Bagaimana Mengukur Kedewasaan Rohani?

Saat merayakan ulang tahun belum lama ini, saya merasa terkejut sendiri. Saya sudah mendekati usia 40 tahun! Sebentar lagi saya juga akan merayakan ulang tahun rohani yang ke-15. Cepat sekali waktu berlalu.

Secara fisik, tentunya saya dapat melihat perubahan saya. Namun, bagaimana dengan kerohanian saya? Lima belas tahun bukan waktu yang sebentar. Apakah saya sudah lebih dewasa secara rohani? Bagaimana cara mengukur kedewasaan rohani?

Saat memikirkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi, saya mulai mencari apa yang Alkitab katakan tentang kedewasaan rohani. Saya menemukan beberapa ayat yang membantu saya mengevaluasi kerohanian saya. Mungkin indikator-indikator ini tidak lengkap untuk mengukur kedewasaan rohani seseorang. Saya juga yakin kedewasaan rohani tiap orang tidak dapat digeneralisir.

Namun, Alkitab menuliskan cukup banyak tentang kedewasaan rohani. Berikut ini adalah beberapa ayat yang dapat membantu kita dalam mengukur kedewasaan rohani.

1. Apakah saya bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan? (2 Petrus 3:18)

dewasa-gereja gkdi-1

Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

Mungkin dalam bayangan duniawi kita, menjadi dewasa berarti semakin mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Namun, dalam pertumbuhan rohani malah sebaliknya. Bagaimana kita dapat mengenal Tuhan semakin dalam? Tentunya dengan berjalan setiap hari bersamanya. Semakin kita bergantung kepada-Nya, kita akan semakin mengenal-Nya.

Demikian juga dengan kasih karunia. Dengan begitu banyak kegagalan dalam perjalanan menjadi murid-Nya, saya belajar untuk menerima kasih karunia Tuhan. Kasih Tuhan kepada saya tidak berubah, baik saat saya hidup kudus, maupun saat saya jatuh dosa.

Merasakan kasih karunia Tuhan yang begitu besar membuat saya juga belajar untuk memberikannya kepada orang lain. Kapan kita dapat bertumbuh dalam kasih karunia? Saat kita dapat mengampuni orang lain dan memberikan kesempatan baru kepada orang yang mengecewakan kita. Kita juga perlu belajar untuk memberikan kasih karunia kepada diri sendiri. Saat mengalami kegagalan, kita tidak perlu tenggelam dalam self-pity atau kehilangan iman untuk bangkit kembali.

2. Apakah saya bertumbuh dalam buah-buah roh? (Galatia 5:22-23)

dewasa-gereja gkdi-2

Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Saat membicarakan kedewasaan rohani, sering dikatakan bahwa seharusnya kita menjadi semakin seperti Yesus. Bagaimana cara kita mengetahui apakah kita sudah semakin seperti Yesus? Kita dapat memakai buah-buah roh untuk mengevaluasi diri kita. Semua buah roh yang disebutkan di dalam ayat di atas ada di dalam diri Yesus.

Apakah saya semakin bertumbuh dalam kasih? Apakah saya mengasihi orangtua saya? Bagaimana dengan musuh saya? Apakah saya merasa damai dan tenteram? Ataukah hal-hal duniawi masih merisaukan saya? Apakah saya sudah semakin sabar kepada anak, istri, atau suami saya? Apakah saya bisa semakin menguasai diri dalam hal A, B, atau C?

Mungkin kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan dalam semuanya itu. Tetapi, jika kita tidak berhenti bertumbuh, tahun depan kita akan lebih baik daripada diri kita saat ini. Lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, kita pasti akan lebih dewasa secara rohani. Jadi, apakah saat ini kita bertumbuh dalam buah-buah roh?

3. Apakah saya  mengutamakan unity dalam jemaat? (Filipi 2:2-4)

dewasa-gereja gkdi-3

…karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Persatuan dalam jemaat hanya dapat dicapai jika orang-orang semakin dewasa secara rohani. Salah satu penyebab perpecahan yang paling sering saya temui adalah saat orang-orang lebih memikirkan dirinya sendiri. Saat orang-orang merasa penting untuk diakui bahwa dirinya benar. Saat orang-orang lebih memikirkan perasaannya dibandingkan perasaan orang lain. Atau saat orang-orang merasa dirinya harus mendapat perhatian.

Memang tidak mudah untuk lebih mengutamakan orang lain. Diperlukan kedewasaan untuk merendahkan hati dan memprioritaskan kepentingan orang lain. Tetapi, saat kita mampu menyangkal diri, disanalah kita berhasil melewati ujian kedewasaan rohani.

Agar gereja dapat berfungsi seperti yang Tuhan rancangkan, kita harus bersatu. Jadi, apakah kita sedang ikut ambil bagian dalam rancangan Tuhan, atau mengambil jalan kita sendiri.

4. Apakah saya berbicara, merasa, dan berpikir seperti orang dewasa? (1 Korintus 13:11)

dewasa-gereja gkdi-4

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Pada kitab 1 Korintus, Paulus banyak menegur sikap-sikap jemaat Korintus yang tidak dewasa. Akibat terlalu mementingkan diri dan pendapat sendiri, banyak terjadi perselisihan di antara mereka. Anak-anak sering bertengkar karena hal-hal kecil. Mereka sering memperebutkan sesuatu dan ingin diutamakan. Karena otak yang belum berkembang penuh, sulit bagi anak-anak untuk mengendalikan emosi mereka.

Sayangnya, kita yang sudah dewasa juga masih sering seperti anak-anak. Padahal, kita sudah tahu apa yang benar dan yang seharusnya kita lakukan. Kedewasaan adalah saat kita mampu mengelola dan memahami emosi kita. Saat kita mampu mengendalikan kata-kata, perasaan, dan pikiran kita, saat itulah kita dapat dikatakan dewasa secara rohani.

5. Apakah saya seperti anak-anak dalam kejahatan? (1 Korintus 14:20)

dewasa-gereja gkdi-4

Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!

Ternyata salah satu ciri khas kedewasaan rohani adalah menjadi anak-anak dalam kejahatan! Anak-anak tidak mempunyai niat jahat dalam hatinya. Biasanya yang mereka lakukan hanyalah kenakalan dan tidak patuh. Mereka lugu dan tidak berpengalaman dalam kejahatan.

Suatu hari, saya mencari palet make-up yang hilang dari lemari saya. Tidak sulit bagi saya untuk menemukannya hancur berantakan di bawah sofa. Seseorang berusaha menyembunyikannya, tetapi tidak dapat mendorongnya cukup jauh agar saya tidak melihatnya. Anak saya yang berusia 3 tahun bermain-main dengannya dan tak sengaja menjatuhkannya. Saat saya memanggilnya kemudian, dia tampak ketakutan dan meminta maaf dengan tulus.

Orang dewasa mampu memikirkan kejahatan yang sedemikian rupa, yang menyebabkan kerusakan dan penderitaan yang luar biasa. Tetapi, anak-anak tidak. Biasanya, mereka akan kapok begitu mengetahui konsekuensi dari dosanya. Saat kita melihat dosa hari ini, apakah kita berlari menjauhinya? Apakah kita meminta maaf dengan tulus dan takut saat kita jatuh ke dalam dosa? Kita mempunyai Bapa yang sangat pengasih, yang akan mengampuni kita saat kita datang dengan hati yang tulus.

6. Apakah saya mempunyai hati yang melimpah dengan syukur? (Kolose 2:7)

dewasa-gereja gkdi-4

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Hidup tidak selalu berjalan baik. Hidup bahkan sering tidak adil. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita sering gagal dalam usaha kita. Namun, kedewasaan rohani adalah bersyukur atas apa yang sudah kita terima dari Tuhan. Kita mengukur dari apa yang telah kita punya, bukan yang tidak kita punya.

Seperti yang dinyatakan oleh firman di atas, iman yang kita miliki di dalam Kristus akan membuat kita bersyukur. Hari ini, apa pun yang terjadi dalam hidup kita, marilah kita melihat satu per satu apa yang telah Tuhan berikan dan kerjakan dalam hidup kita. Saat hati kita melimpah-limpah dengan rasa syukur, satu atau banyak kejadian buruk tidak akan mencuri sukacita kita. Jadi, apakah kita mempunyai hati yang semakin melimpah dengan syukur?

Kedewasaan rohani adalah proses yang terus berjalan dan tidak akan berhenti sampai kita mati. Tetapi, tidak seperti pertumbuhan fisik, kedewasaan rohani adalah tentang keputusan dan komitmen. Kita harus terus mengambil keputusan untuk bertumbuh dan berkomitmen untuk melakukan bagian kita. Dan percayalah, saat Tuhan melakukan bagian-Nya, hasilnya akan luar biasa!

 

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok