Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya” – Lukas 29:41

Yesus mencucurkan air mata. Hal ini bukanlah yang pertama kalinya (Yoh 11:35) and dia bukanlah satu-satunya yang dituliskan menangis (Lukas 7:138:42, Roma 9:2-3) Namun mengapa sekarang? Mengapa di ayat ini? Apakah Ia sedang lemah? Tidak bisakah Ia  mengendalikan emosi-Nya? Apakah air matanya disebabkan karena rasa menyesal, takut, atau kengerian? Kata ‘menangis’ ini memiliki makna yang sama dengan ‘meratapi’. Yesus bercucuran air mata. Sesuatu yang serius dan sangat berarti sedang terjadi. Apakah itu? Mari simak tiga hal ini:

1. Yesus melihat hal-hal sebagaimana adanya

Di ayat sebelumnya dikatakan bahwa orang-orang yang bersamaNya sedang bergembira dan memuji Allah (Lukas 19:37), namun Yesus menangis. Bukannya mereka tidak boleh bersukacita, hanya saja mereka tidak bisa melihat gambaran yang lebih besar. Bagaimana kita semua berjuang dengan ini. Apakah kita bersedia menerima kenyataan di mana kita berada dalam iman kita, hubungan kita, pola asuh, pernikahan kita? Atau apakah kita begitu buta untuk tidak melihat dan mengakui di mana kita berada dalam kesalahan, di mana kita lemah, dan di mana kita membutuhkan pertolongan? Apakah kita juga siap untuk menerima dan menyelamatkan mereka yang hilang? Kita tidak perlu putus asa, tapi kita bisa meratapi dengan baik.

2. Yesus menangisi kesempatan yang hilang

Dia melakukan semua yang Dia bisa untuk berbicara tentang kebenaran dan bertindak dalam cinta sehingga bisa meyakinkan orang-orang bahwa kerajaan itu akan datang / telah datang. Namun, sebagian besar orang yang mendengarnya, melihat mukjizatnya dan merasa bahwa cintanya tidak merespons. Yerusalem (kota damai) akan menjadi zona perang dalam beberapa tahun. Sungguh ironis, tapi sangat menyedihkan, bahwa kota damai tidak tahu bagaimana menikmati kedamaian. Apakah Tuhan memberi kesempatan sebelum Anda menanggapi cintanya? Ambillah selama Anda bisa. Anda tidak tahu berapa lama Anda akan memilikinya.

3. Yesus menangis untuk orang lain, bukan diriNya sendiri

Perasaan yang Yesus rasakan ini sungguh menginspirasi dan nyatanya, menunjukan keilahiannya. Dia tidak menangis karena dia harus menderita dan mati di kota yang terbentang di hadapannya itu. Hal itu bisa saja terjadi, namun fokusnya bukanlah, dan tidak pernah, kepada diriNya sendiri. Dia tahu Tuhan punya rencana dan, meski akan sulit, ini adalah rencana yang bagus – untuk orang-orang di kota itu. Betapa tragisnya, kemudian, bahwa orang-orang yang ingin dibantu dan dapat Dia bantu, adalah orang-orang yang menolak bantuan semacam itu. Tidak heran Dia menangis!

namun fokusnya bukanlah, dan tidak pernah, kepada diriNya sendiri.

Mengapa Yesus menangis? Karena Dia melihat hal-hal sebagaimana adanya, karena Dia rindu untuk mengumpulkan orang-orang ke tempat yang damai dengan Tuhan, dan karena Dia tahu betapa banyak Dia bisa membantu mereka.

Dia tidak menangis setiap hari, dan seharusnya hal itu bukan tujuan kita, tapi sedikit tangisan bisa membantu kita mendapatkan hati seperti hati Mesias.

 

Tuhan memberkati

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: 3 Hal yang dapat Kita Belajar dari Pekerjaan Tuhan Yesus