Saya senang melihat iklan produk yang menampilkan keluarga harmonis. Suasana rumah mereka bersih dan rapi, istri cantik terawat, suami rapi dan mapan, anak-anak sehat dan ceria. Mereka tampak bahagia dan menikmati hidup dengan keberadaan produk yang diiklankan.

Sayang, hidup tak selalu seindah iklan. Banyak keluarga yang kondisinya bertolak belakang dengan romantisme rekaan tersebut. Istri frustrasi, suami depresi, anak-anak patah hati. Mereka tinggal dalam rumah yang sama, tidur di kamar yang sama, tetapi hati tak lagi saling menyapa. Sibuk dengan pemikiran dan kehidupan masing-masing.

Jadi, apakah keluarga bahagia cuma ada di iklan-iklan?

Ketika Pernikahan Tak Seindah Pacaran

keluarga harmonis - gkdi 1

Siapa yang menikah karena ingin sengsara? Saya yakin semua orang menginginkan kebahagiaan dalam pernikahan.

Awalnya, semua terasa indah. Namun, bertahun-tahun kemudian, terungkaplah: pasangan kita tidak seideal waktu masih pacaran. Mulai terlihat teledornya suami kita, betapa cerewetnya istri kita. Konflik terjadi; perbedaan pendapat meledak jadi pertikaian panjang. Keromantisan itu menguap tak bersisa, meninggalkan ketegangan dan kejenuhan. Kita menyesali keputusan menikah dengannya.

Banyak yang akhirnya menyerah dalam perjuangan melewati krisis ini. Mereka bercerai, dengan alasan tidak cocok lagi, lalu mengubur mimpinya. Keluarga harmonis tidak kutemukan bersama orang ini, pikir mereka. Mungkin kebahagiaan itu ada pada orang lain. Mereka lalu menikah lagi, tetapi seringkali menemui kekecewaan yang sama, bahkan lebih parah.

Bermimpi punya keluarga harmonis itu tidak salah. Namun, keluarga harmonis tidak dibentuk di dalam mimpi. Kita harus bangun dari tidur dan berjuang di alam nyata. Butuh upaya dan kesungguhan besar, bahkan tidak jarang, air mata. Karena bicara pernikahan berarti bicara penyangkalan diri, pengikisan ego, pengampunan dan penerimaan terhadap satu sama lain.

Perbedaan yang Menjadi Kekuatan

keluarga harmonis - gkdi 2

Tidak perlu berguru dan bersemedi untuk mendapatkan resep keluarga harmonis. Tuhan sudah memberikan tips yang manjur: Sepanjang suami-istri mau menaati firman-Nya, impian keluarga harmonis itu bisa mereka wujudkan. Syaratnya, mereka harus memandang serius tugas dan peran masing-masing, tanpa saling menunggu atau menuntut pasangan (Efesus 5:22-27).

Laki-laki dan perempuan diciptakan berbeda, dan banyak pasangan bercerai dengan alasan tidak ada kecocokan. Namun, murid-murid Yesus harus menggunakan perbedaan itu untuk saling mencocokkan.

Misalnya, Anda pelupa dan pasangan Anda perfeksionis. Kutub-kutub berlawanan ini berpotensi memicu konflik, tetapi juga menguatkan hubungan karena saling melengkapi. Tergantung bagaimana suami-istri memaknai dan mengelola perbedaan. Jika hanya berfokus pada kekurangan, kehancuran akan terjadi. Namun, dengan mengoptimalkan sisi baik perbedaan, maka kita dapat memandang positif setiap masalah yang kita hadapi.

Tips Mewujudkan Keluarga Harmonis

Berikut empat tips yang bisa Anda terapkan:

1. Yakini, Pasangan Saya Adalah Pemberian Terbaik Tuhan

keluarga harmonis - gkdi 3

Ketika masalah rumah tangga Anda kian meruncing, biasanya muncul pertanyaan: Apakah dia pasangan terbaik saya?

Sebenarnya pertanyaan ini hanya memberatkan pikiran dan melemahkan hati kita. Dengan memelihara keraguan, kita justru memberi celah kepada iblis.

Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki. –Kejadian 2:23

Terlepas dari kekurangan Hawa, Adam begitu bangga padanya. Mari belajar seperti Adam, yang menyayangi dan mengindahkan pasangannya karena percaya dialah pemberian terbaik Tuhan.

2. Saling Mendahului dalam Mengasihi

keluarga harmonis - gkdi 4

Jangan hanya di jalan raya saja kita ingin saling mendahului pengemudi lain. Tuhan ingin kita saling mendahului dalam memberi hormat dan mengasihi dalam hubungan suami-istri.

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” – Roma 12:10

Istri jangan tunggu dikasihi baru menghormati suaminya. Sebaliknya, suami jangan menunggu dihormati baru mau mengasihi istrinya. Jika suami istri saling menunggu ‘pamrih’, tidak akan ada kemajuan berarti dalam hubungan.

3. Bandingkan untuk Mensyukuri, Bukan Menjatuhkan

keluarga harmonis - gkdi 5

Tidak ada orang yang suka dibanding-bandingkan. Lantas, kenapa kita suka membandingkan diri dan pasangan dengan orang lain? Ini karena membandingkan adalah sifat dasar manusia. Tanpa ini, kita tidak bisa membedakan yang baik dan buruk.

“Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” – Kolose 3:14-15

Kalaupun kita “terpaksa” membandingkan pasangan, fokuslah pada sisi baiknya. Contoh, meski suami kita tidak sekaya suami teman, syukuri sifatnya yang jujur, rajin bekerja, dan bukan penuntut. Bisa jadi, apa yang kita remehkan atau anggap biasa justru diidamkan orang lain. Di luar sana, banyak suami yang selain tidak memberi kontribusi pada rumah tangga, juga tega menganiaya istrinya.

Syukuri kelebihan pasangan kita. Jadikan kasih Kristus sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

4. Keluarga Harmonis Diperjuangkan, Bukan Turun dari Langit

keluarga harmonis - gkdi 6

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” – Kolose 3:12-13

Katakanlah, kita sudah berdoa dan berusaha. Tapi, kenapa Tuhan tidak mengubah suami / istri kita dalam semalam atau menjadikan mereka sempurna dalam sekejap?

Tuhan mengizinkan ketidaksempurnaan tetap melekat agar kita belajar dan bergantung kepada Tuhan (2 Kor 12:8). Ketika pernikahan Anda dilanda masalah, alih-alih langsung bubar-jalan, ambillah waktu untuk berdoa dan menenangkan diri. Datanglah kepada pembimbing rohani Anda dan terbukalah dalam menerima nasihat. Berserahlah kepada Tuhan dan lakukan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.

Anak-anak bisa merasakan keharmonisan atau ketegangan di antara orang tuanya. Ketika hubungan suami dan istri membaik, otomatis cara parenting kita juga lebih baik, dan demikian sebaliknya. Dengan demikian, setiap orang bisa tersenyum dalam bingkai keluarga harmonis. Mari berjuang mewujudkannya!

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official: WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Perceraian : Renungkan 8 Pertanyaan Berikut Ini Sebelum Memutuskan!

Video inspirasi: