Tahukah Anda apa yang membedakan courage (keberanian), confidence (keyakinan), dan faith (iman)?

Ketika seorang anak kecil jatuh ke kolam renang yang dalam, seorang atlet renang tanpa ragu akan segera melompat ke air dan menyelamatkannya. Itulah yang disebut confidence.

Ketika Anda satu-satunya orang yang berada di dekat anak itu, dan untuk sesaat lupa Anda tidak bisa berenang atau pernah tenggelam, dan spontan lompat ke air untuk menyelamatkannya: itulah keberanian.

Lalu, bagaimana dengan iman?

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. – Ibrani 11:1

Iman berbeda dengan keyakinan maupun keberanian. Iman adalah keyakinan dan pengharapan kepada Tuhan, meskipun buktinya tidak ada dan tak bisa dilihat. Kendati demikian, orang yang punya iman tentunya akan punya confidence dan courage untuk melakukan hal benar yang Tuhan kehendaki.

Pribadi yang beriman selalu menggerakkan hati Tuhan. Lantas, iman seperti apa yang Tuhan inginkan dari kita sebagai orang Kristen? 

Iman yang Besar

Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” – Matius 8:10 

Seorang perwira Roma mendatangi Yesus untuk minta pertolongan-Nya menyembuhkan hambanya yang sakit parah. Namun, ia mencegah Yesus datang ke rumahnya karena percaya Yesus sanggup menyembuhkan hambanya melalui kata-kata, tanpa melihat dan menjamahnya. Perwira ini percaya jarak tidak menghalangi kuasa Yesus.

Sebagai orang yang mengaku percaya Yesus, apakah iman Anda dalam mengatasi pergumulan hidup sebesar iman perwira Romawi itu? Atau, Anda ingin Tuhan membuktikan dulu kuasa-Nya, baru Anda akan percaya kepada-Nya? Ketika ini terjadi, sesungguhnya Anda telah kehilangan iman. Anda tidak yakin janji-janji Tuhan di dalam Alkitab akan Anda peroleh. Karenanya, Anda khawatir, panik, dan mempertanyakan keberadaan Tuhan. 

Jika ini yang Anda alami, berdoalah agar iman Anda dikuatkan. Bacalah ayat-ayat atau kisah tokoh Alkitab yang akan menguatkan Anda dan memberi harapan baru. Mintalah doa dari teman-teman seiman. Jangan putus asa dan terjebak dalam kekhawatiran, tetapi raihlah kembali keyakinan Anda kepada Tuhan.

Iman yang Diperbaharui

Rahab adalah seorang perempuan sundal yang tinggal di Yerikho. Seseorang yang kedudukannya tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Namun, hari itu, ketika ia menolong dua pengintai Israel yang memasuki negerinya (Yosua 2), Rahab mengambil keputusan. Ia yakin itulah saat yang tepat untuk keluar dari kehidupan lamanya dan membangun hidup baru, dengan iman yang baru.

“… bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.” – Yosua 2:13

Tahu bahwa Yerikho akan jatuh akan jatuh ke tangan Israel, Rahab meminta kedua pengintai itu untuk menjamin keselamatan keluarga dan sanak-saudaranya. Ia tidak bersikap egois, ingin menyelamatkan diri sendiri saja. Setelah para pengintai itu pergi, Rahab mengikatkan tali kirmizi di jendela sesuai perintah mereka—tanda bahwa ia dan keluarganya akan diselamatkan pada hari tembok Yerikho diruntuhkan (Yosua 2:18).

Sementara bangsa Israel bersiap menyerang kota Yerikho, Rahab memandangi tali kirmizi yang terikat di jendelanya. Setiap kali ia dicekam keraguan, tali kirmizi itu mengingatkannya akan keselamatan yang telah dijanjikan kepadanya dan kaum keluarganya. 

Ketika iman Anda lemah, hal-hal apakah yang dapat mengingatkan Anda akan kasih setia Tuhan? Apakah Anda memperbaharui iman Anda setiap kali Anda ragu? Jika belum, belajarlah untuk mengingat dan mensyukuri penyertaan Tuhan atas hidup Anda selama ini. Berdoalah, baca firman, dan mintalah dukungan dari saudara-saudari seiman Anda. 

Iman yang Sejati

Nebudkanezar, raja Babel, membangun sebuah patung emas setinggi 60 hasta (kurang lebih 27 m) dengan lebar 6 hasta (sekitar 2,7 m). Setelah menasbihkannya, ia memerintahkan semua orang untuk sujud menyembah patung itu. Barangsiapa menolak akan dicampakkan ke dalam perapian (Daniel 3:1-6).

Namun, tiga pembesar kerajaan asal Yahudi, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, tidak menuruti perintahnya, sehingga dikirim ke perapian.

Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” – Daniel 3:16 

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menunjukkan iman yang sejati. Untuk itu, mereka rela menderita dan mati dibakar. Kalaupun iman mereka ternyata bertepuk sebelah tangan, mereka tidak menyesali keputusan mereka. Pada akhirnya, ketiganya keluar dari perapian tanpa terluka sedikit pun, dan Nebukadnezar memberi mereka kedudukan tinggi dalam pemerintahan.

Iman seperti apakah yang Anda miliki saat ini? Apakah iman yang,  “Jika … / bila Tuhan …, saya baru akan beriman.” Atau, “Saya beriman karena ….”

Marilah kita menjadi pengikut Kristus seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang percaya dan punya pengharapan penuh di dalam Tuhan.

Iman yang Mau Dibantu

Seorang ayah membawa anaknya yang sering kerasukan sejak kecil. Roh jahat itu membanting tubuhnya ke tanah, membuat ia kejang-kejang dengan mulut berbusa dan gigi berkeretak. Murid-murid Yesus telah mencoba mengusir roh tersebut, tetapi gagal (Markus 9:17-18).

Ketika Yesus turun tangan, roh itu kembali membuat tubuh anak itu terguncang-guncang. Ayah anak itu berkata:

“Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” – Markus 9:22

Mendengar perkataannya, Yesus pun menegurnya:

“Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” – Markus 9:23

Dan, respon sang ayah adalah: 

Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” – Markus 9:24 

Ayah anak itu dengan jujur mengakui bahwa ia tidak beriman dan memohon agar Yesus menolongnya. Yesus pun menghargai pengakuannya dan menyembuhkan anaknya.

Kapan terakhir kali Anda mengakui bahwa Anda kehilangan iman, dan memohon bantuan agar bisa kembali beriman? Apakah Anda telah putus harapan terhadap hidup Anda? Anda merasa gagal, tidak bisa berubah, bahkan tak lagi percaya kepada Tuhan? Segeralah cari bantuan, supaya Anda bisa kembali merasakan kuasa iman yang menyembuhkan Anda!

Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. – Ibrani 11:6

Iman membuat kita berkenan di hadapan Tuhan. Tanpa iman, tak seorang pun bisa datang kepada-Nya. Iman seperti apakah yang Anda miliki saat ini? Apakah Anda ingin punya iman yang besar, iman yang sejati, iman yang diperbaharui, atau iman yang mau dibantu? Tuhan menghargai iman Anda, sekecil apa pun itu. Mari, hiduplah dengan keyakinan penuh kepada-Nya!

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: