Kasih Sayang Orang Tua: Mengutamakan Hati, Bukan Penampilan

Sebagian orang tumbuh tanpa sosok orang tua. Sebagian lagi tumbuh dengan sosok ayah-ibu atau salah satunya, tetapi kurang merasakan kasih sayang orang tua. Jangan salah paham; kebanyakan orang tua sebenarnya sudah berusaha menjalankan peran mereka. Mengurus rumah tangga, mencari nafkah, membahagiakan keluarga, meluangkan waktu. Namun, pengorbanan-pengorbanan tersebut kerap dilakukan karena mengutamakan penampilan—bukan hati.

Mungkin kita tidak bermaksud demikian. Itu hanyalah kebiasaan yang dilakukan tanpa sadar. Lalu, bagaimana caranya agar Anda menjadi orang tua yang mengutamakan hati, bukan penampilan?

Berikut beberapa cara yang dapat Anda terapkan.

1. Jadilah orang tua yang berani mencoba hal baru

kasih sayang orang tua - gkdi 1

Sebelum menjadi orang tua, Anda tentu sempat merasakan bagaimana Anda diperlakukan sebagai anak. Nah, Anda bisa mulai menunjukkan kasih sayang orang tua dengan mengambil tindakan: tidak melakukan apa yang tidak Anda sukai dari orang tua Anda. Atau justru, melakukan apa yang orang tua Anda tidak lakukan.

Kalau orang tua Anda suka memukul, kenapa itu harus diteruskan? Kalau orang tua Anda tidak pernah memeluk dan Anda mengalami kepahitan karenanya, kenapa tidak mulai mencoba memeluk dan lebih banyak mencium anak Anda?

“Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi seorang.” (1Tesalonika 2:11)

2. Jangan bertanya, “Apa yang dilakukan anak saya?” tapi tanyakanlah, “Mengapa anak saya melakukan ini?

kasih sayang orang tua - gkdi 2

Mencoba berpikir kenapa anak melakukan sesuatu berarti menempatkan diri kita dalam posisi mereka. Tidak lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi sejajar. Mencoba bertanya kenapa ia melakukan sesuatu akan memberi ruang agar anak tahu kita berada di pihaknya apa pun yang terjadi. Kita akan tetap mencintainya sekalipun dia melakukan kesalahan. Kasih sayang orang tua kepadanya takkan berkurang hanya karena ia tidak sempurna melakukan sesuatu.

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” (Kolose 3:12-14)

3. Lindungi anak dari perasaan malu

kasih sayang orang tua - gkdi 3

Siapa di antara kita yang tidak ingat dengan jelas saat kita dipermalukan? Memaki anak di depan teman-temannya, misalnya, akan menghancurkan harga dirinya. Perasaan malu bisa membuat anak terpuruk dan kehilangan kepercayaan diri. Lebih jauh lagi, anak akan merasa tidak ada yang mencintainya apa adanya.

Hanya karena masih anak-anak, bukan berarti mereka tidak merasakan kompleksitas perasaan yang sama dengan orang dewasa. Kalau Anda sendiri tak mau dipermalukan, jangan perlakukan anak dengan cara demikian.

Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14)

4. Kasih sayang orang tua: kasar tidak sama dengan tegas

kasih sayang orang tua - gkdi 4

Sejumlah penelitan membuktikan ucapan kasar terhadap anak berpengaruh buruk bagi perkembangan sel-sel otak mereka. Dalam jangka panjang, ini berpotensi menurunkan kecerdasan. Anak-anak yang diperlakukan kasar cenderung tumbuh menjadi sosok minder, temperamental, egois, dan apatis. Mereka juga berisiko lebih tinggi mengalami stress dan depresi.

Marah adalah hal manusiawi. Anak-anak tidak selalu manis dan patuh. Namun, banyak cara untuk berkata-kata meskipun Anda sedang marah. Pilihlah kalimat baik yang membuat anak tidak merasa dipojokkan. Ucapan kasar bisa membuat hubungan Anda merenggang. Selain itu, anak akan meniru hal yang diterimanya. Tentunya Anda tidak ingin ia menganggap sikap kasar sebagai hal wajar, bukan?

“Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” (Kolose 3:21)

5. Perlakukan anak dengan hormat

kasih sayang orang tua - gkdi 5

Mungkin kita menganggap kasih sayang orang tua cukup diwujudkan dengan memenuhi kebutuhan anak dan memberi mereka pendidikan layak. Kita lupa mereka juga butuh dukungan emosional. Terlalu sering kita memandang anak dengan sebelah mata. Mendengarkan anak sambil menonton bola. Mengucapkan kalimat ala kadarnya ketika anak menunjukkan hasil karya mereka.

Kebiasaan menganggap anak sebagai pengganggu atau pembuat ketidaknyamanan akan membekas di kepala mereka hingga dewasa. Ini dapat menurunkan tingkat kepercayaan anak kepada Anda. Bukan tidak mungkin, didikan Anda pun bakal dianggap sebelah mata oleh mereka.

“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu,  tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4)

6. Hindari harapan yang tidak realistis

kasih sayang orang tua - gkdi 6

Terkadang kita mengharapkan anak kita mengerjakan segala sesuatu dengan sempurna persis orang dewasa. Ketika anak menumpahkan minuman, kita memaki dengan kalimat “bodoh, tolol”. Ketika anak mencoba mengambilkan sepatu untuk Anda, lalu Anda berkata, “Ah, kamu belum bisa, kamu masih kecil!”

Familiar dengan kalimat-kalimat di atas?

Sama seperti Anda dulu memerlukan ruang dan waktu untuk belajar banyak hal secara bertahap, anak Anda pun membutuhkan hal serupa. Hindari meletakkan ekspektasi ideal Anda kepada anak hanya karena itu tampak bagus dilihat orang.

Yuk, belajar melihat ke dalam hati anak-anak kita, maka kelak ketika mereka dewasa, mereka akan melihat kita dengan hati juga.
Diadaptasi dan dikembangkan dari Dad in the Mirror oleh Patrick Morley dan David Delk

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Seminar Orang Tua : Bagaimana Membesarkan Anak yang Kompeten & Percaya Diri

Video inspirasi: