Devotionals
Serahkan “Lima Roti dan Dua Ikan” Anda, dan Lihat Hasilnya!
Mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang dengan lima roti dan dua ikan tercatat dalam keempat kitab Injil (Matius 14:13-21, Markus 6:31-44, Lukas 9:12-17, Yohanes 6:1-14). Peristiwa ini begitu penting karena kaya akan pengajaran yang bisa diterapkan hingga di zaman modern ini. Salah satunya adalah pelajaran tentang memberi.
Memberi tidak harus selalu menyangkut materi (uang atau aset), tetapi bisa juga tenaga atau keahlian. Mungkin kita berpikir baru akan memberi jika kita sudah hidup berkecukupan. Namun nyatanya, dalam memberi, kita tidak harus menunggu sampai kita punya “lebih.” Lantas, bagaimana caranya memberi dalam keterbatasan?
Memberi, Tanggung Jawab Murid Yesus
Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.”
Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.”
Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.”
Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.”
Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak.
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.
– Matius 14:15-21
Peristiwa ini bermula ketika Yesus hendak mengasingkan diri ke tempat sunyi setelah mendengar berita kematian Yohanes Pembaptis. Namun, para pengikut-Nya yang kala itu sangat banyak pergi menyusul Yesus. Melihat hal itu, belas kasihan-Nya pun tergerak. Yesus melayani, menyembuhkan, serta mengajar mereka. Dan, ketika para murid meminta Yesus membubarkan orang banyak itu supaya mereka dapat membeli makanan di desa terdekat, jawaban-Nya adalah, “Kamu harus memberi mereka makan.”
Tanggung jawab memberi ada pada setiap murid Yesus. Melalui mukjizat ini, Yesus ingin mengajarkan para murid-Nya bagaimana memberi dari keterbatasan. Contohnya, seorang pemimpin memberikan perhatiannya terhadap kebutuhan orang-orang yang dipimpinnya. Seorang kepala keluarga memberikan kasih sayang dan nafkahnya untuk anggota keluarganya. Memberikan waktu atau telinga untuk mendengarkan teman yang sedang kesusahan pun termasuk usaha kita untuk memberi.
“Lima Roti dan Dua Ikan” Bukan Soal Jumlah
Apa pun yang Anda miliki saat ini—keterampilan, pendidikan, bakat, ide—beranikah Anda menyerahkan semua itu kepada Tuhan supaya dapat digunakan untuk membantu orang lain?
Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana caranya Anda memberi kalau hanya punya sedikit? Perasaan kekurangan dan tak yakin inilah yang dialami para murid ketika mereka berkata, “Yang ada hanya ada lima roti dan dua ikan.” Contohnya, jika Anda seorang calon mentor rohani, mungkin Anda merasa kurang pantas, tidak mampu, atau enggan bertanggung jawab atas kemajuan hidup orang lain.
Lima roti dan dua ikan memang kelihatannya sedikit, tetapi tanpa para murid yang menyerahkannya kepada Yesus, orang-orang tersebut tidak dapat makan. Jika Anda seorang kepala keluarga, yang menjadi “lima roti dan dua ikan” Anda? Bisa jadi itu adalah tangan dan kaki Anda, yang Anda gunakan untuk bekerja mencukupi kebutuhan keluarga. Jika Anda seorang pekerja, “lima roti dan dua ikan” Anda adalah otak dan semangat yang menjadi modal untuk berkarya.
Kalau kita suka memberi, kita tak perlu khawatir bakal kekurangan. Bukankah di akhir kisah tersebut, orang-orang itu makan sampai kenyang dan masih tersisa dua belas bakul makanan? Demikian pula, ketika Anda membagikan ide atau ilmu, misalnya, Anda tidak usah cemas akan kehabisan ide atau ilmu. Justru, dengan berbagi, Anda akan memiliki lebih banyak lagi. Mengapa bisa demikian?
Tuhan yang Akan Menggandakan
Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. – 1 Korintus 3:6-7
Dari lima roti dan dua ikan saja, Tuhan dapat memberi makan lima ribu orang. Bayangkan apa yang dapat Dia lakukan untuk “lima roti dan dua ikan” Anda—bakat, ide, ilmu, tenaga, kerja keras—yang diserahkan kepada-Nya!
Percayakah Anda bahwa Tuhan akan menggandakan “lima roti dan dua ikan” Anda? Apakah Anda hidup dengan iman, atau hanya berdasarkan pada apa yang kelihatan saja? Kalau karier Anda belum juga mencapai kesuksesan, akankah Anda putus asa dan kehilangan iman? Bagaimana jika saudara atau saudari dalam grup yang Anda bimbing tidak bertumbuh secara signifikan? Apakah Anda lantas merasa gagal?
Saudara-saudariku, ketika kita memberi buat Tuhan, Dialah yang akan melipatgandakan semuanya. Yang terpenting adalah, apakah kita sudah mengerjakan bagian kita, yaitu memberi dan bekerja sebaik-baiknya. Jika sudah, multiplikasi itu adalah bagian Tuhan.
Kalau saat ini kita belum melihat buah kerja keras kita, hendaknya kita tidak merasa gagal. Nalar kita tidak mampu menelaah cara Tuhan melipatgandakan lima roti dan dua ikan. Oleh karena itu, hendaknya kita berharap akan hasil kerja Tuhan nanti, setelah kita memberikan yang terbaik.
Ketika Anda memberi dari keterbatasan, Tuhan akan mengambil keterbatasan itu dan menciptakan kecukupan bagi apa atau siapa yang Anda layani, baik itu keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan. Bawalah “lima roti dan dua ikan” Anda kepada Tuhan dan biarkan Dia yang melipatgandakannya. Semoga hidup Anda bisa dipakai untuk kemuliaan Tuhan. Amin!
-
Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official
Artikel terkait: Apa Hadiah Terbaik untuk Ulang Tahun Anda?
Video inspirasi:
ARTIKEL TERKAIT
Hidup Baru, Awal Baru
Segala sesuatu yang baru biasanya menarik, termasuk hidup baru. Yakni ketika kita menyudahi yang lama dan memasuki pengalaman yang benar-benar baru. Berbicara hidup yang baru, ada…
Baca selengkapnyaHari Natal, Saatnya Merenungkan 3 Hal Ini
Ketika saya kecil, dulu, Hari Natal adalah hari yang spesial. Karena selain mendapat banyak hadiah dari sekolah minggu, saya juga disuguhi banyak atraksi seperti drama, nyanyian…
Baca selengkapnya3 Sikap Hati dari Lagu Bapa yang Kekal
Sebab Kau Bapaku, Bapa yang kekal. Saya yakin, banyak dari kita akrab dengan lagu ini, Bapa yang kekal. Isi liriknya membawa kita mendalami Allah Bapa dan apa yang Ia lakukan…
Baca selengkapnya