5 Atribut Penting dalam Mengasihi dari Orang Samaria

Gereja gkdi lagu

Yesus pernah bercerita tentang orang Samaria yang murah hati, seperti yang tertulis di injil Lukas 10:25-37. Cerita tersebut dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan seorang Ahli Taurat tentang siapakah sesama manusia. 

Namun, cerita tentang Orang Samaria yang murah hati bukan hanya sekedar memberi jawaban tentang siapakah sesama manusia itu. Tetapi, lebih dalam lagi, orang Samaria ini memberi kita suatu pandangan yang jauh lebih luas tentang mengasihi, yang dapat kita contoh.  

1. Tidak Diskriminasi

orang samaria-gereja-gkdi 1

Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. – Lukas 10:30-33

Seorang imam melihat korban penyamun tergeletak di jalan tapi menyingkir dan melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga dilakukan oleh seorang keturunan Lewi. Mereka sama-sama keturunan Yahudi tapi tidak mau membantu sesamanya yang juga orang Yahudi. 

Berbanding terbalik dengan orang Samaria. Meski dipandang lebih rendah oleh orang Yahudi, karena mereka adalah keturunan campuran – bukan murni orang Yahudi, dialah yang akhirnya menolong orang Yahudi yang sekarat itu. Ia tidak diskriminasi. Ia tetap menolong orang yang membutuhkan dan tidak memandang suku, ras, kepercayaan, serta segala perbedaan itu.

Di tengah keragaman sosial hari ini, apakah kita mau membantu orang lain yang berbeda dengan kita? Mengasihi tanpa diskriminasi, tanpa memandang status ekonomi, status sosial, latar belakang, suku, ras, agama, penampilan, dan lain-lain. Sebagai pengikut Kristus, marilah kita mengikuti jejak Yesus, yang mengasihi dan menolong tanpa diskriminasi. 

2. Mengasihi = Bersedia untuk Terlibat

orang samaria-gereja-gkdi 2

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. – Lukas 10:34

Ketika orang Samaria melihat korban penyamun itu, ia tidak hanya merasa kasihan, dia turun tangan untuk membantu orang itu. Tertulis dalam ayat di atas bahwa Ia membersihkan dan membalut luka orang tersebut. Kemudian, dia menaikkannya ke atas keledai, lalu membawanya ke penginapan dan merawatnya. Orang Samaria itu mau terlibat. 

Imam dan Lewi mengerti firman Tuhan tentang menolong sesama tapi tidak melakukannya. Bahayanya, hari ini, kita bisa mengerti firman Tuhan dan mungkin fasih mengutip ayat-ayat tentang kasih. Akan tetapi, kalimat tersebut akan menjadi kata-kata semata jika kita sendiri tidak mempraktekkannya

Apakah kasih kita tidak lebih dari rasa belas kasihan? Apakah kita enggan ‘mengotori tangan kita’ untuk terlibat secara langsung? Atau mungkin, apakah selama ini Anda hanya mengasihi dengan kata-kata saja, tanpa perbuatan? Anda mungkin saja sudah merasa cukup baik selama ini, tapi bagaimana jika Anda diminta terlibat mengasihi secara langsung? Relakah Anda terlibat lebih jauh?

3. Mengasihi Membutuhkan Manajemen Keuangan dengan Baik

orang samaria-gereja-gkdi 3

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. – Lukas 10:35

Tidak diragukan lagi, orang Samaria itu memiliki manajemen keuangan yang baik. Dia dapat mengatur dan mengelola keuangan pribadinya. Saya yakin dia telah menempatkan uangnya pada pos-posnya masing-masing. Orang Samaria itu pasti memiliki dana darurat. Dana itulah yang dipakai untuk membantu korban penyamun.

Untuk dapat mengasihi, kita perlu mampu mengelola uang kita dengan baik. Mengasihi butuh pengorbanan, entah itu waktu, tenaga, dan juga uang. Untuk mengasihi, terkadang kita perlu datang ke rumah orang, membelikan sesuatu, menyumbangkan uang, dll. Bagaimana caranya kita dapat mengasihi, jika keuangan kita pun berantakan, atau bahkan setiap bulan minus?

Kita perlu mengatur uang kita dengan baik. Uang adalah titipan Tuhan. Penggunaan uang kita tentu prioritas utamanya adalah untuk pekerjaan Tuhan. Setelah itu ada pos untuk tabungan atau investasi, dana darurat, asuransi, pengeluaran rutin, dan sebagainya. Pengeluaran harus disesuaikan dengan pendapatan, pastikan semuanya Anda kelola dengan baik. 

Jika kita mampu mengelola keuangan kita dengan baik, tentu kita bisa mengasihi orang lain dengan lebih baik lagi, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria itu. Dia bisa membantu orang yang berkesusahan dengan maksimal. 

4. Reputasi yang Baik Menunjang Kita Mengasihi dengan Maksimal

orang samaria-gereja-gkdi 4

Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. – Lukas 10:35

Mungkin Anda bertanya-tanya, “Mengapa pemilik penginapan mau melanjutkan perawatan orang luka tersebut?” Bahkan dipesankan untuk tidak segan menggunakan uang pribadinya jika uang yang diberikan ternyata kurang.

Apakah orang Samaria itu pernah ke penginapan itu sebelumnya? Mungkin. Apakah orang Samaria itu pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya? Jika pemilik penginapan mau melakukan apa yang diminta oleh orang Samaria itu, berarti dia adalah orang yang dapat dipercaya. Besar kemungkinannya, dia memiliki nama dan reputasi yang baik. 

Nama dan reputasi yang baik akan banyak berguna di banyak bidang seperti pekerjaan, pendidikan, dan pergaulan. Bagaimana Anda menjaga reputasi Anda hari ini akan berdampak untuk masa yang akan datang. 

Dan, dalam mengasihi, reputasi yang baik ini juga penting. Orang akan lebih percaya dengan kita. Sehingga, saat kita berbuat kebaikan, kita didukung, bukan malah dicurigai. Bagaimana reputasi Anda di mata orang lain hari ini?

5. Murah Hati: Syarat Utama untuk Mengasihi

orang samaria-gereja-gkdi 5

Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. – Lukas 10:30

Orang Samaria itu tidak tahu berapa lama orang yang terluka itu akan dirawat akibat musibah perampokan itu. Tetapi dari tulisan “setengah mati”, kita bisa menduga pengobatan dan perawatannya butuh waktu yang cukup lama. Dan semakin lama berarti semakin banyak biaya rawat inap yang dibutuhkan.

Selain dibutuhkan uang yang tidak sedikit, ada satu hal penting yang orang Samaria ini miliki, yaitu kemurahan hati. Butuh kemurahan hati untuk membiayai seluruh perawatan orang yang sedang “setengah mati” yang bahkan tidak ia kenal. Itulah sebabnya judul dari perikop ini di Alkitab ditulis sebagai, “Orang Samaria yang murah hati.”

Hal yang paling penting dan mutlak untuk ada dalam mengasihi adalah kemurahan hati. Tanpa kemurahan hati, kita tidak dapat mengasihi dan membantu orang lain. Kemurahan hati tidak selalu ditunjukkan dengan kemampuan untuk mengeluarkan biaya yang besar. Membantu dengan memberikan waktu dan tenaga pun dibutuhkan kemurahan hati. 

Jika kita tidak sanggup membantu seorang diri, kemurahan hati akan membuat Anda tetap membantu. Misalnya, dengan cara mencarikan bantuan dari orang lain. Mari kita miliki hati yang murah hati, untuk selalu membantu orang lain. 

Di ayat terakhir terdapat jawaban dari pertanyaan siapa sesama kita. 

Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” – Lukas 10: 36-37

Dari perikop di atas kita tahu, bahwa semua orang adalah sesama manusia bagi kita. Tidak peduli dari ras atau bangsa manapun. Ada banyak hal yang dapat kita pelajari dari cara orang Samaria mengasihi. Mengasihi tidak diskriminasi dan bersedia untuk terlibat. Selain itu, mengasihi juga membutuhkan manajemen keuangan yang baik, reputasi yang baik, dan juga kemurahan hati untuk menolong. 

Mari kita buat dunia ini menjadi tempat yang lebih indah dengan mengasihi. 

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. – Galatia 6:2

Referensi:

www.crosswalk.com/family/career/the-parable-of-the-good-samaritan-5-lessons-learned.html

– 

 

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok