Bisa jadi sosok yang paling Anda kasihi di dunia adalah orang tua, pasangan, anak, saudara, atau sahabat karib. Lalu, siapakah orang yang (secara teori) paling lama bersama-sama dengan Anda?

Jawabannya adalah pasangan hidup Anda.

Orang tua akan meninggal, anak-anak akan menikah, saudara dan sahabat akan menjalani hidup masing-masing. Di sisi lain, pasangan akan menghabiskan hidup bersama Anda, dalam suka dan duka. Sama seperti Anda, dia meninggalkan kenyamanan hidup single untuk menikah dan menua bersama-sama.

Kalau begitu, sudahkah Anda mengasihi dan memperlakukan pasangan dengan baik? Atau, Anda justru memberinya hidup yang ibarat mimpi buruk karena tabiat marah Anda yang meledak-ledak?

Sehidup Semati

marah - gkdi 1

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” – Matius 19:6

Perceraian bukan hanya lazim terjadi dalam masyarakat modern, melainkan juga di kalangan umat Kristen. Satu dari banyak alasan cerai adalah karena tidak tahan menghadapi pasangan yang temperamental.

Namun, sebagian orang tetap mempertahankan pernikahannya meski menderita oleh sikap buruk pasangan. Ada yang beranggapan cerai adalah aib. Ada pula yang ingin menjaga nama baik, demi anak-anak, karena alasan finansial, dan lain sebagainya. Padahal, sebenarnya hati mereka sudah lama bercerai. Slogan sehidup semati akhirnya ditafsirkan dengan makna lain: satu hidup, satu mati, alias mati rasa.

Setelah menikah, suami-istri menjadi satu daging (Markus 10:7-8). Dan, “… tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat (Efesus 5:29).” Jadi, dengan menyakiti hati pasangan, kita sebenarnya sedang menyakiti diri sendiri, bukan?

Tentunya Anda tak ingin “bercerai hati” dengan pasangan gara-gara tabiat pemarah. Untuk itu, mari perdalam apa kata firman Tuhan tentang kebiasaan buruk ini.

Marah itu Merugikan

marah - gkdi 2

Hal pertama yang hilang saat marah adalah sukacita. Marah membuat perasaan jadi buruk, konsentrasi terganggu, dan energi terkuras. Bahkan, jika sudah menjadi kebiasaan, marah dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sering marah-marah dapat memicu sakit kepala, sulit tidur, rasa cemas, tekanan darah tinggi, dan meningkatkan risiko serangan jantung.

Jadi, benarlah yang dikatakan Alkitab, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang (Amsal 17:22).”

Kebiasaan marah membuat orang tak betah berinteraksi dengan kita. Khilaf sedikit saja dapat memicu pertengkaran. Teman pun menjauh, bawahan takut, bahkan atasan enggan menaikkan karier kita. Anak dan pasangan tidak rileks saat berada dekat kita. Mereka takut menyampaikan gagasan atau meminta sesuatu. Komunikasi mereka hanya sebatas realita hidup yang seperlunya, bukan untuk berbagi perasaan, harapan, atau impian dengan Anda.

“Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar banyak pelanggarannya.” – Amsal 29:22

Dengan memelihara kebiasaan marah-marah, Anda bukan hanya kehilangan sukacita, kesehatan, atau peluang karier—melainkan juga orang terdekat, yaitu pasangan. Secara fisik, dia mungkin masih bersama Anda, tetapi sebenarnya Anda telah kehilangan dia, karena hatinya semakin menjauh, bahkan hampa.

“Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri.” – Amsal 22:24-25

Menaklukkan Kebiasaan Marah

marah - gkdi 3

Masa lalu tidak bisa diubah, tetapi kita selalu punya pilihan di masa sekarang. Kita bisa memilih untuk meneruskan atau memutuskan mata rantai tabiat buruk. Kalau kita dibesarkan oleh orang tua yang pemarah, dan tahu bagaimana rasanya ketakutan setiap hari, kita tentu tidak ingin melanjutkan pola negatif itu dalam keluarga sendiri, bukan?

(Harap diperhatikan bahwa tingkat kemarahan yang berlebihan pada artikel ini mengacu pada faktor emosional yang berkembang menjadi kebiasaan buruk—bukan akibat kondisi medis atau efek pengobatan yang tentunya memerlukan penanganan berbeda.)

Sebelum semuanya terlambat, berubahlah mulai hari ini. Saat marah itu datang, ingatlah tiga hal berikut:

1. Marah tidak membuat kita lebih berkuasa

marah - gkdi 4

Ketika sesuatu tak berjalan sesuai harapan, jangan lekas-lekas naik darah. Tenangkan diri sejenak. Tarik napas dalam-dalam. Hitunglah satu sampai sepuluh dalam hati. Terimalah keadaan tak ideal itu sebagai latihan dari Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Jangan bangga kalau bisa meluapkan amarah kepada pasangan. Anda tidak menjadi lebih hebat atau lebih berkuasa darinya. Mungkin saja Anda merasa puas saat itu, tetapi penyesalan akan datang belakangan. Bukannya “menaikkan level” kita, justru sakit hati pasangan akan menumpuk, bahkan dapat menjadi kepahitan di kemudian hari.

“Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.” – Amsal 29:11

2. Kita tidak sempurna

marah - gkdi 5

Baik Anda dan pasangan sama-sama manusia biasa yang punya kekurangan. Jadi, jangan berharap pasangan selalu bersikap benar. Kadang-kadang, dia juga bisa keliru, salah paham, lupa, lalai, atau menunjukkan kekurangan lainnya.

Karena itu, cobalah sedikit bersantai saat pasangan melakukan kesalahan. Sesekali, baik juga untuk menertawakan “kebodohan”, dan tentunya, bukan dengan tujuan mengejek. Tertawa dapat mengubah suasana hati menjadi lebih baik, bahkan berdampak positif bagi tubuh Anda.

Sebagai gantinya, bangunlah kebiasaan-kebiasaan kecil untuk meredakan amarah. Misalnya, Anda masuk kamar dan minta dibiarkan sendirian sebentar. Setelah tenang, baru keluar dan bicara baik-baik dengan pasangan. Atau, salurkan emosi Anda melalui aktivitas, seperti berolahraga, merajut, karaoke di mobil, minum air, makan es krim, berjalan-jalan sebentar, berdoa—apa pun yang dapat menurunkan panas hati dan menjauhkan Anda sejenak dari masalah.

“Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” – Mazmur 37:8

3. Marahlah pada saat perlu saja

marah - gkdi 6

Anda boleh marah pada sesuatu yang melanggar prinsip atau menyangkut dosa, misalnya pasangan berbohong atau berkata kotor.

Namun, cobalah kompromi untuk hal-hal kecil. Misalnya, rumah kurang rapi atau penampilan pasangan kurang menarik. Daripada marah-marah, bantulah pasangan untuk merapikan rumah, atau setidaknya rapikan barang-barang pribadi Anda sendiri. Pergilah berbelanja pakaian atau bahkan potong rambut bersama. Selain lebih menyenangkan, Anda juga mengurangi fokus terhadap keburukan pasangan, serta mendapatkan waktu berkualitas bersamanya.

Pasangan adalah mitra satu tim Anda dalam membangun keluarga dan masa depan. Perlakukanlah dia dengan sebaik-baiknya. Dan, yang terpenting, perlakukan diri Anda sendiri dengan baik, yaitu dengan tidak membiarkan amarah menjajah jiwa Anda. Kalau Anda mengalami kesulitan mengatasi kebiasaan ini, pertimbangkan untuk meminta nasihat maupun bantuan dari pembimbing rohani atau saudara-saudari yang Anda percaya.

Semoga Tuhan memberkati usaha Anda menaklukkan amarah. Amin!

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Apakah Saya Orang Munafik?

Video inspirasi: