Di negara hukum, jika seseorang dianggap melakukan perbuatan melanggar hukum yang sudah ditetapkan, ia akan ditangkap dan diadili. Dalam persidangan, si tertuduh berhak menyampaikan pembelaannya sebelum vonis dijatuhkan. Jika terbukti bersalah, misalnya mencuri, menghilangkan nyawa orang, atau melakukan tindakan asusila, hukuman akan menantinya.

Setelah itu, sering kali yang bersangkutan kelak menyandang julukan sesuai kejahatan yang ia lakukan. Contohnya, koruptor, maling, pembunuh, dan lain-lain. Bukan tak mungkin, julukan ini melekat seumur hidupnya.

Sadar atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari kita pun sering menghakimi orang lain. Bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini?

Jangan Menghakimi Secara Sepihak

menghakimi - gkdi 1

“Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.” – Yohanes 7:24

“Ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.” – Yesaya 11:3

Relasi sosial manusia umumnya diwarnai oleh dinamika. Ada kalanya kita terperangkap dalam sebuah hubungan yang rumit, entah dengan anggota keluarga, teman, kolega, atau saudara seiman. Situasi ini dapat memberi kita pandangan yang subjektif atau bias terhadap seseorang.

Katakanlah, kita mendengar ujaran negatif tentang seseorang. Atau, kita pernah melihat orang tersebut melakukan hal tercela. Terlepas dari pandangan subjektif kita (umpamanya, sejak dulu kita memang kurang menyukai perilakunya), janganlah kita langsung “memvonis” orang tersebut dengan julukan tertentu. Alkitab mengatakan kita tidak boleh menghakimi orang lain menurut apa yang tampak dari luar, sekilas pandang, atau berdasarkan kata orang.

Dengan menuduh seseorang tanpa mengetahui jelas duduk perkaranya berarti kita sudah menghakiminya secara sepihak. Sama halnya dengan diam-diam melabeli seseorang dalam hati atau sengaja menggiring pendapat orang lain agar setuju dengan tuduhan kita.

Sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Alangkah baiknya kita cari tahu lebih dahulu apa yang mendorong orang tersebut berbuat demikian. Mungkin masa lalu membentuknya menjadi pribadi yang demikian. Atau, orang itu sedang bergumul dengan masalah yang berat. Bisa jadi, ia sedang membutuhkan pertolongan.

Penghakiman Bukan Hak Kita

menghakimi - gkdi 2

Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. – Yakobus 4:11

Lebih mudah menghakimi orang lain daripada menjadi orang yang dihakimi. Lebih cepat bagi kita untuk menilai keburukan seseorang ketimbang kebaikannya. Dengan ringannya kita menunjuk kesalahan orang lain, tetapi tidak kesalahan sendiri.

Coba kita balikkan situasinya: Bagaimana perasaan Anda ketika Anda dihakimi—dicap pemalas, penipu, pencuri, sok tahu, tukang bohong, mulut ember, bebal, murahan, pecandu, tidak bisa mengurus suami / anak, bukan Kristen sejati—hanya karena sebuah peristiwa, yang barangkali tidak seperti yang kelihatannya?

Ingatlah bahwa kita adalah subjek hukum Tuhan, yaitu firman. Kita semua adalah pelaku firman, dan Tuhan tidak mengangkat atau menetapkan Anda sebagai hakim atas hukum-Nya.

Jika Anda ragu mengenai suatu perkara, janganlah terlalu cepat menjatuhkan vonis terhadap seseorang. Sebaliknya, serahkan perkara itu kepada Allah. Biarkan Tuhan sendiri yang menyatakan kebenaran-Nya kepada Anda, supaya Anda tidak berdosa karena main hakim sendiri, yaitu dengan menutup pikiran Anda terhadap seseorang.

Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku. – Yeremia 11:20

Hanya Tuhan Hakim yang Adil

menghakimi - gkdi 3

Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia? – Yakobus 4:12

Mengapa Anda menghakimi orang lain? Apakah untuk membuktikan bahwa Anda lebih sempurna dan lebih baik daripada mereka? Padahal, sebagai manusia, Anda pun tidak luput dari kesalahan yang sama. Dan, saat ini terjadi, yang Anda butuhkan tentunya bukanlah penghakiman.

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. – Roma 2:1

Jangan menghakimi agar Anda tidak dihakimi. Ketika Anda menghakimi orang lain, Anda telah menjadi hakim atas diri sendiri dan sesama. Menghakimi orang lain tidak akan membuat Anda lebih baik daripada mereka, karena kita semua adalah pelaku firman, bukan hakimnya.

Setiap kali Anda tergoda untuk menghakimi seseorang, ingatlah bahwa hanya Tuhanlah hakim yang adil. Alih-alih menghakimi, cobalah untuk menolong orang tersebut. Tunjukkan kesalahannya dengan lemah lembut dan konfirmasi hal tersebut. Jika ia mengakuinya, yang bisa Anda lakukan adalah mendoakan dan membantunya untuk berubah. Serahkan penghakiman kepada Tuhan sebab hanya Dialah hakim yang adil!

Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah. – 1 Korintus 4:5

*Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:
WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Tiga Metode Untuk Menggali Firman

Video inspirasi: