3 Respon yang Benar terhadap Keselamatan

Gereja gkdi lagu

Dahulu, cara pandang saya tentang keselamatan begitu sederhana.

Ketika kecil, saya sering menyaksikan drama Paskah di sekolah minggu, yang menyampaikan bahwa kematian Yesus memberi keselamatan. Dari situ, saya paham bahwa kematian Yesus memberi keselamatan bagi mereka yang percaya. Dan menarik kesimpulan, bahwa ketika saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat, saya sudah selamat.

Namun ada masa juga ketika saya beranjak dewasa, saya kerap berpikir, “Kalau begitu, mudah sekali menjadi seorang Kristen. Yesus mati dengan penderitaan yang begitu hebat, sementara saya tak melakukan apa-apa dan cukup hanya percaya saja. Apakah benar demikian?”

Bagaimanakah seharusnya respon yang benar terhadap keselamatan yang kita terima?

3 Cara Merespon Keselamatan dengan Benar

1. Bersyukur melalui Tindakan

keselamatan-gereja-gkdi 1

Jika ditanya tentang keselamatan, banyak orang Kristen hari ini akan menjawab: saya bersyukur. Akan tetapi, tentu rasa syukur saja tidak cukup. Ia harus berlanjut menjadi tindakan, action.

Apakah Anda pernah membaca tentang kisah kesepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus? Jika Anda lupa, atau ingin tahu secara detail, Anda bisa membaca di dalam Lukas 17:11-19. 

Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa suatu ketika, Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta di tengah perjalanan-Nya. Disinilah yang menarik, bahwa dari sepuluh orang tersebut, hanya ada satu yang kembali untuk berterima kasih kepada Yesus. 

Apakah kesembilan orang kusta yang disembuhkan Yesus tidak bersyukur? Saya percaya, mereka semua tentu bersyukur. Namun, sayangnya, kesembilan orang kusta itu sesaat lupa Siapa yang telah menyembuhkannya, sehingga tidak kembali kepada Yesus dan menyampaikan rasa terima kasihnya.

Bisa jadi kesembilan orang tersebut terlalu larut dalam kegembiraannya. Mereka mungkin segera sibuk membuat rencana-rencana yang mereka ingin lakukan, seperti  kembali ke keluarga dan  lingkungannya.

Sedangkan satu orang kusta ini, begitu mendapati dirinya telah sembuh (Lukas 17:15-16), berlari mendapatkan Yesus dan memuliakan Allah dengan suara nyaring. Satu orang kusta yang adalah orang Samaria ini, tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.

Adakah Kita Bersyukur?

keselamatan-gereja-gkdi 2

Seperti mereka, kita adalah orang-orang yang sakit secara rohani. Ketika kita mengaku dosa, bertobat, dan dibaptis, kita pun menerima kesembuhan. Namun, bagaimana cara kita merespon kesembuhan tersebut? Adakah kita mengingat Yesus dan memuliakan nama-Nya seperti satu orang kusta itu?

Rasa syukur itulah yang seharusnya memotivasi kita untuk memuliakan Tuhan. Namun, bagaimana caranya kita bersyukur atas kesembuhan yang Tuhan sudah berikan? Berikut adalah hal-hal yang dapat kita lakukan:

  • berdoa mengucap syukur atas pengampunan dan kesembuhan kita
  • menjadi teladan dalam perbuatan dan perkataan kita (1 Timotius 4:12). Dengan demikian, orang lain bisa melihat Tuhan dalam hidup kita, karena kita berbeda.
  • tidak lagi hidup di dalam dosa, melainkan hidup dalam kebenaran (Roma 6:13). Atau, dengan kata lain, menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru (Efesus 4:24).

Meninggalkan dosa dan hidup benar memang tidak mudah. Namun, rasa syukur karena keselamatan yang Tuhan anugerahkan akan memberi Anda kekuatan untuk meninggalkan manusia lama.

Misalnya, yang dulunya suka mencuri, menjadi seorang yang suka memberi (Efesus 4:28). Yang dulunya biasa mengucapkan kata-kata kotor, menjadi seorang yang suka menyemangati orang lain (Efesus 4:29). Kita yang dahulunya gampang terpancing emosi menjadi penyabar, pengampun, dan tidak menaruh dendam (Efesus 4:32)

 2. Tidak Menyia-nyiakan Anugerah Keselamatan dari Allah

keselamatan-gereja-gkdi 3

Keselamatan adalah anugerah (grace) terbesar Allah kepada manusia. Siapa yang tidak bahagia, jika semua dosa dan pelanggarannya diampuni? Akan tetapi, jika kita tidak hati-hati, cara kita memandang keselamatan bisa berubah. Keselamatan yang adalah hadiah yang mahal, bisa menjadi sesuatu yang biasa saja. Bahkan, tidak berharga lagi. 

Saudara-saudara memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan di dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Galatia 5:13  

Tanpa sadar, sebagai orang Kristen kita bisa menyepelekan keselamatan yang Tuhan berikan. Bagaimana caranya? Dengan terus bermain-main dengan dosa dan berpikir, “Toh Tuhan maha pengampun. Tuhan telah menebus dosa saya. Jika saya berdosa, saya hanya perlu minta ampun kembali kepada Tuhan. Tuhan akan ampuni dan sucikan lagi. Selesai.”

Karena Tuhan Yesus sudah menebus dosa-dosa kita, kita bisa mengulangi dosa tersebut, nanti pasti diampuni. Benar begitu?

Tentu tidak. Seorang novelis terkenal dari Brazil,  Paulo Coelho, mengatakan demikian :

Sebuah kesalahan yang dilakukan lebih dari sekali adalah sebuah keputusan. 

Mengulang sebuah kesalahan lagi dan lagi akan menjadi keputusan, sebuah keyakinan.

Tentu bukan itu rencana Allah. Jika demikian cara pikir kita, ada yang keliru dengan sikap hati kita.

Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Galatia 6:7   

Kemerdekaan kita dari dosa hendaknya tidak menjadi kesempatan untuk main-main dengan dosa. Memang, Tuhan maha pengasih, pengampun, dan penuh kasih karunia, tetapi ingat bahwa kelak kita akan menabur apa yang kita tuai. Marilah kita gunakan keselamatan untuk hidup lebih baik, untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk keuntungan kita sendiri.

3. Mengerjakan Keselamatan dengan Giat

keselamatan-gereja-gkdi 4

Jadi, bagaimana seharusnya kita menggunakan keselamatan tersebut? Mari kita lihat Paulus. Setelah memperoleh keselamatan, Paulus tidak berdiam diri. Dalam 1 Korintus 15:10, demikian perkataannya,

“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

Demikianlah kita seharusnya dalam memandang keselamatan. Bukan kesempatan untuk berdiam diri, apalagi bermalas-malasan. Justru waktu dan kesempatan yang ada, kita pakai untuk lebih giat lagi memberi dan memuliakan Allah selagi kita masih hidup. 

“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” Filipi 2:12-13

Rasa syukur yang berpadu dengan keinginan kita memuliakan Allah akan mendorong kita dalam mengerjakan keselamatan itu. Apalagi dengan Allah yang bekerja di dalam kita, tentulah kita yakin semua usaha kita kelak akan berbuah manis.

Bagaimana melakukannya? Kita dapat membaca firman Tuhan dengan lebih dalam, hidup kudus, dan juga memperkenalkan Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. 

Begitu besar anugerah dan kasih karunia Allah bagi kita. Begitu agung keselamatan yang ia berikan. Pertanyaannya hari ini, bagaimana kita merespon keselamatan tersebut? Sudahkah kita melakukan sesuatu sebagai respon dan ucapan syukur? 

Inilah saatnya bagi kita untuk terus teguh mengerjakan keselamatan. Ayo terus berusaha, terus memberi buah, terus berjuang hingga Tuhan memanggil kita kembali. Semangat!

 

Referensi:
www.goodreads.com/quotes/1460902-and-a-mistake-repeated-more-than-once-is-a-decision

– 

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok:https://link.gkdi.org/tiktok