gkdi lagu

Apakah Anda merasa lelah karena terus-menerus memberi? Anda berjuang membantu orang, menyemangati orang, mengasihi mereka dengan berbagai cara, dan akhirnya energi Anda terkuras habis.

Banyak orang menamai momen semacam ini sebagai burnout, kehabisan energi. Kondisi ini ibarat mobil yang terus dipaksa melaju meski nyaris kehabisan bensin. Akibatnya, mobil itu terancam mogok total.

Jika Anda sering atau sedang mengalami hal ini, berikut langkah-langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengisi kembali energi Anda:

1. Lelah? Isi Kembali Tangki Anda

Mobil yang kehabisan bahan bakar tidak bisa dipaksa untuk tetap meluncur. Tidak ada cara lain selain mengisi tangki bensinnya. Begitu pula dengan diri kita. Saat Anda lelah memberi dan mulai merasa burnout, mungkin tangki energi Anda sedang kosong. Oleh karena itu, Anda perlu kembali mengisinya dengan bahan bakar yang sesuai. Apa bahan bakar yang paling cocok untuk kita?

Bahan bakar tersebut adalah firman Tuhan. 

TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. – Yesaya 58:11 

“Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” – Yesaya 57:15b 

Saat Anda lelah akibat banyaknya tuntutan, begitu banyak orang yang harus Anda kasihi, bantu, dan layani, apakah Anda masih memberikan waktu untuk Tuhan? Masihkah Anda melakukan saat teduh yang berkualitas? Apakah Anda masih punya momen-momen bersama Tuhan, berbicara dengan-Nya dari hati ke hati? Apakah Anda membiarkan Tuhan mengisi kembali kekuatan Anda, memberikan semangat, dan membuat Anda “hidup” kembali?

Memberi adalah hal yang sangat baik. Tuhan sangat suka jika kita mempunyai hati yang mau memberi. Namun, apa yang dapat Anda berikan kepada orang lain jika Anda sendiri pun merasa kosong? Hal ini seumpama ingin menuang air dari wadah yang kosong. Sekeras apa pun usaha Anda, hasilnya tidak akan maksimal, dan Anda malah merasa semakin lelah. 

Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contohan kepada kita dengan mengambil waktu pagi-pagi benar untuk berdoa (Markus 1:35). Mari kita contoh teladan Yesus yang selalu ambil waktu pribadi dengan Bapa di tengah segala kesibukannya. Ambil waktu untuk doa kepada Tuhan pagi-pagi benar.

Bangun kembali hubungan Anda dengan Tuhan. Luangkan waktu pribadi bersama-Nya. Tinggalkan sejenak segala kesibukan dan kecemasan Anda. Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja saat Anda berhenti sejenak.

2. Ambil Waktu untuk Istirahat

Saya punya seorang teman yang semangatnya luar biasa. Ia punya hati yang gemar memberi dan rela bekerja keras untuk kerajaan Tuhan. Bahkan di awal minggu, jadwalnya sudah penuh untuk membantu orang belajar Alkitab, doa bersama, berbincang dengan saudara-saudari dalam jemaat, dan berbagai kegiatan lain. 

Namun, karena jadwalnya begitu padat, teman saya ini sering kali merasa kecapaian. Alhasil ia harus selalu menenggak kopi ketika bekerja. Akhirnya, untuk memulihkan energi dan semangatnya, ia mengambil waktu untuk beristirahat sesekali. Waktu untuk dirinya sendiri, yang tidak terisi dengan keharusan melakukan sesuatu.

Berikan diri Anda apa yang pantas Anda terima. Istirahat tidak selalu dalam bentuk tidur, tetapi bisa juga dalam bentuk me time, seperti nonton, baca buku, mendengarkan lagu, jalan-jalan santai, atau apa pun yang Anda sukai. Kasihilah diri Anda sendiri. Jika kita sulit mengasihi diri sendiri, bagaimana mungkin kita bisa mengasihi orang lain?

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. – Matius 22:39

3. Memberi dengan Belas Kasihan

Mengapa Anda ingin terus memberi? Apakah Anda melihat hal ini sebagai sebuah keharusan? Jika ya, tak heran Anda merasa lelah. Memberi dengan mental to-do-list akan membuat kita kesulitan melakukannya secara berkesinambungan. 

Betul, Tuhan memerintahkan kita untuk memberi, bahkan lebih: kita perlu melayani dan mengutamakan orang lain. Yesus yang adalah Tuhan, sudah memberikan teladannya, yaitu lahir ke dunia dan wafat di kayu salib. Dalam hidupnya sebagai manusia, Yesus mau mencuci kaki murid-murid-Nya. 

Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu. – Yohanes 13:14

… dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri – Filipi 2:3 

Akan tetapi, jika kita memandang perihal memberi sebagai sebuah kewajiban, tinggal tunggu waktu hingga Anda kelelahan, dan mungkin memutuskan untuk pensiun dini dalam memberi. 

Jadi, pola pikir seperti apa yang perlu kita miliki dalam memberi?

Belas Kasihan di Atas Keharusan

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. – Matius 9:35-36 

Lelah memberi adalah hal wajar, tetapi bukan alasan untuk tidak lagi memberi. Yesus pun pernah merasa lelah. Hari-harinya padat dengan mengajar dan menyembuhkan orang dari satu kota ke kota lain. Namun, Dia tidak berhenti memberi ketika lelah. Belas kasihan membuat Yesus tetap bisa memberi dalam segala keadaan.

Apakah Anda memiliki belas kasihan ketika memberi?

Mari baca kelanjutan ayat di atas. Yesus menutup pasal ini dengan sebuah pesan yang menarik:

Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” – Matius 9:37-38 

Inilah sebabnya Tuhan memanggil Anda dan saya. Tugas penginjilan adalah tugas besar, yang butuh keterlibatan banyak orang. Jika kita mau lebih peka dengan keadaan sekitar, kita akan melihat ada begitu banyak “tuaian” di depan kita. Seperti yang Yesus katakan, mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. 

Sebagai orang yang mengenal Tuhan, saat kita lelah, kita tahu mesti berbuat apa. Saat sedang down, sedih, kecewa, atau sakit hati, kita tahu harus ke mana untuk menemukan kembali semangat kita.

Bagaimana dengan orang-orang di luar sana? Mereka mungkin tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Mereka perlu dituntun. Mereka butuh bantuan Anda. Namun, jangan melihatnya sebagai kewajiban atau beban. Jadikan belas kasihan sebagai penuntun dan penyemangat Anda untuk terus memberi. 

Jika rasa ini belum muncul dalam diri Anda, mintalah kepada Tuhan. Biarkan Dia membukakan mata hati Anda, supaya Anda bisa melihat “domba yang hilang” dan “tuaian yang siap dituai” di sekitar Anda. 

Jadi, siapkah Anda menjadi pekerja-Nya?

4. Miliki Komunitas Rohani

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. – 1 Korintus 15:33 

Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. – 1 Tesalonika 5:11

Manusia adalah makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain. Ada masa-masa ketika kita kuat dan mampu memberi. Ada juga masa ketika kita lemah, lelah, dan butuh disemangati oleh orang lain. 

Dengan berada di komunitas yang membangun, Anda bisa menjadi diri sendiri dan menceritakan apa yang menjadi pergumulan Anda. Entah Anda sedang punya masalah, letih, tidak semangat, atau apa pun, ada saudara-saudari seiman yang dapat memahami dan membantu. Komunitas inilah yang akan selalu mendukung dan menjaga Anda untuk tetap setia di dalam Tuhan. 

5. Diberi dan Memberi, Ciptakan Keseimbangan Hidup

Setelah mengisi ulang energi melalui komunikasi dengan Tuhan, beristirahat, serta mengerti bahwa kita perlu memberi dengan belas kasihan, Anda sudah siap untuk memberi lagi. 

Ketika Anda sudah penuh tetapi tidak memberi, Anda akan menjadi seperti orang Farisi, yang tahu banyak tetapi tidak melakukannya. Anda ibarat Laut Mati, yang tak dapat dihuni hewan atau tumbuhan yang kasat mata. Kadar garamnya terlalu tinggi karena menerima air dari banyak sumber tetapi tidak mengalirkannya ke mana pun.

Saat Anda diberi banyak, dipenuhi, dikasihi, disemangati, dan dikuatkan oleh Tuhan, you need to give back to the world you live in. Anda perlu memberi kembali kepada dunia. Dengan melakukannya, Anda telah menciptakan suatu siklus hidup dan keseimbangan yang sehat. Diberi dan memberi. Demikian seterusnya. Terus memberi bukan hanya bagus dan sehat untuk mereka yang diberi, melainkan juga bagi Anda sebagai pemberi.

Seperti kata Albert Einstein, “Hidup itu ibarat bersepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”

Adalah wajar jika Anda pernah merasa lelah memberi. Yang penting, Anda harus segera mengatasinya. Isi kembali tangki Anda dengan kasih Tuhan. Ambil waktu untuk beristirahat atau me time. Benahi pola pikir Anda tentang memberi. Ya, memberi adalah kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan, tetapi alangkah baiknya jika didorong oleh rasa belas kasihan. Milikilah komunitas rohani, di mana Anda bisa berbagi beban. Dan, setelah Anda kembali penuh, Anda akan siap memberi lagi. 

Mari terus jaga semangat kita untuk memberi!

Sumber:
www.goodreads.com/quotes/29213-life-is-like-riding-a-bicycle-to-keep-your-balance
blogs.scientificamerican.com/artful-amoeba/fountains-of-life-found-at-the-bottom-of-the-dead-sea/

Gereja GKDI memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di 35 kota. Jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: