Jadi “Kaya” Tanpa Bersikap Pelit

gkdi lagu

Umumnya orang berpendapat bahwa pelit adalah karakter yang negatif, dan pribadi yang pelit biasanya tidak disukai. Orang yang pelit tidak suka berbagi kepunyaan dengan orang lain. Bahkan, seseorang bisa bersikap pelit terhadap dirinya sendiri, misalnya merasa sayang menggunakan uang untuk diri sendiri.

Sebagai orang Kristen, kita perlu memahami bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk tidak kikir, tetapi justru memberi dengan hati yang rela. Ajaran ini tercermin melalui teladan hidup-Nya sendiri.

Melalui tiga poin berikut, saya mengajak Anda untuk merenungkan “Apakah saya orang yang pelit?” serta memahami pola pikir tentang memberi yang Tuhan kehendaki dari kita.

Pelit Tidak Membuat Anda Berkecukupan

pelit - gkdi 1

Sewaktu saya masih bangga menjadi orang pelit, saya cenderung tidak peduli jika ada yang membutuhkan bantuan. Lebih baik saya berbohong daripada harus mengeluarkan uang. Alasan saya adalah, “Saya sendiri berkekurangan, jadi mengapa saya harus memberi kepada sesama?” Saya menyamakan kikir dengan hemat, dan bahwa dengan melakukannya, saya akan kaya. Nyatanya? Tidak juga.

Kitab Amsal mengajarkan:

Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. – Amsal 11:24

Memang, memberi berarti mengorbankan sesuatu, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk tidak khawatir akan hari esok. Bersikap pelit tidak menjamin keamanan finansial seseorang, karena Tuhanlah yang berkuasa atas jalan hidup manusia.

Menjadi kaya di sini tidak melulu mengenai harta atau materi. Tuhan bisa memelihara hidup kita lewat berbagai cara. Ketika saya memberikan sesuatu—uang, tenaga, waktu, perhatian—hati saya diliputi sukacita. Sebaliknya, ketika saya butuh pertolongan, ada saja saudara-saudari seiman yang mau membantu saya. Saya belajar bahwa ketika saya memberi, saya justru merasakan kelegaan karena dapat membantu orang lain.

Selain itu, pengertian kaya juga mencakup hikmat yang kita dapatkan seiring usaha kita mengatur keuangan secara bijak. Dengan hikmat ini, saya tidak pernah lagi merasa kekurangan, dan label pelit yang melekat pada diri saya pun perlahan-lahan memudar.

Berilah seperti untuk Tuhan

pelit - gkdi 2

Dulu, saya membagi orang-orang ke dalam dua kategori, yaitu yang layak diberi dan yang tidak layak diberi. Saya menganggap sahabat saya layak mendapat kemurahan hati saya, tetapi tidak demikian bagi orang-orang yang tidak saya anggap dekat. 

Pandangan ini tentunya berlawanan dengan yang Yesus lakukan selama hidup-Nya di dunia. Dia memberi dengan segenap hati dan tanpa melihat status—untuk orang berdosa, orang saleh, pesakit, bangsawan, nelayan, dan orang miskin. Tak hanya teladan sikap, Yesus juga mengajarkan pola pikir tentang memberi secara lisan:

“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” – Matius 25:40

Yesus ingin kita memberi seperti untuk Tuhan sendiri. Namun, barangkali Anda bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin saya bisa memberikan sesuatu untuk Tuhan, sementara yang menerima pertolongan saya adalah manusia?” 

Ketika Anda memberikan sesuatu kepada seseorang, anggaplah Anda sedang mengucap syukur kepada Tuhan, yang telah memberikan segalanya untuk Anda. Bersyukurlah karena kebutuhan Anda setiap hari masih dicukupkan. Ketika saya belajar bersyukur atas apa yang saya miliki, saya mulai bisa melihat kebutuhan orang lain di sekitar. Saya memikirkan hal-hal yang dapat menyenangkan hati Tuhan, bukan hanya hati saya sendiri.

Tantangan pasti ada, terutama dalam hal memberi kepada orang yang tidak kita sukai. Di saat seperti ini, rasanya kepingin kikir saja, ya? Namun, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah pelit kepada kita. Dia selalu mencukupkan kebutuhan Anda dan saya, dan tak jarang, menolong kita melalui orang lain. Dengan pemikiran ini, Anda dapat lebih mudah membantu orang lain. 

Memberi dengan Bijaksana

pelit - gkdi 3

Sering kali kita bersikap pelit dengan alasan “saya tidak punya uang,” atau “saya tidak punya waktu.” Hal-hal semacam ini menjadi pembenaran bagi kita untuk bersikap kikir.

Pertanyaannya, apakah “memberi” berarti memberikan segala yang kita miliki sampai kita tidak memiliki apa pun? Tentu tidak, bukan? Tuhan ingin kita memberi dengan bijaksana. Mari melihat apa kata Alkitab mengenai hal ini.

“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” – Lukas 14:28

Melalui ayat ini, saya belajar alangkah baiknya jika kita merencanakan segala sesuatu yang hendak kita capai. Ketika saya baru mulai belajar memberi, yang tertanam dalam benak saya adalah “saya tidak boleh terlihat pelit.” Namun, yang terjadi kemudian malah keuangan pribadi saya jadi berantakan. Ini tentunya bukan langkah yang bijak, tetapi kabar baiknya, kita tetap bisa memberi dengan perencanaan.

Contohnya, dalam hal keuangan, Anda bisa menyisihkan sekian persen dari pendapatan Anda untuk membantu orang yang sekiranya membutuhkan. Dengan kata lain, uang yang Anda berikan berasal anggaran yang telah dialokasikan. Dalam hal waktu, Anda bisa menyusun jadwal kegiatan Anda dalam sehari, seminggu, bahkan sebulan. Jadi, Anda tahu kapan saja slot waktu yang bisa diberikan untuk orang lain. 

Dengan berencana dan mempersiapkan hal-hal yang diperlukan, Anda dapat memberi dengan tulus dan bijak. Sukacita Anda pun tidak tercuri, karena kebutuhan dan tanggung jawab Anda tetap bisa dipenuhi dengan baik. 

Saudara-saudari terkasih, ingatlah bahwa Tuhan tidak ingin kita menjadi pribadi yang pelit. Oleh karena itu, berjuanglah memberi buat Tuhan dengan belajar mengatur hal-hal yang dapat Anda berikan dengan baik, dan jangan khawatir akan hidup Anda. Percayalah, memberi lebih indah daripada menerima. Amin!

Gereja GKDI terdapat di 35 kota di Indonesia. Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), Diskusi Alkitab, membutuhkan bantuan konseling, ingin mengikuti ibadah minggu atau kegiatan gereja lainnya, silahkan mengisi form di bawah ini.

[wpforms id=”11767″]

Jika Anda memiliki pertanyaan atau membutuhkan informasi lainnya, silahkan menghubungi kami melalui WhatsApp 0821 2285 8686 berikut.

Nikmati playlist lagu rohani kami di link berikut: http://bit.ly/gkdi-music

Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:

Website: https://gkdi.org
Facebook: https://www.facebook.com/GKDIOfficial/
Instagram: https://www.instagram.com/gkdiofficial/
Blog: https://gkdi.org/blog/
Youtube: https://bit.ly/yt-gkdi
Whatsapp: https://bit.ly/gkdi-wa

Video Musik: