Hari ke-16: 31 Hari Dalam Doa

Ayat:

Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu. (Yak 4:1-3 – TB)

Renungan:

Karena itu amatilah, apa yang tersembunyi dan terselubung dalam kepura-puraan yang penuh semangat untuk Tuhan dan agama sering kali muncul dari kebanggaan, kedengkian, ketamakan, ambisi, dan balas dendam manusia.” –  komentar dari Matthew Henry
Kita jarang menganggap diri kita tamak atau bernafsu terhadap hal-hal duniawi. Kita jauh lebih cenderung mengaku akan dosa yang “nyaman”. Apa yang akhirnya terjadi adalah kita lupa bahwa kita rentan seperti orang lain terhadap keinginan dunia. Ini sudah pasti terjadi pada saya berkali-kali selama dua tahun saya melayani jemaat di Madrid, Spanyol. Seringkali saya merasakan keinginan untuk lebih banyak kenyamanan, lebih banyak uang, lebih banyak pengakuan, lebih banyak rasa hormat, dan untuk dihargai dan dihormati. Kita bahkan dapat menutupi keinginan-keinginan ini dengan selubung bersemangat untuk Tuhan sebagaimana kutipan oleh pernyataan Matthew Henry di atas. Kita mungkin tidak seperti orang Kristen cenderung mengakui dosa-dosa yang tidak dapat dilihat orang lain, tetapi kita tahu bahwa ini terjadi ketika ada “pertarungan dan pertentangan di antara kita.” Pertentangan bisa menjadi gejala dari jenis ketamakan dan penyembahan berhala.
Dalam kasus saya, apa yang akhirnya terjadi adalah saya dapat mulai mencari orang untuk disalahkan ketika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan atau apa yang saya pikir “saya pantas.” Saya dapat mengatakan dalam hati saya kepada Tuhan, “Lihatlah semua yang telah saya lakukan untuk-Mu. Bukankah saya pantas menerima ini?” Realitas dalam ayat di atas adalah bahwa kita dikuasai karena kita tidak membawa hal-hal ini di hadapan Tuhan atau membahas denganNya dalam doa. Jika kita bertanya kepada Tuhan, dan tetap tidak menerimanya, itu karena motif kita, itu karena hal tersebut tidak benar-benar baik untuk kita.
Saya percaya bahwa tidak pernah ada alasan untuk menyalahkan siapa pun atas hal-hal yang tidak kita miliki. Sekarang, saya menjadikannya sebagai kebiasaan ketika saya mulai merasa berhak atau bahwa saya “layak mendapatkan yang lebih baik” dari yang seharusnya, saya akan berdoa kepada Tuhan bukannya mencari seseorang untuk disalahkan. Sungguh menakjubkan apa yang terjadi selama doa saya: Saya juga menyadari bahwa saya tamak dan perlu untuk bertobat atau Tuhan memberikan saya apa yang saya minta karena, bagaimanapun, saya keluar sebagai pemenang di mata Tuhan dan itulah satu-satunya pengakuan yang saya butuhkan.

Tantangan:

Identifikasi hal-hal yang anda inginkan atau anda rasakan layak dapatkan (buat daftar) dan letakkan hal-hal itu di hadapan Tuhan dalam doa dan buatlah keputusan untuk tidak menyalahkan siapa pun karena tidak memiliki hal-hal itu. Setiap kali perasaan “berhak” muncul kembali, latihlah hal itu melalui berdoa. Biarkan Tuhan memberi anda hal-hal itu atau membantu anda melihat bahwa anda tidak membutuhkannya dan ingat kita tidak pernah memiliki alasan untuk menyalahkan orang lain atas hal-hal yang tidak kita miliki.

 

 

Diterjemahkan dari artikel “31 Days of Prayer: Day 16” oleh Patrick Genova