Iman Kristen: Iman untuk Berjalan di Atas Air – Bagian 2

Iman Kristen 2: Mengapa engkau bimbang? (Matius 14:22-33)

Penting untuk diingat bahwa hal ini terjadi setelah Yesus mengetahui sepupunya Yohanes Pembaptis telah dipenggal.

Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Perintahkan aku

Ada banyak makna di bagian ini tentang iman Kristen—kuasa dalam perkataan Yesus, serta secercah pemahaman di benak Petrus. Kita akan berfokus pada kata-kata Petrus: ”Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”

“Suruhlah aku” dapat juga diartikan sebagai “perintahkan aku.”

Kita tahu bahwa Petrus menyadari hal itu. “Jikalau ini benar-benar Yesus dan bukan sesosok roh jahat … Kalau Yesus memerintahkan, maka itu akan terwujud! Jadi, mungkin saja …” Demikianlah, Petrus pun mengajukan permohonannya.

Yesus memberi perintah: “Datanglah.” Dan, Petrus menaruh imannya di dalam tindakan. Dia turun dari kapal dan mulai berjalan! Di atas air!

Ternyata, bukan hanya perintah Yesus semata yang menjaga Petrus di atas permukaan air. Iman Petrus sendiri merupakan unsur penting lainnya. Ketika iman Petrus goyah, begitu pun kemampuannya berjalan di atas air. “Hai, orang yang kurang percaya,” kata Yesus, “mengapa engkau bimbang?”

iman kristen bimbang

Iman Kristen 3: Iman untuk berjalan di atas air pada masa kini (Penerapan Matius 14:22-33)

Glenn Petruzzi adalah seorang murid Yesus dengan iman Kristen luar biasa. Beberapa tahun lalu, dia mencoba berjalan di atas air di hadapan seluruh peserta camp praremaja New England. Dia tidak berhasil, dan mengira masalahnya terletak pada kurangnya iman yang dia miliki. Sebenarnya tidak juga. Saya percaya dia punya tipe dan kedalaman iman yang sama dengan yang Petrus miliki.  

Lantas, unsur apa yang hilang?

Tanpa Yesus yang memberikan perintah kepada manusia untuk melakukan hal yang mestinya mustahil, tanpa kuasa-Nya untuk memutarbalikkan hukum fisika, Glenn tidak dapat berjalan di atas air. Tak ada catatan tentang Petrus melakukan hal itu lagi, sekalipun dia mengerjakan begitu banyak mujizat selepas kenaikan Yesus.

Berikut penjelasan tentang iman Kristen yang memampukan kita berjalan di atas air pada masa sekarang:

Apabila Tuhan telah mengatur sedemikian rupa agar Anda berada di perahu yang sama dengan Petrus dan para rasul lain (abaikan kemustahilan situasinya, anggaplah itu benar-benar terjadi), maka ketika Petrus berkata, “Suruhlah aku datang kepada-Mu …” apakah Anda akan berkata, “Yesus, bolehkah saya juga datang kepada-Mu?”

Ada banyak murid Yesus lain di perahu itu, yang sangat berkomitmen dan luar biasa. Namun, tak satu pun menanyakan hal itu kepada-Nya.

Berikut dua aspek penting dalam memahami iman untuk berjalan di atas air:

  • Iman untuk meminta kepada Allah atau Tuhan Yesus atau Roh Kudus
  • Iman untuk bertindak atau tekun menyelesaikan sampai akhir

Beberapa orang perlu bertumbuh dalam iman untuk paham bagaimana cara meminta hal-hal penting dan rohani kepada Tuhan, baik yang terkait perubahan maupun pengertian. Saat meminta, kita harus menghindari keraguan. Ketika kita melihat adanya peluang dari Tuhan, kita perlu menaruh iman di dalam tindakan.

Iman Kristen 4: Iman sebesar biji sesawi (Markus 4:30-32)

Kata-Nya lagi: “Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Sebutir biji sesawi tidak peduli pada penampilan luarnya. Tuhan mengaruniakannya kemampuan untuk tumbuh menjadi pohon yang sangat besar, yang meningkatkan kualitas hidup burung-burung serta makhluk lain yang bernaung di dalamnya.

Karena Tuhan menanggapi sikap iman kita, karena doa kita berharga bagi-Nya, apapun tampilan luar kita takkan memengaruhi apa yang dapat kita peroleh atau berkat yang menanti kita.

Bersambung ke Iman Kristen: Iman untuk Berjalan di Atas Air – Bagian 3

* Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait: Panduan Doa Kristen Menurut ‘Doa Bapa Kami’

Video terkait: