Written by 9:17 am Campus, Campus' Good News & Event, Golden Age (PIWA), Married, Married's Good News & Event, Ministries, PIWA's Good News & Event, Single, Single's Good News & Event, Teens, Teens' Good News & Event

Ibadah Minggu dan Leaders Meeting oleh Ed Anton

Melalui Tuhan kita mendapat kuasa yang luar biasa. Efesus 1:19 mengatakan bahwa kita memiliki kuasa yang melebihi apapun yang ada di dunia ini, karena kuasa itu adalah kuasa yang sama seperti kepunyaan-Nya. – Ed Anton

Minggu, 20 Juli kemarin, jemaat Jabodetabek diberkati oleh kedatangan seorang guru dari Amerika. Ed Anton adalah pemimpin jemaat di Hampton Roads, Virginia. Dia juga merupakan guru di Teachers Service Team dalam ICOC Cooperation dan berperan sebagai pembimbing untuk 25 gereja di wilayah regional Commonwealth (Virginia, Kentucky, Massachusetts, Pennsylvania). Brother Ed datang bersama istrinya Debby untuk memberi pelajaran dan berkhotbah di ibadah Minggu.

Mereka berdua datang pada hari Kamis. Dua hari pertama mereka habiskan dengan spendtime bersama pelayan-pelayan jemaat Jabodetabek. Pada hari Sabtu, mereka memberikan training kepada pelayan dan menyempatkan diri mengajar di kelas S.O.M. (School of Mission). Mereka mengajar tentang sejarah gereja dan redemptive context dalam membaca Alkitab, yaitu dimana kita mencoba melihat unsur Tuhan di setiap cerita yang ada di Alkitab.

Ed Anton dalam kelas School Of Mission

Sunday Service

Pada hari Minggu Ed membawakan khotbah di kedua ibadah. Khotbahnya diberi judul “Its nine oclock somewhere”Dia menjelaskan bahwa “Its five oclock somewhere” adalah ungkapan yang dipakai orang di Amerika ketika mereka ingin beralasan untuk minum alkohol saat jam kerja. Lalu mengapa nine (sembilan)? Dia memulainya dengan menjelaskan bahwa ada persamaan yang cukup menarik ketika mabuk dan dipenuhi oleh roh kudus.

“It’s nine o’clock somewhere”

Efesus 1:19 mengatakan bahwa kita mendapat kekuatan yang besar. Kekuatan yang besar ini dapat kita gunakan ketika kita mengerti tentang Roh Kudus, dan ketika kita membiarkan Roh itu bekerja dalam kehidupan kita.

Dalam buku Kisah Para Rasul 2:4-15 diceritakan bahwa murid-murid menerima Roh Kudus. Mereka mulai berkata-kata dalam bahasa asing dan orang-orang disana menyangka mereka mabuk, namun waktu itu baru pukul 9. Ed memberikan suatu perumpamaan:

Apa yang terjadi ketika seorang sahabat anda yang merupakan orang asing tiba-tiba dapat berbicara bahasa anda? bagaimana reaksi anda? Apakah anda akan kagum atau berpikir bahwa dia mabuk? Tentu saja tidak mabuk! anda akan mendengar apa yang dia katakan!

Ed menjelaskan, ketika seseorang mabuk seseorang tidak menjadi dirinya sendiri. Dia akan melakukan hal-hal yang dia tidak akan pernah dia lakukan ketika dia sadar. Hal ini disebabkan oleh bagian Pre-Frontal Cortex dari otaknya akan berhenti mengirimkan sinyal tanda bahaya ketika seseorang sedang mabuk. Dia menjadi berani bahkan nekat.

 

Ketika kita dipenuhi oleh Roh Kudus kita akan memiliki sifat yang sama. Kita akan berani melakukan hal-hal yang kita tidak berani lakukan. Kita akan terbuka, kita akan berbicara dengan dalam, kita akan lebih terlihat bersukacita. Kita akan berani untuk menyebarkan kabar baik tentang Yesus. Kita tidak akan menahan diri kita. Dia mengambil kutipan Philo dari Alexandria yang mengatakan:

“Jika kasih karunia memenuhi jiwa, orang tersebut akan bersuka ria dan tersenyum dan menari, sehingga dihadapan orang lain dia mungkin akan terlihat seperti sedang mabuk.” – Philo of Alexandria 40AD

Ed menantang kita untuk menyadari potensi kuasa yang besar tersebut dan menjelaskan bahwa Roh Kudus seharusnya dapat membuat kita untuk berani (Bold), terbuka (vulnerable), dan hangat (warm). Ia menutup khotbahnya dengan memberikan jemaat dua pertanyaan yang harus kita jawab setiap hari:

– Bagaimana Roh memimpin saya hari ini?
– Bagaimana Roh memuaskan saya hari ini?

“Tanyakan pertanyaan ini kepada diri anda…”

“Its nine oclock somewhere”, beritakan Firman, biarkanlah Roh Kudus bekerja setiap hari dan setiap saat!

 

Leaders Meeting

Pada jam 2 siang Ed kembali untuk memberikan pelajar kepada para pemimpin. Dia memberi judul pelajarannya Deliberate Discipleship atau Pemuridan yang Disengaja. Dimulai dengan Matius 28:19-20 ia mengingatkan bahwa Yesus dari awal misinya hingga dia dipanggil memakai setiap kesempatanNya untuk membimbing muridnya dengan tujuan yang jelas.

Dia juga menjelaskan kata Yunani yaitu Telos yang dipakai di Kolose 1:28, bukan menjelaskan surga namun tujuan dari pertumbuhan kita. Sama seperti Yesus, Paulus sangat memperjuangkan apa yang seharusnya jemaat dapatkan yaitu pertumbuhan.

Ed melanjutkan pelajaran ke buku 1 Timotius 4:15. Dia menjelaskan bahwa konsistensi ditambah intensitas akan menghasilkan sesuatu

Konsistensi + intensitas = hasil

Untuk mencapai hasil itu, Ed memberikan rumus selanjutnya. Rumus ini adalah P.D.I.A atau Plan (rencanakan), Do (lakukan), Inspect (evaluasi), Adjust (sesuaikan). Dia menantang kita untuk selalu melihat rumus ini ketika memuridkan.

P.D.I.A

Ia melanjutkan dengan membuka buku 2 Korintus 3:18. Ia mengatakan bahwa dalam pelatihan kita perlu fokus kepada kekuatan, bukan kelemahan. Kita sudah diberikan talenta, namun kita harus melatihnya. Setelah itu, bagaimana memakai kekuatan itu untuk akhirnya memberikan keuntungan bagi tubuh Kristus. Dia memberikan list kekuatan-kekuatan yang bisa dipakai untuk memberikan manfaat dalam tubuh serta diagram yang membantu kita untuk mengerti dimana posisi kita dalam pelayanan.

Kekuatan apa yang kita miliki? Bagaimana kekuatan itu dapat membantu Tubuh Kristus?

Terakhir, Ed membahas tentang dosa. Walaupun kita harus fokus untuk menggunakan kekuatan kita, kita tidak boleh untuk kompromi akan dosa. Ed menjelaskan kita perlu mempunyai 3 hal:

Hand = Keinginan untuk membantu

Heart = Bertanya kepada mereka mengapa mereka melakukannya, apa yang ingin mereka dapat dari dosa itu, dan apakah dosa merupakan cara terbaik untuk mendapatkannya.

Head = memberikan ayat untuk menunjukan apa yang Tuhan kehendaki, dan bagaimana dosa adalah hal yang keji dimataNya.

Hand, Heart, Head

Ed menutup pelajaran dengan mengatakan bahwa sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki pengetahuan akan ayat Alkitab yang cukup untuk membantu orang semakin dekat dengan Tuhan. Pelajaran berakhir pada pukul 4.30 PM, Jemaat berbondong-bondong mengerumuni Ed dan Debby untuk berterima kasih atas pelajaran yang diberikan.

Artikel terkait: A Leap in Science, A Step of Faith – Spiritual Workshop oleh Dan Zachary

 

(Visited 74 times, 1 visits today)

Last modified: Aug 26

Close