Written by 10:55 am Devotionals, Married, Married's Good News & Event, Ministries, Parenting, Relationship • 3 Comments

Seminar Orang Tua : Bagaimana Membesarkan Anak yang Kompeten & Percaya Diri

orang tua

Halo para orang tua,

Bagaimana membesarkan seorang anak yang dapat menilai dirinya secara sehat, sehingga ia bisa bertumbuh menjadi individu yang kompeten dan memiliki “self worth”? Apakah ini salah satu pertanyaan yang pernah terbersit dalam hati Anda sebagai orang tua? Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Anda sendiri sebagai seorang individu memiliki penilaian yang sehat terhadap diri Anda sendiri serta memiliki “self worth” yang benar? Karena jika pertanyaan kedua ini jawabannya adalah “belum” atau bahkan Anda sendiri bingung…bagaimana Anda dapat membesarkan seorang anak yang memiliki penilaian yang sehat serta “self worth” yang benar?

Kebutuhan inilah yang menjadi topik pembahasan kelas parenting yang diadakan oleh Married Ministry – Jakarta Barat. Seluruh panitia acara memberikan hati dan usaha mereka sehingga acara dapat berlangsung dengan sangat baik dan memberi impact positif terhadap sekitar 100 tamu yang hadir. Pdt. Budi Hartono & sang istri – Listiana Hartono yang sekaligus merupakan GEP (Good Enough Parenting) Trainer, membawakan topik ini serta berbagi perjalanan hidup keluarga mereka dengan para tamu. Dengan cara yang hangat dan menyentuh, wisdom & pengalaman dari pasangan suami-istri ini pada akhirnya banyak membukakan perspektif tamu-tamu yang hadir tentang bagaimana seharusnya mereka mendidik anak serta menjalankan kehidupan parenting mereka.

Pembukaan topik diawali dengan satu pertanyaan yang mau tidak mau, membuat sebagian besar orang harus berpikir untuk menjawabnya. Bagaimana kita bisa tahu kebutuhan emosi anak? Kalau kebutuhan fisik tentu saja mudah dideteksi, tapi mendeteksi kebutuhan emosi adalah dimensi yang berbeda serta tidak kasat mata. Dalam Good Enough Parenting, ada  5 Core Emotional Needs yang harus dipenuhi agar anak dapat bertumbuh dengan sehat secara emosi, yaitu:
  1. Connection & Acceptance
  2. Healthy Autonomy
  3. Reasonable Limits
  4. Realistic Expectation
  5. Spiritual Values & Community

 

Core Emotional Needs pada anak ini dapat diibaratkan seperti cahaya matahari, nutrisi, air, dan unsur lainnya yang dapat membuat tanaman bertumbuh. Kekurangan salah satu unsur saja, maka tanaman tak akan dapat bertumbuh sebagaimana mestinya. Demikian pula pada anak, kekurangan salah satu Core Emotional Needs saja dapat mengakibatkan mereka tidak dapat bertumbuh secara sehat (entah itu secara emosi, interaksi dengan sesama, cara berpikir, dalam hal spiritual, bagaimana mereka mengekspresikan apa yang mereka rasa, dan hal-hal lainnya).

orang tua - gkdi

SELF ESTEEM

Self esteem adalah pendapat kita tentang diri kita sendiri. Apa yang kira-kira anak kita pikirkan tentang dirinya? Misalkan, bagaimana anak kita menilai tentang kepintaran (smart)? Perbandingan apa yang ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya dan juga dari kita sebagai orang tuanya?

Social Mirror vs True Mirror

Social mirror adalah saat kita berkaca menggunakan nilai-nilai yang berlaku di sekeliling kita, ciri-cirinya yaitu:

  • Apa yang orang lain katakan tentang kita
  • Berdasarkan perbandingan dengan keadaan orang lain
  • Bersifat eksternal
  • Seringkali stereotype yang tercipta berasal dari media
  • Berfokus pada dimana posisi/status diri kita hari ini

Namun, ini bukanlah cermin yang sebenarnya dan bahkan seringkali menjerumuskan.

True mirror adalah saat kita bisa melihat ke dalam diri sendiri, lalu mengenali apa kelebihan serta kekurangan kita, ciri-cirinya yaitu:

  • Inilah diri kita yang sesungguhnya
  • Berdasarkan dari kepribadian kita yang sesungguhnya
  • Bersifat internal
  • Berasal dari hati nurani dan kesadaran diri (self awareness)
  • Berfokus pada potensi (diri kita bisa menjadi seperti apa di masa mendatang)

SELF WORTH

Berbeda dengan self esteem yang bisa naik-turun tergantung situasi yang dihadapi, maka self worth bersifat menetap. Contohnya pada uang seratus ribu rupiah, walaupun dilipat, diinjak, dan sebagainya nilai uang tersebut tetap saja seratus ribu rupiah. Inilah hal lebih penting yang seharusnya kita ajarkan kepada anak-anak kita.

Seperti Mazmur 139:14 katakan:

Aku bersyukur kepada-Mu  oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib ; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.

Apakah anak-anak kita menyadari bahwa Tuhan menciptakan mereka dengan begitu luar biasa? Apakah kita sendiri sebagai orang tua juga menyadari hal ini? Karena bila seseorang benar-benar memiliki keyakinan seperti yang mazmur katakan, maka apapun yang terjadi cara dia melihat dirinya tak akan tergoyahkan karena ia tahu siapa dirinya di mata Tuhan (as a real human being).

Namun, kenyataannya adalah banyak sekali orang tua menilai anak-anak mereka berdasarkan dari apa yang mereka capai dan bagaimana penilaian orang lain terhadap mereka. Inilah pola yang pada akhirnya akan membentuk anak-anak dengan self worth yang rendah. Apa saja ciri-ciri anak dengan self worth yang rendah?

  • Tidak bisa bertahan terhadap tekanan lingkungan pergaulan
  • Takut mencoba hal baru
  • Runtuh saat menghadapi masa sulit
  • Merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan

Sedangkan, anak-anak yang memiliki self worth yang sehat akan terlihat sebagai berikut:

  • Dapat bertahan terhadap tekanan dari lingkungan pergaulan
  • Mau mencoba hal-hal baru dan bertemu dengan orang-orang baru
  • Mampu mengatasi kekecewaan, kegagalan, kesalahan, dan masa-masa sulit
  • Merasa dicintai dan diinginkan

Lantas, bagaimana caranya agar self worth yang benar dapat kita tanamkan pada anak kita?

orang tua - gkdi 4

1. Regular Encouragement

Apa yang keluar dari mulut kita sebagai orang tua sangatlah penting, karena anak-anak akan mempercayai  apa yang orang tua mereka katakan. Kebanyakan sebagai orang tua kita secara otomatis sering mengekspresikan apa yang kita rasakan serta ekspektasi tanpa filter yang benar. Namun, hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan yang permanen pada psikologi sang anak.

Efesus 4:29 mengajarkan pada kita:

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Mengapa tentang perkataan pun Tuhan sampai begitu detail meminta kita untuk mengucapkan perkataan baik yang dapat membangun? Jawabannya ada di kitab Amsal 18:21 yaitu: 

Hidup dan mati  dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya. Lidah adalah salah satu anggota tubuh yang jika tidak kita kuasai dapat membunuh karakter seseorang, tak terkecuali anak kita sendiri.

Seperti apa perkataan yang dapat membangun karakter anak-anak?

  • I believe in you
  • You can do it
  • I love you with all my heart
  • I trust you
  • Well done
  • Good try
  • Thank you for helping
  • Thank you for doing the chores

Masih banyak lagi contoh perkataan membangun yang disampaikan oleh Pdt. Budi saat kelas berlangsung.

orang tua - gkdi 3

2. Realistic Expectation

Banyak orang tua memiliki tolak ukur yang salah, sehingga akhirnya mereka pun memiliki pengharapan yang salah terhadap anak (terlalu tinggi atau terlalu rendah). Lalu, apa yang sering membuat kita memiliki pengharapan yang tidak wajar terhadap anak?

Beberapa penyebabnya adalah sebagai berikut:

  • Kita tidak mengetahui kekuatan anak kita
  • Kita tidak menghargai kekuatan anak kita
  • Impian pribadi kita dipaksakan kepada anak
  • Kita takut akan pandangan orang lain terhadap kita ataupun anak kita

Dr, Howard Gardner – seorang profesor dari Harvard University meluncurkan teori tentang Multiple Intelligence dimana ia menemukan bahwa manusia memiliki beberapa cara yang berbeda dalam memproses sebuah informasi dan tes IQ adalah sebuah cara tradisional yang sangat terbatas untuk dapat menggambarkan kompleksitas kecerdasan manusia.

Dalam teorinya, Multiple Inteligence manusia dibagi menjadi 8 kategori, yaitu:

  • Linguistic Intelligence (“word smart”)
  • Logical-mathematical Intelligence (“number/reasoning smart”)
  • Spatial Intelligence (“picture smart”)
  • Bodily-Kinesthetic Intelligence (“body smart”)
  • Musical Intelligence (“music smart”)
  • Interpersonal Intelligence (“people smart”)
  • Intrapersonal Intelligence (“self smart”)
  • Naturalist Intelligence (“nature smart”)
orang tua - gkdi 2
Tugas kita sebagai orang tua adalah:
  1. Expose & encourage : lihat dimana letak kekuatan anak kita dan dorong agar area itu bertumbuh.
  2. Accept & praise : menerima apa adanya diri mereka, bukan memaksakan impian atau kehendak kita.

Di akhir acara, Pdt. Budi memberikan juga beberapa hal-hal praktis bagaimana mendorong prestasi anak agar menjadi lebih baik serta menutup pelajaran dengan sebuah puisi dari Diana Loomans:

If I had my child to raise over again,

I’d finger paint more, and point the finger less.

I had do less correcting, and more connecting.

I’d take my eyes off my watch, and watch with my eyes.

I would care to know less, and know to care more.

I’d take more hikes and fly more kites.

I had stop playing serious, and seriously play.

I’d run through more fields, and gaze at more stars.

I’d do more hugging, and less tugging.

I would be firm less often, and affirm much more.

I’d build self-esteem first, and the house later.

I’d teach less about the love of power,

And more about the power of love.

Apa yang Anda pikirkan & rasakan setelah membaca narasi dari parenting class di atas? Apakah ada hal-hal baru yang dapat memperluas perspektif Anda sebagai orang tua? Jika Anda merasa hal ini berguna, nantikan parenting class berikutnya & bergabunglah! Sampai jumpa!

* Bila Anda memerlukan pelayanan konseling rohani (pribadi/pernikahan) atau komunitas pendalaman Alkitab, kami dapat membantu. Klik tautan pada kalimat sebelumnya atau hubungi kami di Whatsapp GKDI Official

 

Artikel terkait: Kasih Sayang Orang Tua: Mengutamakan Hati, Bukan Penampilan

(Visited 46 times, 1 visits today)

Last modified: Aug 23

Close