“I love you” adalah kalimat yang tak asing bagi dua insan yang sedang jatuh cinta. Seperti petikan lirik lagu, “Jatuh cinta, berjuta rasanya,”  memang betul, jatuh cinta biasanya hadir dengan sejumlah gejala: detak jantung jadi tak keruan saat bertemu si dia, senyum-senyum sendiri, selalu ingin bertemu, dan semangat melakukan apa pun asal bersamanya.

Bagaimana halnya dengan cinta kita kepada Tuhan? Mungkin ada di antara kita yang tidak yakin mengapa harus mencintai Tuhan. Atau, kita ragu pada seberapa besar Tuhan mencintai kita. Untuk memahami hal ini, mari kita belajar perbedaan kasih Allah dan kasih manusia.

I Love You

Bicara tentang mengekspresikan cinta, setiap orang punya cara berbeda untuk mengungkapkannya.

Ada dua tokoh Alkitab yang menyatakan dengan jelas bahwa mereka mengasihi Yesus, yaitu Daud dan Petrus. Bukan berarti hanya mereka yang mengasihi-Nya, tetapi ungkapan kasih mereka betul-betul diucapkan dan tertulis dengan jelas di dalam Alkitab.

Untuk pemimpin biduan. Dari hamba TUHAN, yakni Daud yang menyampaikan perkataan nyanyian ini kepada TUHAN, pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul. Ia berkata: “Aku mengasihi Engkau, ya TUHAN, kekuatanku!” – Mazmur 18:1

“Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” – Yohanes 21:15

Di Alkitab edisi bahasa Inggris, mereka mengucapkan, “I love you” kepada Yesus. Pertanyaannya, mengapa mereka mengatakan itu? 

Daud punya banyak pengalaman pribadi bersama Tuhan, serta hubungan yang sangat dekat dengan-Nya. Di kitab Mazmur, terlihat jelas suara hati Daud yang selalu mengharapkan pertolongan Tuhan. Dalam Mazmur 18:1 tertulis bahwa ia mengasihi Tuhan karena Tuhan telah melepaskannya dari cengkeraman musuh-musuhnya. 

Di sisi lain, pertanyaan Yesus kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” diajukan setelah Yesus bangkit dan setelah Petrus menyangkal-Nya tiga kali menjelang peristiwa penyaliban. Dalam hal ini, Yesus ingin Petrus mengerti satu hal: bahwa Dia tetap mengasihi Petrus, tetap memilihnya untuk menggembalakan domba-domba-Nya, sekalipun Petrus telah berdosa dengan menyangkal-Nya. Kasih Yesus menjadikan Petrus seorang pengikut setia, yang berani mati untuk Tuhan. 

Ada pula tokoh Alkitab yang tidak secara tersurat berkata kepada Tuhan, “I love you,” tetapi menunjukkan dirinya mengasihi Tuhan lewat tindakan. Salah satunya adalah Paulus. Dengan mengasihi jemaat Tuhan, Paulus menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengasihi Yesus. 

I Have Loved You

Manusia hanya bisa berkata, “I love you,” tetapi hanya ada satu sosok yang mampu berkata, “I have loved you,” yaitu Tuhan.

“I have loved you,” says the Lord. – Malachi 1:2 NIV 

(“Aku mengasihi kamu,” firman TUHAN. – Maleakhi 1:2)

The Lord appeared to us in the past, saying: “I have loved you with an everlasting love; I have drawn you with unfailing kindness.” – Jeremiah 31:3 NIV

(Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” – Yeremia 31:3)

Ada perbedaan signifikan antara “I love you” dan “I have loved you.” Kalimat “I have loved you” ditulis dengan present perfect tense, yaitu gramatika untuk kejadian di masa lampau yang masih terjadi sampai sekarang. Artinya, kasih Tuhan tidak berkesudahan. Dia sudah mengasihi kita sejak zaman dahulu, dan tetap mengasihi kita hingga sekarang. 

Allah telah mengasihi kita sejak kita masih berdosa. Ketika kita masih mempertanyakan keberadaan-Nya; membenci-Nya karena hal buruk terjadi pada kita atau orang-orang yang kita kasihi; atau saat kita masih hidup sesuka hati. Bahkan, Dia rela mati di kayu salib di saat kita masih berdosa dan masih menjadi musuhnya (Roma 5:10).

“I love you” berarti kita bisa mengasihi Tuhan karena apa yang sudah Dia berikan kepada kita. Contohnya, berkat, mukjizat, kesembuhan, atau kebaikan yang pernah kita terima. Perasaan cinta kepada Tuhan muncul karena kita merasakan kebaikan-Nya. 

Lantas, bagaimana jika hal buruk terjadi? Saat doa-doa kita tidak dijawab Tuhan? Atau, ketika hidup terasa makin berat karena mengikut Yesus? Masihkah kita berkata, “I love you” kepada Tuhan?

Respon Terhadap Kasih Tuhan

Bagaimana respon kita terhadap Tuhan yang begitu mengasihi kita, bahkan sejak kita masih berdosa?

Aku telah menghapus segala dosa pemberontakanmu seperti kabut diterbangkan angin dan segala dosamu seperti awan yang tertiup. Kembalilah kepada-Ku, sebab Aku telah menebus engkau! – Yesaya 44:22  

Membaca ayat di atas membuat saya sangat terharu pada kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya. Tuhan telah memanggil dan menghapuskan segala dosa kita. Yang Dia inginkan adalah kita kembali kepada-Nya, karena Dia telah menebus segala kesalahan kita dengan darah-Nya yang mahal di kayu salib. 

Ini adalah cinta yang sempurna, yang takkan bisa kita temukan di dunia. Cinta yang sanggup mengasihi tanpa syarat dan ketentuan yang berlaku. Cinta yang bukan berasal dari mata turun ke hati, tetapi cinta yang rela menyangkal diri dan melayani manusia. 

Bersediakah Anda mencintai Dia yang telah mengasihi Anda dengan begitu sempurna?

Gereja GKDI saat ini terdapat di 35 kota. Kami memiliki kegiatan Pendalaman Alkitab di setiap wilayah, jika Anda membutuhkan informasi ataupun berkeinginan untuk terlibat didalamnya, hubungi kami di contact Gereja GKDI Official:

WhatsApp 0821 2285 8686 atau Facebook / Instagram GKDI Official

Artikel terkait:

Video inspirasi: