Tantangan hidup bisa membuat kita lebih dekat atau lebih jauh dari Tuhan, tergantung bagaimana menyikapinya. Apakah kita mencari pertolongan kepada yang hal-hal di luar Dia, atau sujud dalam penyerahan penuh di kaki-Nya. 

Selama masa new normal, kita kembali melakukan aktivitas luar rumah seperti biasa, dengan cara yang tidak biasa. Pandemi COVID-19 belum berakhir, sementara tuntutan ekonomi terus berjalan. Mau tak mau, kita memberanikan diri pergi ke luar, meski keadaan belum aman sepenuhnya. Jumlah kasus positif terus meningkat, tetapi banyak orang tidak mematuhi protokol kesehatan. 

Sebagai karyawan yang baik, kita tetap bekerja dan menjalankan kewajiban. Namun, bahaya tertular virus terus menghantui kita sepanjang hari. Bagaimana cara mengatasi ketakutan ini? 

Jangan Berdiam Diri

Siang itu, saat bertugas piket di kantor, seorang rekan kerja membagikan kue kering kepada saya. Dengan senang hati saya menerimanya, lalu duduk mengobrol dengannya. Akan tetapi, suasana hati saya langsung berubah saat seorang rekan yang lain meminta saya waspada. Menurutnya, rekan yang membagikan kue itu minggu lalu demam tinggi dan batuk-batuk. Sewaktu kami mengobrol, ia memang sesekali terbatuk kecil di balik maskernya.

Saya semakin khawatir saat rekan ini pulang duluan karena mengeluh badannya sakit. Waduh, bukankah itu semua adalah gejala coronavirus? Bagaimana kalau ia telah terjangkit? Bagaimana kalau saya tertular gara-gara kue pemberiannya? Bagaimana kalau saya menulari suami dan anak saya? Bagaimana kalau saya harus dirawat dan dirisolasi di rumah sakit? 

Semua ’bagaimana’ itu mengempas saya ke sudut gelap yang membuat saya ketakutan sepanjang hari. Apa yang harus saya lakukan? Kendati saya sudah berusaha membuang jauh-jauh pikiran tentang berbagai kemungkinan menakutkan, rasa cemas masih menyelimuti hati. 

Akhirnya saya putuskan untuk bertindak:

Jujur dengan Perasaan

Saya pun meminta bantuan, yaitu menceritakannya kepada suami lewat chatting, berharap tanggapan darinya bisa menjernihkan kembali pikiran saya. 

“Asal pakai masker, jaga jarak, dan sering cuci tangan, aman, kok.” Demikian jawaban suami yang lumayan mengurangi keresahan saya. Kalau dipikir-pikir, saya memang selalu mengenakan masker saat beraktivitas ke luar rumah, termasuk di kantor. Jarak meja para karyawan juga tidak terlalu berdekatan, dan saya rajin mencuci tangan dengan sabun. 

Ribuan tahun lalu, Yesus pun pernah merasa begitu lemah, tetapi dengan jujur Dia menceritakan perasaan-Nya. Tiga murid yang terkantuk-kantuk di Taman Getsemani pun mendengarkan pengakuan sang Guru.

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.” – Matius 26:38

Saat kita kesulitan mengendalikan perasaan, sharing atau berbagi pikiran dan perasaan bisa menjadi solusi untuk mengatasinya. Tentunya, kita bercerita kepada orang yang diyakini bisa menguatkan, bukan justru menambah ketakutan. 

“Kalau virus bisa menyebar semudah itu, mungkin sudah jutaan orang yang terinfeksi di negeri ini. Jadi, jangan berpikir terlalu jauh,” kata suami lagi. Saya sadar, ketakutan tidak menghasilkan apa-apa, tetapi menjalankan protokol kesehatan akan mengurangi risiko saya terpapar virus. Ini membuat saya bersyukur memiliki suami yang memahami, dan bukannya menertawakan kekhawatiran saya.

Pilih Berpikir Positif

Sepulang dari kantor, saya langsung membersihkan diri, lalu mengambil waktu untuk berdoa sebelum menyentuh putri kecil saya. Saya tidak berani sering-sering memeluk dan menciumnya. Meskipun itu hal yang paling saya rindukan setelah seharian berpisah, kekhawatiran akibat kejadian tadi siang membatasi saya untuk melakukannya.

Padahal, sebagai tindakan pencegahan penularan, jangankan memeluk dan mencium, seharusnya saya tidak boleh menyentuh putri saya sama sekali. Saya mesti segera mengisolasi diri selama 14 hari. Nyatanya, saya tidak melakukan hal tersebut. Saya terombang-ambing di antara dua pemikiran yang bertolak belakang, dan jadi letih dibuatnya.

Akhirnya saya pilih menaklukkan kebimbangan itu dengan mengarahkan pikiran saya kepada Kristus. Karena, kalau dibiarkan, bukan virus tetapi ketakutanlah yang akan membunuh saya. Saya coba melihat dari sudut pandang yang lebih luas dan menimbang fakta. Buktinya, jumlah pasien yang sembuh jauh lebih banyak daripada yang meninggal. Lagi pula, belum tentu saya terjangkit, jadi buat apa mencemaskan hal-hal yang tak perlu?

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. – Filipi 4:8

Lebih Dekat kepada Tuhan

Sore itu, saya berdoa sebelum menyentuh bayi saya. Saya bisikkan kata-kata afirmasi di telinga mungilnya, “Sehat-sehat, ya, nak. Kita pasti baik-baik saja.” Bahkan, setiap kali menghela napas panjang, saya berdoa kiranya itu bersih dari segala penyakit yang membahayakan putri saya. 

Malam harinya, saya menaikkan lagu-lagu pujian untuk mengagungkan kebesaran Tuhan, sekaligus menguatkan hati saya sendiri. Ketika terbangun tengah malam itu (dan malam-malam selanjutnya), saya tunduk dan berdoa khusus bagi keselamatan kami sekeluarga. Saya berserah penuh kepada Sang Juru Selamat, berharap Dia sudi menjawab doa dan permohonan saya. 

Peristiwa itu membuat saya menyadari ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Sekuat dan sehebat apa pun usaha yang kita kerahkan, pada akhirnya perlindungan Tuhanlah yang menyelamatkan. Saya semakin mengerti, bahwa Tuhan telah melindungi saya melebihi apa yang mampu saya pikirkan. Dia menjaga saya dengan sempurna, juga menutupi segala kecerobohan dan kelemahan saya.  

Ketakutan ini membawa saya lebih dekat kepada Tuhan. Mengingatkan saya untuk memegang iman dengan lebih erat. Membuat hati saya melekat pada-Nya, pada kehangatan belas kasih-Nya. Sosok-Nya sebagai Bapa yang baik semakin nyata bagi saya. Meski kadang saya lupa meminta perlindungan-Nya, Dia tetap melindungi saya. 

Entah berapa kali saya “merayu” Tuhan di dalam doa, persis seorang anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh ayahnya. Berulang-ulang saya ucapkan, “Tuhan, tolong. Luputkan saya dari bahaya. Saya mohon, kasihanilah saya. Tutupilah kecerobohan saya dengan perlindungan-Mu. Saya ini lemah, ya Tuhan, dan hanya kepada-Mu saya berserah.”  Namun, semenjak kejadian itu, kata-kata ini lebih mudah mengalir karena saya percaya hanya Tuhanlah yang bisa memelihara hidup saya.

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. – 1 Petrus 5:7

Beberapa minggu selepas peristiwa tersebut, saya bersyukur setiap pagi saya bangun dengan tubuh yang sehat. Saya juga lega mengetahui kondisi rekan saya itu sudah membaik. Jelas, kekhawatiran saya tidak terbukti. Semua rasa takut itu hanya berakhir sebagai perasaan belaka.

Saya bersyukur kita semua memiliki Tuhan, tempat bersandar saat kita berada di titik terlemah. Dengan jujur mengakui perasaan, mengarahkan diri pada pikiran positif, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, kita akan dimampukan untuk mengatasi segala tantangan hidup. Semoga kita semua tetap dekat kepada-Nya, tanpa harus menunggu ketakutan datang melanda. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: