Written by gery 9:36 am Bible & Character, Biblical Talk, Character, Devotionals, Self Development, Spiritual Life, Uncategorized

Nuh: Tetap Taat di Tengah Dunia yang Kacau. Bagaimana dengan Kita?

nuh - gereja gkdi - cover

Pada zamannya, Nuh mungkin dianggap gila.

Ia sendiri membangun sebuah bahtera – kapal besar – karena Tuhan berfirman, akan ada air bah. Tak seorang pun percaya akan ada sesuatu se-absurd itu. Kalau ada teman kita bilang, akan ada banjir bandang di musim kemarau, akankah kita percaya?

Kira-kira begitu. Tidak demikian halnya dengan Nuh. Meskipun perintah Tuhan terasa absurd, ia taat. Meskipun teman-temannya dan tetangganya berbuat dosa, ia memilih taat dan bertahan di dalam Tuhan.

Panggilan Nuh dan Ketaatannya

nuh - gereja gkdi - 1

Nuh hidup di zaman yang penuh dengan kejahatan dan kekerasan. Namun, di tengah-tengah keadaan yang rusak tersebut, Tuhan memanggil Nuh karena ia adalah orang yang benar di mata Tuhan. 

Kejadian 6:9 mengatakan tentang Nuh, “ …seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan dia “hidup bergaul dengan Allah.”

Ketika Tuhan memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah bahtera, ia taat tanpa mempertanyakan perintah Tuhan. Kejadian 6:22 mencatat, ” tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”

Tentu ini sangat mengagumkan. Saya kadang melihat diri saya sendiri, dan menemukan bahwa saya melakukan perintah Tuhan tidak sampai 100%. Beda dengan Nuh. Jangankan 100%, 1,000% pun mungkin akan dia beri.

Meskipun kita hidup di zaman kasih karunia, kita tidak boleh lupa bahwa taat kepada firman Tuhan tetap nomor 1. Kata Petrus di Kisah Para Rasul 5:29, “Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ”Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.” Akankah kita lebih taat dengan Tuhan, atau apa kata dunia?

Mari kita lihat 3 hal yang dapat kita pelajari dari ketaatan Nuh.

3. Ketahanan dalam Ketaatan

Nuh tidak hanya taat, tetapi ia juga bertahan dalam ketaatannya.

Membangun bahtera bukanlah tugas yang mudah. Ia harus menghadapi ejekan dan cemoohan dari orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak percaya akan adanya air bah yang akan datang. 

Namun, ia tetap taat dan bertahan dalam ketaatannya kepada Tuhan. Ibrani 11:7 menyatakan, “Karena iman, maka Nuh – dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya.”

Perlu ketahanan yang luar biasa dengan terus bekerja selama bertahun-tahun untuk membangun bahtera tersebut. Untuk bisa membayangkannya, bahtera itu kira-kira sebesar kapal Titanic: panjangnya 270 meter, lebarnya 28 meter, seberat 52.000 ton. Kalau Nuh hidup di zaman sekarang, mungkin akan jauh lebih mudah, karena segala sesuatunya sudah modern.

Tapi, Nuh, dengan peralatan seadanya membangun. Kemungkinan besar yang membantunya adalah ketiga anaknya. Orang-orang lain, percaya saja tidak, apalagi membantu?

Butuh ketahanan untuk membangun kapal sebesar ini. Sama halnya dengan hidup kita. Adakah kita terus bertahan dalam ketaatan kita akan firman? Taat itu memang tidak mudah. Apalagi di dalam keadaan sulit…

2. Keselamatan Melalui Ketaatan

nuh - gereja gkdi - 2

Ketika air bah datang, hanya Nuh dan keluarganya yang selamat karena mereka berada di dalam bahtera. Dalam Kejadian 7:1 Tuhan mengatakan, ”Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.

Keselamatan Nuh adalah hasil dari ketaatannya kepada Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa ketaatan kepada Tuhan membawa berkat dan keselamatan dalam hidup kita.

3. Tetap Taat Sesudah Air Bah

Setelah air bah surut, Nuh dan keluarganya keluar dari bahtera dan memulai hidup baru. Ia tetap setia kepada Tuhan dan membangun mezbah untuk menyembah Tuhan (Kejadian 8:20). Tuhan memberkatinya dan mengadakan perjanjian dengan keturunannya, seperti yang tercatat dalam Kejadian 9:8-17.

Dari sini kita belajar untuk taat bahkan sesudah masa-masa sulit berlalu. Banyak orang bisa menemukan Tuhan ketika mereka bergumul, namun jauh dari Tuhan ketika berhasil.

Bisakah kita tetap setia, bahkan di masa-masa yang indah?

Taat dan Bertahan Sampai Akhir

Dari kisah Nuh, kita belajar bahwa ketaatan kepada Tuhan memerlukan iman yang kuat dan ketahanan yang teguh. Ketaatannya, kemampuannya bertahan, dan imannya yang luar biasa adalah contoh bagi kita.

Meskipun kita hidup di tengah dunia yang kacau, kisah dan contoh Nuh adalah motivasi bagi kita. Selama kita berjalan bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.

Kata Ibrani 10:38, “Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.” Bukan hanya iman kita yang penting, tetapi kemampuan kita untuk terus bertahan sampai akhir.

Dengan mempelajari dan menerapkan prinsip-prinsip dari kisah ini, kita dapat hidup dalam ketaatan dan ketahanan yang sejati, membawa berkat dan keselamatan bagi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita.

Mari tetap taat dan terus bertahan! Amin.

Related articles:

Gereja GKDI terdapat di 37 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp

(Visited 116 times, 1 visits today)

Last modified: Jun 21

Close