Kata merdeka identik dengan kebebasan. Bebas dari penjajahan, leluasa, tidak terikat, dan lepas dari tuntutan pihak lain. Dengan kata lain, merdeka adalah sebuah kondisi yang melegakan.

Terbatasnya penyelenggaraan upacara perayaan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-75 akibat pandemi COVID-19 tidak mengurangi makna kemerdekaan itu sendiri. Kita bersyukur atas perjuangan para pahlawan yang telah berkorban bagi bangsa dan negara. Kita bersyukur atas para pemimpin yang berjuang membangun negeri ini. Terlepas dari banyaknya hal yang masih harus dibenahi, kita adalah bangsa yang diberkati. 

Sebagai wujud syukur, kita perlu memaknai kemerdekaan dengan hal-hal yang positif dan membangun—tidak hanya secara material, tetapi juga secara mental dan spiritual. Pastikan Anda juga merdeka secara rohani. 

Apa saja makna merdeka secara rohani yang perlu kita ketahui dan terapkan?

Kebenaran yang Memerdekakan

Meski telah merdeka, budaya korupsi, kesenjangan sosial, kemiskinan, diskriminasi, serta kurang meratanya kesempatan kerja dan pendidikan masih kita alami. Masyarakat adil dan makmur belum terwujud. Namun, kita tidak boleh menyerah. Kita masih punya kesempatan dan harapan untuk memajukan Indonesia. 

Tuhan menghendaki kita, sebagai warga negara yang baik, untuk berkontribusi untuk kesejahteraan bangsa dan negara.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu. – Yeremia 29:7

Selain mendoakan negara, kita juga diminta untuk “mengusahakan.” Ini tidak terbatas kepada mereka yang duduk di institusi pemerintahan saja; semua orang bisa memberikan kontribusi positif. Sesederhana melengkapi dokumen administrasi kependudukan, taat pajak, membuang sampah pada tempatnya, tertib berlalu lintas, tidak menyebarkan berita hoaks, dan lain-lain. Semakin banyak orang yang melakukan, semakin besar manfaat yang dirasakan oleh bangsa kita. Mari mulai dari diri sendiri.

Selain merayakan kemerdekaan RI, ada baiknya kita memastikan bahwa kita juga merdeka secara rohani. Hanya pribadi yang merdeka yang bisa berkarya positif

Sebagai orang Kristen, kemerdekaan rohani yang kita miliki berasal dari firman Tuhan. Kebenaran ini akan menuntun, melindungi dan memampukan kita melawan semua hal buruk.

“… dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” – Yohanes 8:32

Hal-hal apa saja yang menentukan kemerdekaan rohani kita? 

1. Merdeka: dari Hamba Dosa Menjadi Hamba Kebenaran

Menurut sejarah, Indonesia mengalami penjajahan selama kurang lebih 350 tahun. Selama itu pula, perjuangan dan peperangan terjadi di berbagai daerah, hingga akhirnya semangat persatuan berkobar lewat Sumpah Pemuda tahun 1928. Tiga puluh tujuh tahun kemudian, kita berhasil meraih kemerdekaan. Sungguh sebuah perjalanan yang berat dan panjang.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, bumi berada di bawah penjajahan iblis (1 Yohanes 5:19). Iblis mengerahkan berbagai cara untuk menjauhkan manusia dari Allah. Manusia tidak bisa leluasa beribadah kepada Allah. Kecenderungan hatinya selalu berbuat dosa dan menyakiti Allah. Hal ini terus berlangsung, sampai akhirnya Yesus datang dan memberi kita kebebasan lewat pengorbanan-Nya di kayu salib.

Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa. – Kisah Para Rasul 13:39

Berbeda dengan para pahlawan yang berjuang merebut kemerdekaan dengan berkorban jiwa-raga, kita mendapatkan kemerdekaan rohani dengan cuma-cuma. Tuhan sendiri yang datang dan mendekatkan diri kepada umat-Nya. Ketika kita menerima dan hidup di dalam kebenaran-Nya, saat itu pulalah kita bebas. Kita beralih kepemilikan, dari hamba dosa, menjadi hamba kebenaran.

Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. – Roma 6:18

Menjadi hamba kebenaran akan membawa kita kepada keselamatan dan hidup yang kekal.

Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. – Roma 6:22

2. Merdeka: Lepas dari Tuntutan Maut

Pada masa penjajahan, kehidupan nenek moyang kita sangat memprihatinkan. Mereka dirundung kemiskinan, kesengsaraan, kebodohan, penindasan, dan kewajiban menyerahkan upeti kepada penguasa. Mereka menjalankan kerja paksa dengan perut kelaparan, sementara para penjajah hidup bersenang-senang dan menikmati hasil bumi kita yang berlimpah.

Secara rohani, kondisi ini tak ubahnya orang yang masih diperbudak dosa. Seakan tidak mengenal kata puas, hidupnya terjebak dalam satu dosa ke dosa lainnya. Setiap kali ingin melawan, ia merasa tidak berdaya. Hatinya sengsara dan jauh dari damai sejahtera. Ia hanya menunggu waktu, hingga maut dan kebinasaan datang menjemput. 

Syukur kepada Allah, oleh kemurahan hati-Nya, kita telah dibeli lunas! Tuntutan iblis dihapuskan, dan dia tidak bisa lagi mendakwa kita. Dengan kuasa Roh Kudus, kita punya kemampuan untuk melawan segala tipu muslihat iblis.

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! – 1 Korintus 6:20   

Sekarang tubuh kita adalah Bait Allah. Hati kita penuh damai sejahtera karena kita telah pindah dari cengkeraman maut ke hidup yang kekal.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. – Yohanes 5:24

Dunia boleh berbangga dengan segala ikatannya—keinginan daging dan kenikmatan hidup yang menggelincirkan manusia ke dalam dosa dan maut. Namun, orang yang dimerdekakan bisa melihat dari kacamata yang berbeda. Ia tahu dirinya adalah hamba kebenaran, dan tuntutan maut tidak lagi berkuasa atasnya. 

Sebagaimana bangsa ini berjuang mengisi kemerdekaan dengan pembangunan, kita juga harus berjuang mengisi kemerdekaan rohani kita dengan melakukan kebenaran Tuhan.  Jadilah pribadi yang merdeka dan siap berkarya untuk Tuhan dan negara. 

Dirgahayu Indonesiaku!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Apa Kata Tuhan tentang Warga Negara yang Baik?
Tetap Tenang di Tengah Pandemi Virus Corona

Video inspirasi: