Written by Sui Ching 12:00 am Devotionals, Biblical Talk, Heart & Feeling, Self Development, Spiritual Life

Hati-Hati! 4 Hal ini Bukan Sumber Hidup Bahagia yang Sejati

Hidup Bahagia-gereja-gkdi cover

Gereja gkdi lagu

Setiap orang tentu ingin hidup bahagia dan tidak ada yang ingin menderita. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya dimanakah letak kebahagiaan itu? Hari ini begitu banyak orang mempertaruhkan segalanya demi hidup bahagia yang mereka impikan dan dambakan. 

Apakah selama ini kita mencari kebahagiaan di tempat yang tepat? Benarkah hal-hal yang kita pikir dapat memberi kebahagiaan adalah sumber kebahagiaan sejati? Berikut adalah cara pandang Salomo tentang hidup bahagia itu sendiri.

Kecerdasaan Bukan Jaminan Hidup Bahagia

Hidup Bahagia-gereja-gkdi 1

Aku berkata dalam hati: “Lihatlah, aku telah memperbesar dan menambah hikmat lebih dari pada semua orang yang memerintah atas Yerusalem sebelum aku, dan hatiku telah memperoleh banyak hikmat dan pengetahuan.” Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal ini pun adalah usaha menjaring angin.”  Pengkhotbah 1:16-17

Mungkin tanpa sadar, seringkali kita mengaitkan hidup bahagia dengan tingkat kepandaian atau kecerdasan seseorang. Seorang yang cerdas seringkali dianggap sukses dan hidup bahagia. Sementara seseorang yang memiliki kecerdasan yang biasa-biasa saja, secara sering dianggap hidupnya juga biasa-biasa saja. 

Faktanya tidak demikian. Kecerdasan tidak ada hubungannya dengan kebahagiaan seseorang. Dari sebuah artikel yang saya baca, ternyata ada beberapa alasan yang menyatakan bahwa orang cerdas sulit berbahagia. Beberapa diantaranya adalah:

  • selalu menganalisa segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya dan yang akan datang. Alhasil, mereka sulit bersantai.
  • memiliki standard yang tinggi terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Ketika standard mereka tidak terpenuhi mereka akhirnya mudah kecewa.
  • terlalu banyak berpikir karena terlalu tahu banyak.
  • mereka dituntut oleh orang-orang di sekelilingnya seperti keluarga, teman, kolega bahkan pasangannya, karena dianggap pandai. 

Tidak heran, Salomo, salah satu orang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi, mengatakan bahwa mengajar hikmat dan pengetahuan, adalah  usaha menjaring angin.

Karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.  Pengkhotbah 1:18

Menikmati Kesenangan Dunia Bukan Sumber Kebahagiaan Sejati

Hidup Bahagia-gereja-gkdi 2

Aku berkata dalam hati: “Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itu pun sia-sia.” Tentang tertawa aku berkata: “Itu bodoh!”, dan mengenai kegirangan: “Apa gunanya?” Pengkhotbah 2:1-2

Pernahkah Anda berpikir, hidup bahagia itu adalah ketika Anda bisa bersenang-senang menikmati kehidupan ini? Keluar masuk diskotik, gonta-ganti pasangan, pesta sana-sini, atau berlibur ke tempat-tempat yang disebut surga dunia? Ataukah itu merokok, minum minuman keras, dan hidup serba bebas?

Salomo pun pernah menguji kegirangan hatinya. Dia menikmati semua yang menjadi kesenangan hatinya. Bahkan di dalam Alkitab dikatakan, Salomo tidak merintangi matanya dari apa pun yang dikehendakinya dan tidak menahan hatinya dari sukacita apapun (Pengkhotbah 2:10).

Namun Salomo menyadari bahwa semua itu adalah sia-sia, kebodohan, dan tak ada gunanya.

Saya pun pernah berpikir, kebahagiaan itu adalah momen dimana saya bersenang-senang bersama teman-teman saya, seperti merokok dan bertemu teman-teman baru. Namun ketika malam, menjelang tidur, saya bertanya-tanya, “Kemanakah perginya bahagia itu? Mengapa hanya sekejap saya rasakan?” Sesaat kemudian, kembali saya temukan betapa kosong dan hampanya  hidup saya.

Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?  Pengkhotbah 2:22

Melakukan Hal yang Kita Suka juga Bukan Sumber Kebahagiaan Sejati

Hidup Bahagia-gereja-gkdi 3

Setiap orang pasti memiliki hobi atau passion yang membuat kita merasa bahagia ketika melakukannya. Ada kepuasan atau kebahagiaan tersendiri. Terlebih lagi jika Anda mahir atau berbakat di area yang Anda sukai tersebut

Mungkin Anda suka dengan anak-anak, dan Anda memilih menjadi seorang guru karena Anda mencintai dunia anak-anak. Atau Anda hobi berolahraga, berkebun, memelihara hewan, bermain musik, bermain games, memasak, menggambar, dan lain-lain.

Tentu tak ada yang salah dengan tersebut, karena itu kegiatan tersebut bukan sesuatu yang buruk atau negatif. Menyukai sesuatu hal dan hidup dengan passion juga dapat memberikan rasa puas dan bahagia ketika kita melakukannya. Tapi itu bukan sumber hidup bahagia yang sejati. Mengapa?

Dalam sekejap, apa yang tadinya kita suka, bisa jadi, karena satu dan lain hal, tidak kita sukai lagi. Jika Anda mencari dan meletakkan kebahagiaan dalam hal-hal ini, maka kebahagiaan Anda akan menguap dengan cepat. 

Inilah hal-hal yang dilakukan Salomo:

Aku melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, mendirikan bagiku rumah-rumah, menanami bagiku kebun-kebun anggur; aku mengusahakan bagiku kebun-kebun dan taman-taman, dan menanaminya dengan rupa-rupa pohon buah-buahan; aku menggali bagiku kolam-kolam untuk mengairi dari situ tanaman pohon-pohon muda. Pengkhotbah 2:4-6

Dan setelah melakukan semuanya itu, inilah kesimpulan Salomo:

Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. Pengkhotbah 2:11

Kekayaan Pun Bukan Ukuran Hidup Bahagia yang Sejati

Hidup Bahagia-gereja-gkdi 4

Lalu, bagaimana dengan kekayaan? Banyak orang merasa hidup bahagia hanya bisa diperoleh ketika mereka memiliki harta kekayaan berlimpah. Benarkah? 

Mari kita lihat apa yang dikatakan Salomo tentang harta kekayaan di dalam kitab Pengkhotbah:  

  • barang siapa mencintai uang, tidak akan pernah puas dengan  uang. Barangsiapa mencintai kekayaan, tidak akan pernah puas dengan penghasilannya (Pengkhotbah 5:10)
  • orang kaya, sekalipun kenyang, tidak bisa tidur nyenyak, karena banyak hartanya. Mungkin mereka lebih banyak rasa khawatirnya. Bahkan kekayaan bisa menjadi sumber malapetaka dalam hidupnya (Pengkhotbah 5:12-13)
  • ketika lahir, kita keluar dari dalam kandungan dengan telanjang, begitu juga ketika kita meninggal. Kita tidak membawa apapun yang telah kita peroleh di dunia ini (Pengkhotbah 5:15)
  • kekayaan dapat membuat seseorang hidup dalam kegelapan, kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan (Pengkhotbah 5:17)
  • kekayaan sering membuat orang lupa umur, lupa akan Tuhan, karena terlalu sibuk dengan hartanya (Pengkhotbah 5:20)

Dapat disimpulkan bahwa Salomo, raja yang sangat diberkati itu, sedang menyampaikan sebuah pesan, bahwa kekayaan pun juga adalah kesia-siaan. 

Tidak munafik, ke empat hal tersebut bisa saja memberi kita kebahagiaan. Namun kebahagiaan tersebut tidak kekal sifatnya. Rasa bahagia yang disebabkan oleh keempat hal di atas, dapat hilang dalam sekejap mata.

Lantas, adakah sumber kebahagiaan yang sejati? Adakah hal yang  dapat membuat hidup kita bahagia secara permanen? 

Sumber Kebahagiaan Sejati: Takut akan Tuhan

Hidup Bahagia-gereja-gkdi 5

Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat. Pengkhotbah 12:13-14

Ayat tersebut adalah ayat terakhir dari buku Pengkhotbah. Dapat dikatakan, apapun yang kita kejar saat ini, sudah dimiliki Salomo. Ia hidup bergelimangan harta kekayaan, terkenal dengan hikmatnya yang luar biasa, dan bahkan dapat menikmati segala kesenangan apapun yang dia inginkan. Namun, pada akhirnya, setelah ia mendapatkan semua itu, dia merasa semua itu adalah sia-sia. 

Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa kebahagiaan yang sejati, yang kekal, yang tidak akan sia-sia adalah hidup takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya. 

Pada akhirnya, kita semua akan mengalami kematian. Semua hal yang kita miliki tidak ada artinya, jika kita tidak takut akan Tuhan dan berpegang kepada perintah-Nya. Mengapa? Karena hal duniawi tersebut bersifat fana. Tidak dapat kita bawa ketika kita meninggalkan dunia. Satu-satunya yang dapat kita bawa adalah iman kita.  Itu pulalah yang akan menyelamatkan kita. 

Hidup bahagia yang sesungguhnya hanya ada di dalam Tuhan. Mari kita hidup dengan mata yang tertuju kepada Tuhan. Jangan terlena dengan hal-hal duniawi, apalagi menjadi hamba dari dunia ini.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempirnaan…  – Ibrani 12:2a 

Tuhan Yesus memberkati. 

Referensi: 

www.google.com/amp/s/www.learning-mind.com/fail-to-be-happy-intelligent/amp/

– 

Related Articles:

Gereja GKDI terdapat di 37 kota di Indonesia.
Jika Anda ingin mengikuti belajar Alkitab secara personal (Personal Bible Sharing), silahkan lihat lebih lanjut dalam video berikut:




Dan, temukan lebih banyak content menarik & menginspirasi melalui sosial media kami:
Website: https://link.gkdi.org/web
Facebook: https://link.gkdi.org/facebook
Instagram: https://link.gkdi.org/instagram
Blog: https://link.gkdi.org/Blog
Youtube: https://link.gkdi.org/youtube
TikTok: https://link.gkdi.org/tiktok
Twitter: https://link.gkdi.org/twitter
LinkedIn: https://link.gkdi.org/linkedin
Threads: https://link.gkdi.org/threads
Whatsapp: https://link.gkdi.org/whatsapp

(Visited 178 times, 1 visits today)

Last modified: Jun 20

Close