya, cara mendidik yang paling efektif adalah dengan melakukan apa yang Anda ajarkan.

Teruslah Belajar

Punya anak tidak lantas menjadikan Anda orang tua yang baik, sempurna, dan tahu segala-galanya. Apalagi, sebagai orang tua tunggal, Anda menjalankan dua peran sekaligus: ayah dan ibu. Sebagus dan semaksimal apa pun usaha Anda, Anda tidak dapat menggantikan sosok yang hilang dalam keluarga.

Oleh karena itu, teruslah belajar menjadi orang tua tunggal yang baik dengan cara:

1. Minta Bantuan Saudara/Saudari dalam Komunitas

orang tua - gkdi 4

Dulu saya mengira lebih mudah bagi seorang ibu ketimbang ayah untuk menjalankan peran ganda sebagai orang tua. Kenyataannya, seorang ibu tetaplah ibu, dan anak-anak saya membutuhkan bimbingan seorang ayah; demikian pula sebaliknya.

Jadi, bagaimana cara melengkapi ketidakseimbangan ini?

Mintalah tolong kepada orang-orang yang Anda tahu memiliki reputasi baik, yang dapat memberi pengaruh positif, untuk membantu membimbing anak Anda. Walaupun hanya sebentar, pertemuan rutin ini dapat mengisi kekosongan anak terkait aspek keutuhan keluarga.

Selain itu, Anda juga bisa mengajak anak berkunjung ke rumah keluarga saudara/saudari yang Anda hormati agar ia bisa melihat gambaran positif tentang keluarga yang baik.

2. Cari Nasihat dan Terbukalah

orang tua - gkdi 5

Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada. – Amsal 11:14 

Setelah anak lebih dewasa, dan Anda berpikir hari-hari berat telah berlalu sehingga kini saatnya bersantai, Anda keliru.

Inilah fase terberat kedua Anda, yaitu ketika anak tumbuh remaja dan memasuki masa pencarian jati diri. Dalam kurun ini, anak mulai memberontak, belajar beragumen, bersiasat atau berpikir licik, dan memperluas pergaulan ke sana-sini.

Carilah nasihat dari orang-orang yang Anda percaya dapat memberikan masukan positif serta jalan keluar yang alkitabiah. Bersikaplah terbuka agar mereka dapat memberi nasihat yang efektif dan relevan dengan pergumulan Anda dan anak Anda.

Anda Tidak Sempurna, Bisa Salah atau Gagal

orang tua - gkdi 6

Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana. – Amsal 24:16 

Sekiranya Anda telah salah mendidik atau mengambil keputusan-keputusan yang salah atau kurang bijak, sehingga pribadi anak tumbuh tak sesuai harapan, janganlah kecil hati.

Menjadi orang tua tunggal bukanlah pekerjaan mudah, dan Anda sudah berusaha memberikan yang terbaik. Jangan putus asa. Perbaiki apa yang salah dan belajarlah untuk lebih bijak.

Tuhan memberkati!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Bertumbuh dalam Rasa Sakit

Video inspirasi: