Bagian pertama: [Lead Like Jesus] Singles Leaders Retreat 2017  PART 1

Minggu 30 April

Saya bangun lebih awal 5 menit sebelum alarm saya berbunyi di pukul 5. Saya cuci muka dan langsung naik ke rooftop untuk spendtime bersama Tuhan. Saya mengenakan baju tangan panjang dan jaket, namun angin pagi masih bisa membuat saya menggigil. Pada pukul 6 fajar mulai merekah. Sinarnya yang jatuh di puncak gunung Salak pelan-pelan turun menyinari seluruh daratan. Kabut mulai menipis dan suara burung mulai terdengar. Semua itu saya saksikan sembari saya berdoa dan saat teduh. Saya bersyukur dapat memulai hari dengan baik.

Pemandangan dari rooftop di pagi hari

Pada jam 6:30 saya turun untuk devo bersama grup. Brother Niko membawakan devo yang diambil dari buku Yohanes 10. Kami berdiskusi tentang seorang pemimpin yang berperan sebagai gembala. Saya tertusuk di ayat 2 yang berkata “…ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar.” Apakah kita benar-benar memanggil anak bimbingan kita menurut namanya baru menuntunnya? apakah kita mengerti kebutuhan mereka secara jelas?. Saya merasa bahwa saya sering fokus terhadap pertumbuhan dan target, namun kurang memperhatikan kebutuhan setiap anak bimbingan saya.

APAKAH KITA BENAR-BENAR MEMANGGIL ANAK BIMBINGAN KITA MENURUT NAMANYA BARU MENUNTUNNYA? APAKAH KITA MENGERTI KEBUTUHAN MEREKA SECARA JELAS?

Setelah devo kami naik ke atas untuk sarapan. Kami dihidangkan nasi kuning, telur dan kerupuk. Menurut saya itu kurang variatif namun cukup mengenyangkan. Setelah makan saya mempunyai waktu sekitar 1 jam untuk spendtime, sebelum kembali ke aula untuk latihan musik. Saya spendtime dengan brother Steven dan Erubun di kamar. Kami membahas tentang pasangan hidup dan bagaimana menjadi pemimpin bagi pasangan. Memang saat ini saya masih di ministri kampus, tapi apa salahnya belajar tentang hal ini (toh sebentar lagi saya akan pindah ke ministri single). Setelah spendtime singkat saya naik lagi ke aula untuk latihan musik ibadah Minggu.

Saya bertugas memimpin 5 lagu untuk ibadah Minggu retreat Lead Like Jesus ini. Kami berlatih selama 1 setengah jam sebelum ibadah dimulai. Ibadah Minggu dimulai dengan menyanyikan 3 lagu dan jemaat sangat antusias ketika kami menyanyikan lagu Bersuka. Setelah itu kami melakukan komuni yang dipimpin oleh pasangan pemimpin dari Bandung yang menceritakan kisah pertobatan mereka. Lagu pengiring komuni dibawakan oleh sister Regina, yang baru kali ini mengikuti leaders retreat. Setelah komuni kami mendengarkan khotbah yang dibawakan oleh Pendeta Muksin.

Pelajaran pada kebaktian Minggu dibawakan oleh Pendeta Muksin

Judul khotbah Pendeta Muksin dalam retreat Lead Like Jesus ini adalah “I Am The Good Shepherd”. Seperti bahan devo kami tadi pagi, bro Muksin membahas tentang Yohanes 10. Ia memulai dengan poin “Gembala yang baik akan berkorban demi domba-dombanya”. Setelah menjelaskan mengapa kita terlebih dahulu harus berkorban demi anak bimbingan kita sebelum memberikan ekspektasi, Pendeta Muksin melanjutkan pelajarannya ke poin kedua yaitu “Gembala yang baik akan mengasihi domba-dombanya”. Dalam poin ini saya tersentuh dengan kata-kata Pendeta Muksin: “Jika kita ingin mengasihi mereka, kita tidak boleh menghakimi mereka”. Pendeta Muksin juga mengingatkan bahwa sebelum menjadi gembala yang baik kita harus menjadi domba yang baik. Pelajaran ditutup dengan poin “Gembala yang baik akan menyatukan domba-dombanya”. Ini berbicara tentang pengaruh seorang pemimpin ke orang-orang disekitarnya.

“JIKA KITA INGIN MENGASIHI MEREKA KITA TIDAK BOLEH MENGHAKIMI MEREKA”

Setelah ibadah kami makan siang. Saya yang masih kenyang hanya mengambil lauk ikan dan sup yang disediakan. Karena waktu kebaktian yang terlambat, kami mulai makan jam 13:30. Hal ini membuat slot spendtime 3 dihapus dari jadwal. Setelah makan kami langsung diminta berkumpul bersama grup dan bersiap untuk main games. 

Games yang kami mainkan cukup seru dan membutuhkan partisipasi seluruh anggota grup. Kami diharuskan mengambil foto group selfie dengan perintah yang bervariasi seperti selfie dengan ketua panitia, selfie sambil berdansa, dan selfie didepan pohon. Setelah foto kami diharuskan mengunggah foto tersebut ke Instagram dengan hashtag tertentu dan pantun karangan sendiri sebagai caption-nya. Saya hanya mengikuti games ini selama 45 menit karena saya harus berlatih untuk acara praise & worship nanti malam.

salah satu perintah di games, “Selfie bersama kelompok di depan backdrop LEAD”

Setelah latihan PW saya menuju kamar untuk mandi dan istirahat sejenak. Namun setibanya dikamar, saya menemukan brother Niko dan Ivan sedang spendtime. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk istirahat dan ikut spendtime bersama mereka. Tidak berapa lama, brother Billy masuk kamar. Dia baru saja tiba di retreat ini karena jadwalnya yang cukup padat. Akhirnya kami berempat saling bertukar cerita. Bro Niko menceritakan bagaimana Tuhan membantu pernikahannya. Bro Billy bercerita tentang tantangan dalam kerjaan. Dan bro Ivan bercerita tentang hubungan keluarganya yang berubah semenjak ia hidup menjadi murid. Saya semangat mendengar kisah saudara-saudara saya ini, bagaimana Tuhan membentuk dan mengubahkan hidup mereka.

Waktu menunjukan pukul 6 petang dan kami berempat menuju aula untuk makan malam. Setelah makan saya menyempatkan diri mengajak brother Steven dan sister Elise untuk ke rooftop. Kami berencana untuk doa pagi di rooftop esok hari. Pada jam 19:30 Pelajaran ke 4 dimulai.

Pelajaran ke 4 Lead Like Jesus dibawakan oleh mantan pemimpin kampus, dan mantan pemimbing saya, Pendeta Rico. Walaupun bang Rico sekarang memimpin jemaat Bekasi, kami masih menjalin hubungan yang cukup dekat. Pelajaran yang dibawakan oleh Pendeta Rico berjudul “I Am The Truth and The LightIa membahas tentang hidup seorang pemimpin yang mengikuti jejak Yesus (way), menggali Firman secara dalam (truth), dan menghidupi Firman tersebut (Life). Satu hal yang menginspirasi saya adalah ketika Pendeta Rico mengambil waktu untuk menjelaskan bagaimana ia belajar dan mencoba meniru hal-hal baik yang dimiliki oleh pembimbing-pemimbingnya dan juga anggota-anggota grupnya. Ini menginspirasi saya untuk belajar lebih lagi dari hidup pembimbing dan sahabat-sahabat saya. Pendeta Rico juga memberi waktu istrinya Ria untuk share tentang apa yang mereka lakukan dalam membangun jemaat di Bekasi.

Palajaran oleh Pendeta Rico

Setelah pelajaran kami langsung lanjut ke acara berikutnya yaitu Praise And Worship. Dalam kegiatan ini kami secara selang-seling  menyanyikan 3 buah lagu dan kemudian berdoa dalam kelompok kecil sebanyak 3-4 orang. Praise And Worship berlangsung selama kurang lebih 2 jam. 3 lagu terakhir dipimpin oleh bro Michael, anggota song ministry yang baru diangkat sebagai Worship Leader. Bro Michael memimpin lagu-lagu yang di-aransemen dengan gaya dangdut. Para leaders pun dengan antusias menyanyi dan berjoget bersama. Suasananya sangat meriah! pada pukul 22.30 acara selesai. Saya turun untuk makan bersama beberapa brothers dan kemudian tidur.

Lead Like Jesus
Suasana sewaktu acara praise and worship

 

Senin 30 April

Seperti kemarin, saya bangun jam 5 dan langsung naik ke rooftop dimana saya melakukan saat teduh saya dan berdoa. Kurang lebih jam 5.30 saya didatangi Elise dan bro Steven yang rupanya terlambat bangun. Kami berdoa dan kemudian mengambil waktu untuk menikmati pemandangan pagi yang cerah. Setelah mengambil beberapa foto, kami turun untuk bertemu dengan grup masing-masing.

Lead Like Jesus
Brother Steven sedang mengambil foto pemandangan. (Gunung di belakang adalah gunung Salak)

Saya bertemu dengan grup saya dan kami mengadakan devo yang membahas tentang Yohanes 15, Yesus sebagai pokok anggur. Kami saling bertukar cerita dan pendapat mengenai begaimana seorang leader akan terus diasah dan bertumbuh, sama seperti ranting anggur yang menghasilkan buah akan terus dibersihkan. Setelah devo kami sarapan di aula.

Waktu sarapan saya habiskan dengan spendtime dengan sahabat saya yang sudah duluan masuk ke ministri single, Gery. Kami berbincang tentang apa perbedaan dari ministri kampus dan single. Saya saling menguatkan dan bertukar cerita hingga panitia menyuruh seluruh peserta untuk packing. Saya menuju kamar untuk berkemas dan mengambil waktu sekitar 30 menit untuk berebah. Pada jam 10.00 saya bergegas kembali menuju aula untuk pelajaran terakhir di retreat ini.

Pelajaran dibawakan oleh Pendeta Franky dengan judul “Akulah Pokok Anggur Yang Benar“. Pendeta Franky memulai pelajaran dengan membahas proses mengenal Tuhan yang dimulai dari takut, menuju hormat, dan terakhir cinta. Dari Yohanes 15 beliau mengingatkan kita untuk berjalan di jalan yang Yesus lalui (walk like Jesus walked). Sebagai seorang pemimpin kita harus mencintai Firman Tuhan sebelum kita mencintai sesama kita. Pendeta Franky menutup pelajaran dengan menantang para brother untuk mengasihi sister mereka dengan tulus dan penuh kemurnian.

Setelah pelajaran selesai Andre dan Vincent selaku ketua panitia naik ke panggung untuk menutup acara retreat Lead Like Jesus. Acara ditutup dengan mengumumkan pemenang games dan foto bersama. Saya pulang dengan menumpang mobil TJ. Perjalanan pulang seakan tertutup oleh rasa puas dan semangat karena acara retreat yang saya ikuti. Saya bersyukur karena retreat Lead Like Jesus ini mengajarkan saya banyak hal tentang kepemimpinan. Satu hal yang saya akan lakukan adalah, saya akan mencoba untuk terbuka kepada pemimpin dan grup saya 100% tentang apa dosa dan kelemahan saya. Saya tidak sabar untuk bertumbuh menjadi pemimpin yang lebih baik. To lead like Jesus. (RCW)

Lead Like Jesus
Foto bersama setelah penutupan acara retreat Lead Like Jesus