Komunikasi yang Baik, Kunci Atasi Konflik Suami-Istri

gkdi laguKomunikasi berperan penting dalam membangun atau meruntuhkan sebuah pernikahan. Cara kita berbicara saat menyampaikan perasaan, pikiran, dan pengharapan, juga cara mendengarkan atau merespon pasangan memiliki dampak besar dalam hubungan. Semakin baik kemampuan komunikasi kita, semakin mudah kita mencapai tujuan yang diharapkan dalam hidup berumah tangga.

Ada anekdot mengatakan, di tahun pertama menikah, saat istri bicara, suami mendengarkan. Di tahun kedua, suami yang bicara, istri mendengarkan. Tahun ketiga, suami-istri bicara, tetangga yang dengar. Dengan kata lain, pertengkaran pasangan terdengar sampai ke luar rumah. Bila tidak dilatih, komunikasi suami-istri akan semakin dangkal, singkat, bahkan buruk. Apa pun yang dibahas bisa memancing kemarahan dan menyulut pertengkaran.

Jika pernikahan Anda dilanda konflik semacam ini, mulailah membenahinya dari komunikasi Anda dan pasangan. Berikut empat langkah yang bisa Anda lakukan:

Rendah Hati, Pembuka Pintu Komunikasi

komunikasi - gkdi 1

Dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. – Filipi 2:4

Ketika memutuskan untuk menikah, Anda perlu memastikan apakah calon pasangan Anda sudah siap untuk berbagi. Bukan hanya berbagi waktu dan tanggung jawab, melainkan juga pikiran dan perasaan. Sering kali, hal ini lebih penting daripada berbagi materi. Kerendahan hati, yang tercermin dari sikap menghargai pikiran dan perasaan pasangan, adalah sesuatu yang krusial dan tidak boleh diabaikan.

Bersikap rendah hati berarti Anda tidak hanya ingin didengar, tetapi juga menjadi pendengar yang baik dan merespon dengan cara yang benar. Anda tidak menyepelekan, tetapi menganggap serius ketika pasangan menyampaikan pengharapannya. Mungkin hal itu sepele bagi Anda, tetapi bagi pasangan, itu adalah hal besar dan sangat berpengaruh pada dirinya. Namun, Anda tidak akan paham apa alasannya, sampai Anda merendahkan hati dan tidak terburu-buru menghakimi pasangan.

Tidak peduli Anda yang benar dan pasangan yang salah, Anda harus tetap rendah hati agar bisa membuka pintu komunikasi. Karena, di dalam pernikahan, tidak ada lagi kata ‘aku’ atau ‘kamu’, tetapi ‘kita.’ Meski ‘aku’ benar, tetapi ‘aku’ tidak akan bisa menang tanpa ‘kamu’. Pernikahan adalah bermitra untuk satu tujuan, bukan bersaing untuk tujuan masing-masing.

Hati-hati dengan Perkataan

komunikasi - gkdi 2

Saat sedang berkonflik dengan pasangan, bahaslah bagian itu saja, dan jangan melebih-lebihkan. Misalnya, dengan mengatakan “selalu” atau “tidak pernah”, padahal nyatanya tidak begitu. Meski sedang kesal, kuasai diri Anda untuk tidak berkata kasar, apalagi kotor. Sebaliknya, ucapkan kata-kata yang membangun, sehingga pasangan Anda termotivasi dan percaya bahwa dirinya bisa berubah menjadi lebih baik. Selain itu, penting untuk diperhatikan untuk tidak menuduh. Dengarkan dahulu apa pendapat pasangan, sehingga Anda juga bisa memahami pemikirannya.

“Saya percaya, Sayang pasti bisa lebih sabar.” Kalimat ini tentunya lebih powerful daripada mengatakan, “Sayang memang selalu begitu dari dulu, cerewet.”

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. – Efesus 4:29

Dengarkan dengan Sungguh-Sungguh

komunikasi - gkdi 3

Ada kalanya pasangan kita hanya ingin didengarkan, tidak lebih. Sayangnya, pengabaian atau ketidakseriusan kita dalam mendengarkan biasanya menimbulkan masalah baru. Kemarahan, kekecewaan, bahkan kepahitan karena merasa tidak dianggap akhirnya semakin memperkeruh masalah. Salah paham atau salah menyimpulkan adalah efek dari mendengarkan dengan setengah hati.

Kalau tidak digunakan dengan bijak, ponsel dapat menjadi pembunuh komunikasi  Anda sibuk menyapa teman di dunia maya, tetapi abai terhadap pasangan di dunia nyata. Karena itu, penting bagi Anda untuk mengambil waktu khusus dengan pasangan setiap hari. Selama momen ini, singkirkan ponsel agar Anda tidak tergoda melirik notifikasi yang masuk.

Jangan pula terburu-buru memberi masukan atau nasihat. Sebaiknya klarifikasikan atau simpulkan terlebih dahulu apa yang Anda dengar dari pasangan. Tanyakan apa yang ia harapkan dari Anda. Apakah ia meminta nasihat, atau sekadar ingin membagikan perasaan yang mengganjal? Dengan menjadi pendengar yang baik, Anda akan dapat memberikan respon yang benar. Perkataan Anda akan menjadi sesuatu yang berharga dan tentunya berguna bagi pasangan.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. – Amsal 25:11

Pandanglah sesama sebagaimana Anda memandang diri sendiri. Anda senang kalau didengarkan,  bukan? Lakukanlah hal yang sama kepada pasangan dan juga orang lain.

“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” – Matius 7:12

Minta Bantuan

komunikasi - gkdi 4

Ketika Anda sudah berusaha memulai komunikasi tetapi tetap menemui jalan buntu, mungkin inilah saatnya mengambil jeda. Masing-masing berdiam diri dahulu. Menenangkan pikiran dan menetralisir perasaan. Memaksakan diri untuk bicara saat masih emosi tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru memperparah keadaan. Lebih baik “mendiamkan” masalah selama beberapa waktu dan sepakati kapan akan membahasnya lagi.

Namun, kalau cara ini juga tidak membawa hasil, Anda perlu meminta pertolongan dari pasangan lain yang rohani. Memiliki perantara atau jembatan dalam berkomunikasi bukan berarti Anda gagal. Jadi, tidak perlu merasa malu atau gengsi. Terbukalah, dan beri diri Anda untuk dikonseling. Konseling bukanlah hal yang buruk, atau mengisyaratkan Anda dan pasangan sudah jatuh ke dalam dosa, melainkan sebuah tanda bahwa Anda punya niat baik.

Komunikasi perlu dilatih. Dalam sesi konseling, Anda akan difasilitasi untuk berbicara, mendengarkan, mengklarifikasi, membuat kesepakatan, dan mencari solusi bersama pasangan. Bisa jadi masalahnya tidak seburuk yang Anda kira. Sering kali, setelah masing-masing pihak memberi diri untuk bicara dan mendengarkan, tanpa sadar masalah itu sudah terpecahkan.

Tidak ada pelajaran sekolah yang mengajarkan cara berkomunikasi dalam pernikahan. Setiap orang berangkat dari keluarga asal dan membawa caranya masing-masing. Bersikukuh dengan pola komunikasi semacam ini akan membuat masalah kecil menjadi besar. Namun, dengan menjalani pernikahan di dalam Kristus, selalu ada solusi untuk setiap masalah.

Untuk menjalin komunikasi yang baik dalam pernikahan, belajarlah menjadi pribadi yang rendah hati dan memikirkan kepentingan pasangan. Bicaralah dengan kata-kata yang membangun, dan jadilah pendengar yang baik. Ketika Anda sudah berusaha dan belum berhasil, jangan ragu meminta bantuan. Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, kiranya relasi Anda dan pasangan bisa lebih terbuka dan berjalan dengan baik. Tuhan memberkati.

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok