Devotionals
Improve Your Mental Health And Boost Your Resilience (Meningkatkan Kesehatan Mental dan Ketangguhan)
Kesehatan mental yang baik merupakan hal yang penting untuk kita miliki. Namun, hal ini juga perlu kita jaga, agar tetap sehat. Kesehatan mental kita banyak dipengaruhi oleh kondisi-kondisi yang terjadi di dalam hidup kita. Melihat pentingnya mental yang sehat, apalagi di tengah pandemi covid seperti ini, GKDI melalui Majelis Kesejahteraan mengadakan sebuah acara pada tanggal 4 April 2021 lalu.
Acara yang berjudul “Improve Your Mental Health And Boost Your Resilience” dibawakan oleh Ibu Alice Arianto. Beliau adalah seorang doktor di bidang psikologi klinis, yang dalam kesehariannya banyak membantu para remaja, dewasa dan keluarga dalam area kesehatan mental. Meski acara diselenggarakan secara online, tetapi tidak mengurangi antusiasme para peserta yang hadir.
Kesehatan Mental
Alice membuka acara ini dengan menjelaskan tentang aspek apa saja yang manusia miliki yang tidak dapat dipisahkan. Dan apa sebenarnya pengertian dari kesehatan mental itu sendiri. Mengutip ayat Alkitab Lukas 2:52, manusia terdiri dari 4 aspek yaitu:- Mental
- Fisik / tubuh
- Kerohanian
- Hubungan / Sosial
Beliau mengingatkan kita bahwa kita perlu memiliki kemampuan untuk mengatasi stress karena sepanjang kita hidup kita tidak akan lepas dari stress. Stress bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja, seperti ketika kita disakiti, ditinggalkan sendirian, atau ketika orang yang kita kasihi meninggal. Tantangan, masalah dan kegagalan pasti ada. Tapi ketika mental kita sehat, kita bisa mengatasinya tanpa perlu sampai depresi.
Fakta menyebutkan bahwa 1 dari 4 orang dewasa pernah mengalami masalah mental dalam hidupnya setiap tahun, baik yang berat maupun yang ringan. Dan 1 dari 17 orang pernah mengalami masalah mental yang serius. Masalah mental dapat terjadi kepada siapa saja, tidak dibatasi oleh usia dan profesi apapun.
Seperti apa orang yang memiliki mental yang sehat?
Orang yang Sehat secara Mental
“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh 10:10)Orang yang sehat secara mental akan memiliki rasa puas (content & satisfied), senang, dan dan semangat hidup. Dia memiliki kemampuan untuk bangkit, dan juga memiliki tujuan atas segala hal, baik dalam hubungan (relationship) maupun aktivitas atau kegiatan. Contohnya orang tua yang memiliki kesehatan mental yang baik mempunyai tujuan, apa yang mau dikerjakan hari ini dan besok. Sedangkan mereka yang mental health-nya buruk, biasanya tidak ada tujuan sehingga pikirannya bisa ke arah negatif, misalnya mau bunuh diri terus.
Orang dengan punya kesehatan mental yang baik akan mudah beradaptasi dan mau mempelajari hal yang baru. Mereka seperti bambu yang ketika ditendang bisa bounce back dan balik lagi. Mereka flexible, mampu mengatasi masalah, memiliki hidup yang seimbang antara bermain dan beraktivitas, juga dapat membangun dan memelihara hubungan. Orang yang sehat secara mental memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik.
Gereja adalah tempat teraman untuk semua orang
Alice mengingatkan apa yang menjadi peran gereja atau jemaat. Gereja adalah tempat teraman untuk semua orang. Orang-orang yang mengalami depresi atau kesepian dapat menemukan kasih yang sesungguhnya di dalam jemaat. Kita sebagai jemaat juga perlu mengerti bagaimana cara membantu orang lain yang bergumul dalam hal ini, sehingga mereka memiliki kerohanian dan kesehatan mental yang baik. Sehingga akan lebih banyak orang yang akhirnya mengalami kasih Yesus dalam hidup mereka pribadi.Mari kita juga bisa melihat dan belajar dari hati Yesus, apa yang Yesus lakukan kepada orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental?
Yesus menyembuhkan mereka
“Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.” (Mat 4:24)Yesus menyembuhkan mereka yang datang dengan berbagai macam kondisi dan masalah. Sebagai orang-orang percaya bukankah seharusnya kita juga memiliki hati yang sama seperti Yesus?
Dapat kita akui bahwa masalah kesehatan mental ini menjadi hal yang menakutkan. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara memperlakukan mereka. Sehingga mereka yang memiliki masalah mental cenderung dikucilkan dan disembunyikan. Biasanya keluarga merasa malu jika ada keluarga atau orang terdekat kita yang mengalami masalah ini. Di Indonesia sendiri banyak sekali kasus tentang pemasungan.
Tidak ada seorangpun yang mengharapkan dirinya mengalami masalah mental. Tidak ada yang ingin mengalami depresi, OCD, dan masalah kesehatan mental lainnya. Tetapi hal ini nyata, dan ada disekitar kita. Mari kita renungkan sejenak! Apa yang terjadi jika kita merasa ditinggalkan dan dikucilkan? Bagaimana perasaan kita?
Tapi saat ada orang yang menerima dan menghargai kita, itu membuat kita bisa mulai merasa diri kita berharga. Apalagi saat kita tahu ada orang yang berjuang menerima kita terlepas dari berbagai beban dan berbagai hal apapun yang dihadapi. Di dalam Alkitab banyak sekali contoh-contoh orang yang mengalami masalah Kesehatan mental, dan dari Alkitab juga kita bisa belajar bagaimana cara memperlakukan mereka.
Kisah tentang Zakheus, seorang pemungut cukai, yang tidak diterima oleh orang lain, tetapi Tuhan peka akan apa yang menjadi kebutuhan dia untuk merasa dihargai. Yeremia juga pernah mengalami stress. Yehezkiel juga depresi ketika ia melihat tulang-tulang kering. Juga ada Ayub, orang baik yang begitu cinta Tuhan tapi mengalami penderitaan yang dahsyat. Ada juga orang yang berjalan di Emaus, yang begitu anxious. Juga anak bungu yang hilang, di mana saking depresinya, ia sampai memakan makanan babi.
Elia pernah mengalami depresi parah setelah dia melawan nabi 450 nabi Baal sendirian dan mendengar kabar bahwa Izebel akan membunuh dia. Elia merasa lelah dan sendiri. Tapi Tuhan tidak meninggalkan dan membiarkannya, Tuhan mempedulikan Elia, Dia menyuruhnya makan dan beristirahat. Dan setelah Elia pulih, Tuhan kembali memberikan kepercayaan kepadanya dengan memberikan dia tugas yang penting.
Mengalami depresi bukanlah akhir dari segalanya. Ketika seseorang mengalami sakit secara mental, belum tentu Tuhan tidak lagi memakai mereka. Ketika mereka dapat mengatasinya dan pulih, Tuhan akan pakai lagi orang itu untuk kemulian-Nya. Kita banyak menemui orang-orang dengan masalah kesehatan mental ini. Hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah menunjukan kepeduliaan, menerima, menghargai, mendengarkan, dan mengasihi mereka. Ketika orang dapat merasakan kepedulian dan kasih kita, itu dapat membantu dia Kembali menemukan kehidupannya.
Alice menggambarkan tentang depresi seperti jatuh kedalam lobang yang sangat dalam dan gelap. Meskipun orang sangat ingin membantu kita, mengulurkan bantuan tapi belum tentu bantuannya sampai karena sangat dalam, kelam, dan gelapnya kita jatuh. Ketika ada orang yang melemparkan tali ke kira, terkadang kita pun tidak ada energi untuk bisa menggapainya dan untuk naik. Hanya kasih Tuhan yang bisa membantu. Dengan sabar Ia mengulurkan tangan dan menunggu sampai kita siap dan bisa meraihnya. Saat Ia mengangkat kita, kita menjadi sembuh dan pulih.
Mata hati seperti apa yang perlu kita miliki?
- Mati hati dari orang yang mengalami depresi. Seperti apa mata yang terlihat? Mungkin kekosongan, mungkin tidak ada harapan sampai kita melihat Yesus. Sampai Tuhan mengirimkan orang orang-orang di sekitar kita untuk membantu.
- Mata hati dari orang yang melihat orang yang depresi. seperti ketika kita melihat Zakheus, wanita yang menangis, pendosa. Kita merasa ketakutan akan apa yang orang depresi itu akan lakukan kepada kita, misal takut dipukul atau dibunuh. Atau kita juga bisa menghakimi karena merasa diri lebih baik
- Mata hati yang seperti Yesus. Yaitu Tuhan ingin orang tersebut bisa sembuh dan pulih. God heals. Dan Tuhan bisa sembuhkan orang lain melalui melalui kita.
Otak Manusia
Alice juga membukakan fakta tentang otak manusia. Melalui neuroscience, kita bisa tahu keadaan otak manusia. Tuhan itu luar biasa. Terlahir dari suku manapun, otak kita sama, beratnya 1,36 gram. Dan hebatnya, otak manusia bersifat plastis, alias bisa di-repair dan recover (diperbaiki dan dipulihkan).Alice memberikan perbandingan antara otak yang normal dan otak yang mengalami masalah mental, seperti traumatic brain injury (TBI), OCD, dan (seizure activity (seperti epilepsy). Anak yang dipanti asuhan dengan yang dikasihi di keluarga juga berbeda otaknya. Mereka yang biasa di-neglect atau emotionalnya terbaikan, jarang diajak ngomong, otaknya bisa menyusut sebanyak 25%. Namun, hebatnya, hal ini bisa sembuh.
Otak kita jaringannya sangat banyak, seperti hutan di Amazon. Di dalam otak orang dewasa terdapat sekitar 200 miliar neuron. Bayi memiliki 100 juta connection. Dan inilah kuncinya, ketika kita mau sehat secara mental, semuanya dimulai dari pikiran. Apakah orang yang mengalami trauma bisa sembuh? Ketika ada orang yang mengalami trauma, biasa dimaki dan dikucilkan, ketika dia ketemu orang yang bisa terima dia, maka akan dibentuk sebuah jalur baru. Otak itu plastis, bisa berubah melalui terapi atau pengalaman di dalam jemaat, group, diterima, disayang, dan dihargai.
Kesehatan mental itu semua ada di pikiran kita. Tetapi emosinya juga harus sehat. Oleh karena itu perlu dibangun sebuah hubungan. Keluarga yang sehat, harus punya hubungan yang nyantai. Jangan cuma tanya, “Sudah belajar, sudah bangun, sudah mandi, sudah sikat gigi, sudah online belum?. Anak akan tegang. Kita perlu untuk bisa play with them, belajar, makan, nonton, nyanyi, nari, dan bermain bersama mereka.
Tips mental health yang sehat sangat sederhana. Harus dimulai dari kesadaran diri dulu. Kalo kita tidak sadar, kita tidak akan lakukan apa-apa.
Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
Kita perlu memiliki hati yang tenang, yang santai dan rileks.
Prinsip Kesehatan Mental
Kesehatan mental seperti timbangan yang berisi hal-hal baik dan hal buruk. Kita perlu membuat list tentang apa yang baik dan yang buruk bagi mental health kita. Yang buruk seperti khawatir tentang keuangan, lingkungan yang tidak stabil, dsb. Kita juga perlu tulis hal-hal yang baik bagi kesehatan mental kita seperti komunitas rohani yang peduli, dsb. Timbangan kita cenderung lebih banyak yang mana? Apakah hal baik atau hal buruk?Dengan menulis, kita jadi lebih sadar, kita di posisi mana. Kalau kita punya awareness atau kesadaran, kita jadi punya pilihan akan apa yang mau diambil. Tetapi kalau tidak pernah sadar, kita jadi tidak punya pilihan, dan tidak bisa mengambil keputusan apapun. Keputusan tersebut akan membantu kita melakukan perubahan.
Alice juga mengingatkan kita untuk bersyukur, karena orang-orang di sekeliling kita tidak sempurna. Karena kalau mereka semua sempurna, kita akan stress. Justru karena kita gak sempurna, maka kita butuh Tuhan. Kita jadi sempurna karena Tuhan yang menyempurnakan kita.
7 Kunci Kesehatan Mental
. Memiliki arti dan tujuan hidupMental kita akan lebih sehat saat memiliki tujuan hidup yang jelas. Menjadi murid membuat kita punya tujuan yang jelas, yaitu mencari Tuhan, dekat dengan Tuhan, dan hidup dengan visi & misi. Banyak juga orang yang punya segalanya, tapi tidak punya tujuan. Operasi ini dan itu agar kelihatan lebih menarik, tetapi tetap stress juga. Orang yang tidak punya tujuan pasti stress.
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” - Roma 8:28
Kita perlu percaya, apapun yang terjadi dalam hidup kita, ada tujuan dan rancangan yang baik dari Tuhan. Bahkan di tengah covid seperti ini, kita juga dengar banyak kabar baik, seperti kesembuhan, ada yang kenal Tuhan, hubungan keluarga yang lebih harmonis, dll.
Purpose somehow gives your brain resilience. It makes your brain stronger and resistant (Boyle et.al, 2021)
Kita perlu punya cara pikir bahwa masalah dan kegagalan akan selalu datang (come & go) (Pengkhotbah 9:11, Ayub 5: 7) Tetapi kita perlu fokus kepada Yesus dan maju terus agar bisa sehat. Kalau kita diam dan stagnan, kita pasti akan stress, depresi, dan punya masalah mental.
“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.” - Ibrani 12:2
Untuk memiliki kesehatan mental yang sehat, kita harus selalu punya tujuan.
2. Koneksi Sosial, Sistem Support yang Sehat
Kita perlu tetap terkoneksi dengan satu sama lain agar tetap sehat secara emosi.
3. Tetap aktif, relax, dan enjoy
Orang yang mengalami sakit mental biasanya diam saja, mengurung diri di rumah dan tidak mengerjakan apa-apa. Orang tua disarankan untuk tetap melakukan aktivitas yang mereka sukai, misalnya memasak dan berkebun
4. Mengelola Stress
5. Brain-Healthy Diet
Kita perlu makan makanan yang sehat, tepat, teratur. Suasana makan juga menyenangkan, jangan makan makanan yang berlemak.
6. Tidur yang berkualitas
7. Matahari, alam terbuka
Ketujuh hal tersebut sebenarnya tidak susah dan bisa dilakukan.
Miliki pikiran yang sehat - Healthy & Godly Thinking (Fil 4: 4-8)
Pemikiran yang sehat adalah memikirkan sesuatu dengan cara yang seimbang (melihat situasi atau masalah itu untuk apa itu sebenarnya). Ini berarti kita melihat semua faktor dalam situasi dan kemudian memutuskan bagaimana perasaan kita tentang hal itu. Mempraktekkan pemikiran yang lebih sehat dan seimbang dapat membantu kita menanggapi peristiwa kehidupan dan hubungan. Hal ini juga dapat meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri kita.Membuat jadwal rutin (Create Daily Routine)
(gambar5&6)Ketika orang mempunyai rutinitas, orang akan merasa aman. Kita perlu tahu jadwal kita, misalnya makan jam berapa, mandi jam berapa. Rutin membentuk suatu kebiasaan, dan kebiasaan itu membuat mental health seseorang menjadi sehat. Orang yang pola hidupnya jelas, biasanya memiliki mental health yang sehat. Contoh: orang gila, tidak ada jadwal kapan makan, mandi, tidur, sehingga kesehatan mentalnya terganggu. Anak-anak yang jadwalnya tidak diatur pasti akan mengalami masalah mental. Oleh karena itu, penting untuk memiliki rutinitas dari Senin - Minggu, dari pagi sampai sore. Rutin itu sangat membantu untuk sehat.
The Healthy Mind Platter
Ada 7 hal yang penting untuk kesehatan mental dan otak yang sehat. Kita perlu membagi waktu kita ke dalam 7 hal ini agar kita memiliki mental health yang sehat:1. Sleep Time (Tidur)
2. Physical Time (Olahraga)
3. Focus Time (Belajar atau Bekerja)
Buat anak-anak, focus time adalah waktu untuk belajar. Untuk orang dewasa adalah bekerja.
4. Time In
Contoh time in adalah: me-time, waktu tenang, waktu dimana kita bisa relax.
5. Down Time
6. Play Time (Waktu bermain)
7. Connecting Time (Waktu untuk Bersosialiasi)
Pause & Savor
Kita perlu memiliki waktu untuk pause. Pause artinya diam sejenak, bukan berhenti. Pause, just to be here & now.Savor adalah momen dimana kita bisa menikmati sesuatu. Misalnya saat kita makan es krim, kita bisa merasakan dinginnya es krim, bisa merasakan aliran air ketika mandi, mencium wangi sabun, merasakan enaknya minum teh. Di kitab Yehezkiel dikatakan bahwa ia mengecap Firman Tuhan itu manis seperti madu. Bisa merasakan kebaikan Tuhan dan mengalami satu kedamaian. Bisa merasakan semilir angin. Ini adalah ciri dari orang yg mental health-nya sehat.
Terkadang kita mengerjakan sesuatu dengan terburu-buru. Savor itu penting. Jangan kerja terus, sampai kita lupa menikmati hidup.
Resilience (Ketahanan mental)
Saat kita memiliki mental health, kita memiliki resilience. Resilience adalah ketangguhan. Resilience bukanlah sesuatu yang statik, tetapi terus menerus. Hal ini yang dialami oleh Paulus. Ia mengalami pembantaian, disiksa, masuk penjara, dll, tetapi dia tetap bertahan.Resilience is the process of adapting well in the face of adversity, trauma, tragedy, threats or significant sources of stress, such as family and relationship problems, serious health problems or workplace and financial stressors. It means “bouncing back” from difficult experiences.
Resilience adalah kemampuan kita beradaptasi terhadap kesulitan, tragedi, trauma, apapun dalam hidup. Dan kita tetap bisa bertahan dan tangguh. Resilience juga adalah tema utama dalam Alkitab, dan itu yang dilakukan oleh Yesus. Ibrani 12:1-3 menunjuk kepada teladan Yesus dalam hal ketahanan mentalnya. Yesus menanggung cemooh dan penderitaan salib dan oposisi dari orang berdosa, tapi Yesus terus memenuhi panggilannya. Di dalam segala kesulitannya, Yesus terus bertahan menghadapi semua itu. kita juga dapat belajar dari banyak tokoh Alkitab lainnya seperti Yusuf, Ester, Daniel, dan Paulus.
“The difference between average people and achieving people is their perception and response to failure. If you are not failing, you are probably not really moving forward.” Maxwell
Menurut Maxwell, yang menjadi perbedaan antara orang yang berhasil dan yang gagal adalah bagaimana persepsi dan respon mereka terhadap kegagalan. Kalau kita tidak pernah gagal, kita tidak pernah maju. Jadi, it’s ok untuk gagal dan lakukan kesalahan, yang penting kita terus bertahan.
“Resilience is very much a learnt pattern of feeling, thoughts, and behaviours”
Menurut research, resilience itu adalah pola. jadi bisa dilatih. Itu adakah pola pikir. Resilience menyangkut tentang apa yang kita pikir, kira rasa, dan perilaku. Hal ini bisa mulai dilatih, bahkan dari anak-anak kecil.
4 Elemen Penting dalam Resilience
- Atensi: seberapa banyak perhatian yang diberikan orang yang tangguh pada kejadian yang positif dan negatif dalam kehidupan?
- Tindakan: bagaimana orang yang tangguh menghadapi kejadian positif dan negatif dalam hidupnya?
- Pikiran: bagaimana orang yang tangguh berpikir tentang kejadian positif dan negatif dalam hidupnya?
- Motivasi: apa yang memotivasi orang yang tangguh dalam menghadapi kejadian positif dan negatif dalam hidupnya?
Bagaimana Membentuk Resilience dalam sebuah Keluarga?
Pertama-tama, untuk membentuk sebuah resilience diperlukan kesadaran. Dari situ, baru kita bisa punya pilihan, dan bisa ambil keputusan. Melatih resilience itu diperlukan kesabaran karena merupakan proses yang terus menerus, dan dapat terus dikembangkan. Salah satu cara melatih resilience adalah dengan melalui kemenangan-kemenangan kecil. Kalau anak kita berhasil menulis, atau ngomong, kita bisa berkata, “Yayy” dan memberikan tepuk tangan. Kalau dia terjatuh, tidak apa-apa, kita juga perlu embrace hal itu.Bukan cuma otot fisik saja yang perlu dilatih, tapi otot mental kita juga. Otot spiritual, fisik, sosial, mental kita perlu dilatih terus. Salah satu caranya melatih mental kita dengan cara membaca firman Tuhan dan mengenali:
- Apa sumber daya kita? (Apa yang kita punya?)
- Apa kekuatan kita?
- Apa kemampuan kita?
Seperti kesehatan mental, ketahanan juga memiliki timbangan. Saat kita bisa meningkatkan kesehatan mental, kita juga dapat memperkuat ketahanan mental kita. Ada 2 faktor yang mempengaruhi timbangan ketahanan mental ini, yaitu protective and risk factors. Protective factors adalah hal yang baik, sedangkan risk factors adalah hal yang buruk. Contoh protective factors adalah keluarga yang hangat, lingkungan yang stabil. Sedangkan risk factors adalah kebalikannya. Jika kita ingin meningkatkan resilience, kita perlu meningkatkan protective factors juga.
Kita juga perlu untuk bangun hubungan yang baik, misalnya dengan komunikasi yang baik. Contohnya: puji anak ketika dia lakukan yang benar, dan berikan response yang baik terhadap orang yang berbicara kepada kita.
Semoga melalui acara ini, membuat kita semakin mengerti tentang pentingnya kesehatan mental, serta mau mau berjuang melatih diri memiliki ketahanan mental yang semakin kuat. Kita juga dapat membantu dan memperlakukan orang-orang disekitar kita yang mengalami masalah mental dengan lebih baik, menerima, mengasihi dan menghargai mereka. Memiliki mata dan hati yang seperti Yesus. Kita juga bisa mulai mempraktekan dalam keseharian kita setiap tips yang sudah dibagikan. Semangat!!
ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya