Solusi Atasi Stres Akibat Masalah Finansial Keluarga

Dalam hidup berumah tangga, masalah finansial datang dan pergi. Biaya pendaftaran sekolah anak kurang; anak sakit tapi tabungan habis; perusahaan bangkrut dan tidak bisa bayar gaji karyawan. Skenario-skenario ini bisa saja terjadi dalam hidup Anda dan saya. Entah akibat gaya hidup, manajemen keuangan, atau keputusan yang kita buat, ekonomi keluarga pun turut terkena imbasnya. 

Tuhan izinkan masalah datang untuk tujuan yang baik, yaitu agar kita makin kuat, makin dewasa, dan makin bijak. Namun, rasa frustrasi saat menghadapinya kadang tidak terhindarkan, dan bisa berdampak buruk terhadap keharmonisan pernikahan Anda. Sebagai pengikut Kristus, bagaimana cara kita melewati masa-masa sulit ini?

Sementara Anda mengusahakan jalan keluar, cara-cara berikut dapat membantu Anda mengurangi stres

1. Serahkan Khawatirmu kepada Tuhan

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. – 1 Petrus 5:7

Khawatir itu manusiawi. Mencemaskan urusan uang itu wajar. Namun, kalau Anda hanya terus-menerus risau tanpa mencari solusi dan berserah kepada Tuhan, itu akan jadi masalah serius. 

Bicara stres terkait kesulitan ekonomi, saya dan istri pernah beberapa kali mengalaminya. Ketika mempersiapkan pernikahan, kami khawatir bukan main. Saya bukan orang berada; kedua orang tua saya sudah meninggal, dan saudara-saudara saya punya beban finansial mereka masing-masing. Ayah calon istri saya juga sudah meninggal, sedang ibunya tidak bekerja. Alhasil, biaya pernikahan harus kami tanggung dan cari solusinya sendiri. 

Meskipun saya dan istri sama-sama bekerja, hasilnya tetap tidak mencukupi. Segala upaya kami kerahkan, mulai dari mengambil kerja sampingan sebagai penulis dan guru les, hingga berjualan makanan ringan. Apa daya, tetap saja tidak cukup. Di tengah kekhawatiran itu, yang bisa kami lakukan adalah berserah pada Tuhan. 

Jalan keluar kami dibukakan ketika kami meminta nasihat dari pembimbing rohani, serta sahabat-sahabat yang sudah menikah. Kami dibimbing untuk fokus pada solusi dan senantiasa berdoa. Hasilnya? Sebelum hari pernikahan, tujuh puluh lima persen biaya sudah dibayarkan. Sisanya kami lunasi dengan uang sumbangan. Bahkan, masih ada kelebihan beberapa juta rupiah untuk kami tabung.

Saat dicekam masalah, kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri dan lupa bahwa  Allah berkuasa mengatasi segala keadaan. Jadi, belajarlah untuk menyerahkan kekhawatiran Anda kepada Tuhan. Kalau kami bisa melakukannya, Anda pun pasti bisa.

2. Bergayalah Sesuai Penghasilanmu

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. – Filipi 4:11-13

Setelah menikah, kami berdua tetap bekerja. Kabar baiknya, kami mampu membiayai seluruh kebutuhan rumah tangga. Kabar buruknya: saya boros. Apa yang saya inginkan akan langsung saya beli, meski sebetulnya tidak butuh. Akibatnya, saya bertengkar dengan istri. 

Beruntung, kami dibantu beberapa teman untuk belajar mengelola uang. Karena istri saya lebih bijak dalam mengatur keuangan, dialah yang menangani urusan finansial rumah tangga. Saat saya ingin membeli sesuatu, saya akan bicarakan dulu dengannya. Begitu juga sebaliknya.

Kami juga melatih diri untuk memiliki gaya hidup yang sesuai dengan penghasilan kami. Kerap kali kami menyaksikan bagaimana pasangan yang penghasilannya jauh lebih tinggi daripada kami bertengkar hebat dan terlilit hutang di sana-sini. Ini karena gaya hidup mereka melebihi pendapatan. Untuk sementara, mereka terlihat makmur, tetapi ujung-ujungnya jatuh miskin. Bahkan, ada pasangan yang akhirnya bercerai karena tidak mampu menyelesaikan masalah keuangan keluarga. 

Dari Paulus, kami belajar mencukupkan diri dalam segala perkara. Kami menggunakan uang yang Tuhan berikan sesuai kebutuhan. Kini kami bisa menabung dan mencicil rumah. Keuntungan lainnya, kami bebas dari stres akibat utang yang tak sanggup dibayar. Kami terhindar dari pertengkaran gara-gara beli barang yang tak perlu, dan tidak perlu sakit hati karena tak mampu membeli sesuatu yang kami butuhkan.

3. Terbuka dengan Saran dari Pihak yang Tepat

Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: “Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya.” 

Jawab Elisa kepadanya: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah.” Berkatalah perempuan itu: “Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak.” 

– 2 Raja-Raja 4:1-2

Mungkin Anda bisa membayangkan betapa stresnya istri mendiang hamba nabi Elisa ini. Setelah berduka kehilangan suami, dia diteror penagih utang yang ingin menjadikan kedua anaknya sebagai ganti pembayaran. Harta-benda tak punya, kecuali persediaan minyak seguci. Setelah mendengarkan keluh-kesahnya, Elisa pun memberikan solusi. Ketika wanita ini menerapkannya, mukjizat pun terjadi, sehingga ia bisa membayar semua utangnya dengan menjual minyak (2 Raja-Raja 4:3-7).

Janda hamba Elisa berhasil mengatasi masalah finansialnya karena ia datang ke orang yang tepat, menceritakan masalahnya dengan jujur, dan menjalankan nasihat yang diberikan. Bantu diri Anda sendiri dengan datang ke orang yang tepat atau yang lebih berpengalaman, yang Anda tahu mampu membimbing Anda. Dengan begitu, masalah Anda dapat selesai dan dapat bertumbuh ke level yang lebih tinggi lagi.

Pernah beberapa kali kami berikan nasihat keuangan kepada pasangan suami-istri, tetapi ada yang menolak menjalankannya. Alasannya, mereka merasa lebih tua, dengan anak-anak yang sudah besar, dan sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Mana mungkin pasangan yang lebih muda bisa lebih tahu solusi finansial keluarga, pikir mereka. Akibatnya, mereka tak kunjung lepas dari masalah keuangan.

Terbukalah dalam menerima masukan, baik dari orang yang pernah bergumul dalam situasi serupa, atau yang ahli dalam hal keuangan. Sebaik apa pun nasihat yang kita terima, dan siapa pun pemberi nasihatnya, sikap angkuh akan membuat kita terus bergumul dalam kesulitan finansial yang sama. Sebaliknya, kerendahan hati dan pola pikir fleksibel akan membukakan pintu-pintu solusi yang Anda butuhkan. 

Kiat lepas dari stres akibat solusi finansial keluarga sebenarnya sederhana. Lakukan bagian Anda sebaik mungkin dan tetap berserah kepada Tuhan. Serahkan kekuatiran Anda kepada Tuhan. Berapa pun jumlah berkat materi yang Tuhan berikan pasti cukup untuk Anda, bahkan berlebih, jika Anda punya gaya hidup sesuai kemampuan. Jangan lupa, hargailah orang-orang yang mau mendengarkan keluh kesah masalah Anda, rendah hatilah dalam menerima masukan, dan yang terpenting, terapkan saran itu. Selamat mencoba, dan semoga Anda segera menemukan kelegaan!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: