Sebelum mengenal firman Tuhan, saya mengira peran ayah hanyalah memenuhi kebutuhan jasmani anak, serta menegakkan disiplin dalam keluarga. Saya tidak punya gambaran tentang bagaimana mendidik anak secara rohani.

Sebagai orang tua, tentunya kita senang bila anak kita menjadi anak yang rohani. Oleh sebab itu, kita terlebih dulu harus menjadi ayah yang rohani, supaya bisa memberikan teladan kepada mereka.

Apa saja yang dapat kita lakukan untuk menjadi ayah yang sesuai standar firman Tuhan?

Ayah yang Rohani Mengejar Karakter Kristus

Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. – Efesus 6:4

Tuhan memberikan peran penting kepada ayah untuk mendidik anak sesuai dengan ajaran-Nya. Tujuannya, agar ia bisa membawa anak-anaknya kepada Tuhan. Jadi, seorang ayah yang rohani mengerti cara mendidik anak, dan bagaimana didikannya itu akan mengarahkan anak kepada tujuan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Kesalahan yang dulu saya lakukan adalah tidak mengejar pertumbuhan rohani pribadi seiring pertumbuhan usia anak-anak saya (putri kami berusia empat belas tahun dan putra kami dua belas tahun). Saya mendidik anak-anak yang beranjak remaja dengan cara yang sama seperti ketika mereka masih kanak-kanak. Apa pun yang saya katakan harus dipatuhi. Saya lupa pola pikir mereka kini lebih kritis dibanding dulu. 

Seorang ayah harus memperhatikan pertumbuhan rohani pribadinya agar ia dapat menjadi pemimpin rohani di keluarganya. Ia mengejar karakter Kristus, selalu ingin bertumbuh dan menghasilkan buah-buah roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Galatia 5:22-23). 

Untuk itu, para ayah perlu mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pembacaan Alkitab, doa, kelas dan seminar rohani, serta memiliki mentor atau pembimbing rohani. Setelah mengikuti kelas-kelas parenting dalam jemaat, saya banyak belajar cara mendidik anak sesuai dengan usia mereka—dan tentunya, sesuai landasan firman Tuhan. Saya dan istri senantiasa dibimbing sehingga dapat terus bertumbuh dalam hal keayahbundaan bagi anak-anak kami.

Ayah yang Rohani Mengasihi Istrinya

Salah satu faktor penting dalam keberhasilan mendidik anak adalah hubungan pernikahan yang baik. Sebelum berperan sebagai orang tua, seorang ayah terlebih dahulu berperan sebagai suami. Dan, suami harus mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi jemaat (Efesus 5:25)

Mengutamakan anak dibanding istri dapat menjadi penyebab pernikahan yang tidak bahagia. Setelah dikaruniai anak, jangan lantas prioritas kasih Anda lebih besar untuk anak ketimbang untuk istri. Gagal mengasihi istri adalah cikal-bakal hubungan yang buruk. Dan, jika hubungan pernikahan Anda buruk, kualitas parenting Anda juga akan cenderung buruk.

Luangkan waktu bersama istri lebih banyak ketimbang bersama anak. Secara rutin, lakukan kegiatan yang dapat menambah kedekatan kalian, seperti berkencan, olahraga, nonton, pillow talk, serta kegiatan-kegiatan hobi yang bisa dilakukan bersama. Kebersamaan ini adalah wujud cinta Anda kepada istri, yang dapat menumbuhkan kualitas pernikahan dan keayahbundaan kalian.

Ayah yang Rohani Mengajar dengan Sabar

Tanpa pengetahuan yang benar, saya mengira mengajarkan anak adalah sepenuhnya tugas ibu, sedangkan tugas ayah itu mencari nafkah. Nyatanya, ayah memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak. Musa menasihati para ayah untuk senantiasa mengajarkan anak-anak mereka, baik ketika duduk di rumah maupun dalam perjalanan (Ulangan 6:6-9). 

Menyadari hal ini, saya mulai mengajak anak-anak saya mengikuti ibadah keluarga setiap Minggu. Di sini, kami bernyanyi bersama untuk memuji Tuhan, membaca firman, dan berdoa. Apa pun yang bisa saya ajarkan kepada mereka, entah tentang sikap, karakter, atau kehidupan spiritual, saya lakukan secara konsisten—bukan hanya sekali-sekali atau menggebu-gebu pada awalnya saja. Dan dalam mengajar ini, bukan hanya dibutuhkan kekonsistenan, tetapi juga kesabaran.

Ayah yang Rohani Mendisiplinkan dengan Kasih

Mengajar, mengoreksi, mendisiplinkan, dan melatih anak-anak tentunya membutuhkan banyak energi. Terkadang, ini membuat kita kehabisan daya dan ingin menyerah. Kita pun tergoda menerapkan cara paling mudah: memberikan perintah, ancaman, bahkan pukulan.

Motivasi disiplin adalah kasih, bukan hukuman. Mendisiplinkan anak itu perlu, untuk menumbuhkan karakter tanggung jawab dalam dirinya, tapi kita harus melakukannya dengan kasih dan juga denagn sabar.

Firman Tuhan dalam Efesus 4:15 mengajarkan kita untuk speak the truth in love. Hal ini bukan hanya berlaku dalam menyelesaikan konflik, tetapi juga dalam hal mendidik anak. Saat kita mendidik mereka dengan kekerasan atau dengan cara yang salah, kita menaruh bara api di dalam hatinya. Mungkin mereka akan mematuhi kita, tetapi dengan perasaan terbeban. Kepatuhan mereka pun bisa jadi tidak bertahan lama. Mereka bisa melakukannya atas dasar rasa takut, bukan dengan pengertian yang benar.

Saat kita mendidik dengan kasih, mereka bisa melihat bahwa kita mengasihi mereka. Dan hal ini juga baik untuk pertumbuhan mental mereka, sehingga mereka bisa ertumbuh secara sehat.

Ayah yang Rohani Meminta Maaf Ketika Salah

Apakah seorang ayah harus minta maaf ketika melakukan kesalahan? Ya, tentu saja. Ayah perlu terlebih dahulu mengaku dosa dan meminta maaf kepada Tuhan. Setelah itu, ia meminta maaf kepada orang yang bersangkutan, entah itu istri atau anak. 

Contoh, anak tidak sengaja merusak barang kesayangan Anda, lantas Anda memarahinya dengan emosi meledak-ledak. Memang, pemicunya adalah kesalahan yang dilakukan anak, tetapi dengan berbicara kasar atau membentak, Anda telah bersalah kepada anak Anda.

Ujian terbesar kita ketika ingin minta maaf adalah pembenaran diri. Singkirkan semua itu. Meminta maaf adalah bentuk kerendahan hati, bagian dari mengajarkan anak tentang Tuhan. Dengan demikian, anak akan melihat bahwa di masa mendatang, mereka dapat terluka dan perlu belajar bagaimana memaafkan. Mereka belajar menghargai hubungan dengan sesama melalui cara Anda memperbaiki hubungan dengan mereka melalui permintaan maaf.

Ayah yang Rohani Mengharapkan Pertolongan Tuhan

Jika Anda merasa lima poin di atas tampak seperti sebuah kerja keras, Anda benar. Jadi, selain bekerja keras, Anda juga harus mengandalkan pertolongan Tuhan agar terus terdorong untuk mencintai, mengendalikan diri, dan berusaha dengan lebih efektif. Sebab, Anda tidak bisa mengubah hati anak-anak Anda. Hanya Tuhan yang bisa.

Bagian kita sebagai ayah adalah mendidik dan membawa mereka kepada Tuhan. Dia menggunakan kita untuk mengubah hidup anak-anak kita. Berdoalah agar Anda diberikan hikmat dalam menjalani peran Anda, baik sebagai suami maupun ayah. Berdoalah supaya anak Anda bisa menumbuhkan karakter Kristus dan menjadi pribadi yang takut akan Tuhan.

Ayah yang rohani sadar akan perannya dalam mendidik anak, dan bahwa tujuannya adalah untuk membawa mereka kepada pengenalan akan Tuhan. Ia mengerti kadar kerohaniannya akan menjadi teladan untuk diikuti anak-anaknya. Para ayah, kejarlah pertumbuhan rohani. Jadilah ayah yang bersandar kepada Allah, yang mendidik anak-anaknya dengan kasih, kesabaran, kerendahan hati, serta konsistensi. Amin!

Referensi:
www.crosswalk.com/family/parenting/new-parents/6-things-a-godly-dad-does.html

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: