Menikah adalah keputusan penting ketika kita merasa sudah menemukan pasangan terbaik untuk mendampingi kita seumur hidup. Saat menikah di usia 27 tahun, disertai persiapan mental, spiritual, dan material yang baik, saya landaskan keputusan itu pada firman Tuhan di Kejadian 2:18: TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Di sisi lain, tak sedikit pasangan yang lebih fokus pada pesta pernikahan yang berakhir sehari saja. Menjelang hari bahagia, Anda dan pasangan akan disibukkan oleh banyak hal. Mulai dari menentukan tempat acara, dekorasi, menu makanan, pakaian pengantin, hingga menyusun daftar tamu undangan. Masalahnya, apakah persiapan detail dan pesta mewah akan menjamin pernikahan Anda bahagia selamanya?

Sebelum mengikat janji sehidup-semati, periksalah apakah Anda dan pasangan sudah memiliki lima elemen penting yang akan memperkuat pernikahan Anda. Kelima elemen itu adalah:

1. Saling Bangun Hidup Rohani

Hal terpenting yang perlu disiapkan sebelum menikah adalah tubuh rohani Anda dan pasangan. Kebahagiaan rumah tangga tidak datang dengan sendirinya, tetapi butuh usaha. Dengan hidup kerohanian yang kuat, Anda akan merasa lebih aman di dalam Tuhan. Tanpa dasar rohani yang benar dan kokoh, pernikahan Anda akan rapuh. 

Untuk itu, lakukan hal-hal berikut untuk membangun hidup rohani Anda dan pasangan:

  • Cintai Tuhan dan Firman-Nya

Seberapa baik kalian mengenal Tuhan dan firman-Nya? Semua dasar rumah tangga yang akan kalian bangun ada di dalam firman Tuhan. Jika Anda dan pasangan tidak mencintai Tuhan, mungkinkah kalian mau berpegang pada ajaran dan perintah-Nya? Bagaimana kalian akan mendidik anak-anak yang kelak dipercayakan oleh Tuhan?

  • Setia di dalam Tuhan

Kalau pasangan Anda setia dengan Tuhan yang tidak kelihatan, dia pasti akan setia kepada Anda, dan demikian pula sebaliknya. Dengan kesetiaan, Anda dan pasangan takkan mudah goyah oleh pengaruh luar ketika ada masalah dalam hubungan.

  • Takut akan Tuhan

Banyak masalah dalam pernikahan terjadi karena tidak adanya rasa takut akan Tuhan. Jika Anda khawatir pasangan Anda berbohong, selingkuh, atau melakukan kekerasan karena tidak ada Tuhan yang dia takuti, pertimbangkan kembali keputusan Anda untuk menikah. Pastikan Anda dan pasangan sama-sama punya sikap takut akan Tuhan sebelum memasuki hidup pernikahan.

  • Hidup dalam Persekutuan

Apakah Anda bisa menjamin hidup kerohanian Anda dan pasangan akan kuat selama-lamanya, tanpa bantuan orang lain? Persekutuan dalam komunitas rohani akan membantu Anda dan pasangan untuk senantiasa berpegang pada ketiga poin di atas. Selain itu, kalian juga akan lebih semangat menjalani hidup pernikahan karena adanya dukungan dari pasangan-pasangan lain.

2. Saling Terbuka

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. – Yakobus 5:16

Bagaimana jika pasangan Anda punya satu rahasia besar yang dia simpan rapat-rapat, yang saat terungkap akan membuat pernikahan Anda hancur seketika?

Saya dan pasangan pernah mengalaminya. Kami sama-sama menyembunyikan masalah kami karena alasan sederhana: tidak ingin saling melukai. Sekilas, tampaknya ini adalah pilihan terbaik. Namun, ketika salah satu dari kami mengetahui rahasia tersebut dari orang lain, badai besar melanda bahtera rumah tangga kami. Hubungan yang awalnya hangat dan mulus berubah sangat dingin dan kaku—hanya karena kami tidak mau mengambil risiko untuk saling terbuka sejak awal.

Keterbukaan memang tidak mudah, dan pasti punya risiko terhadap hubungan itu sendiri.  Dengan terbuka, Anda mungkin akan dicela atau dihakimi. Namun, percayalah, jujur pada pasangan jauh lebih baik dari pada menyimpan luka yang tidak akan tertutup selamanya. 

3. Pahami Bahasa Kasih Pasangan

Ketahui bahasa kasih pasangan agar Anda dapat memenuhi kebutuhannya. Menurut buku 5 Bahasa Kasih karya Gary Chapman, ada lima jenis bahasa kasih, yaitu:

  • Pujian (Words Of Affirmation)
  • Waktu berkualitas (Quality Time)
  • Hadiah (Receiving Gift)
  • Tindakan (Acts of Service)
  • Sentuhan (Physical Touch)

Setiap pribadi punya bahasa kasihnya masing-masing. Ada orang yang merasa dikasihi ketika diberi pujian ataupun kata-kata semangat. Ada yang bersukacita kalau Anda menghabiskan waktu bersamanya. Ada yang merasa disayang ketika diberi hadiah, sekecil apa pun nilainya. Ada orang yang merasa dicintai saat Anda melayaninya. Dan, ada pula yang bersukacita jika Anda memberinya pelukan hangat. 

Memahami bahasa kasih pasangan akan membantu Anda membangun pernikahan yang kuat, terutama dalam penyelesaian konflik dan pemenuhan kebutuhan kasih.

4. Belajar Atur Keuangan

“Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?” – Lukas 14:28  

Pada awal pernikahan, banyak suami yang berjanji akan menyerahkan pengaturan keuangan kepada istrinya. Tak sedikit pula istri yang berjanji akan mengelola keuangan keluarga dengan baik. Pada kenyataannya, tidak semua bisa berjalan sesuai harapan. 

Anda dan pasangan perlu memikirkan dan berdiskusi mengenai anggaran rumah tangga. Keuangan keluarga bukan hanya milik Anda sendiri, melainkan juga pasangan Anda. 

Berikut beberapa tips untuk mengatur keuangan keluarga:

  • Susun Anggaran Belanja

Setelah menikah, Anda tidak hanya memikirkan kebutuhan pribadi saja, tetapi juga kebutuhan pasangan. Siapkan bujet rutin, seperti biaya listrik, kontrak/cicil rumah, telepon, air, dan lain-lain. Jika anggaran ini sudah terbayarkan, Anda atur hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti makanan, biaya sekolah anak, iuran lingkungan, dan sebagainya.

  • Sisihkan 10% Pendapatan untuk Ditabung

Sangat penting bagi Anda dan pasangan untuk memiliki tabungan untuk menunjang masa depan dan kebutuhan darurat. Sisihkan sedikitnya 10% dari penghasilan Anda untuk tabungan. Akan lebih baik lagi jika Anda bisa menabung lebih dari itu. Jika kalian punya impian untuk investasi atau membeli sesuatu yang besar, seperti rumah atau kendaraan pribadi, bersiaplah mengencangkan ikat pinggang dan hindari pengeluaran yang tidak penting.

  • Hindari Utang Sebisa Mungkin

Zaman sekarang, ada banyak promosi pinjaman yang menggiurkan, terutama kartu kredit. Jika Anda ingin membuat kartu kredit, sebaiknya pikirkan juga tentang bunga dan pembayaran cicilannya. Apakah masih bisa ditanggung oleh anggara belanja (poin 1)? 

5. Konseling Pernikahan

Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak. – Amsal 15:22 

Sadar atau tidak sadar, menikah punya pengaruh besar terhadap aspek psikologis seseorang. Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga mampu mengubah karakter Anda dan pasangan. Inilah sebabnya kita membutuhkan konseling pernikahan. 

Saya bersyukur karena di komunitas GKDI ada banyak pribadi yang membantu saya dan pasangan terkait konseling pernikahan. Konseling ini sangat bermanfaat ketika kami mulai buntu dalam usaha mencari solusi masalah dalam hubungan. Dan, kami tidak hanya mendapat konseling saat sedang bermasalah saja. Kami dibantu dalam hal-hal di mana kami harus bertumbuh dan belajar membangun pernikahan yang sehat.

Menjelang pernikahan, dan bahkan bertahun-tahun setelahnya, Anda dan pasangan perlu terus saling membangun hidup rohani, bersikap terbuka, memahami bahasa kasih, mengatur keuangan, dan mengikuti konseling pernikahan. Dengan pernikahan yang kuat dan sehat, Anda dan pasangan bukan hanya memperoleh kebahagiaan, melainkan juga menggenapi rencana Tuhan. Amin!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: